Business, Life, Minimalism

Saya adalah Single Tasker

Beberapa tahun lalu saya adalah seorang multitasker. Saya melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan (dan saya benci itu).

Belakangan saya tahu bahwa dari sononya pria itu adalah seorang single tasker. Apakah “teori” ini betul, saya tidak tahu.

Saya hanya merasakan bahwa saya tidak merasa nyaman dengan multitasking. Perlahan-lahan saya mulai belajar bagaimana menjalani hari-hari dengan single tasking. Yang terberat adalah meyakinkan sang istri untuk menerima perilaku saya yang kadang cuek dan menolak untuk melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Akhirnya ia pun sekarang bisa menerimanya.

Terus terang, mungkin saya ini egois. Saya ingin “menyelamatkan” diri sendiri di belantara hiruk pikuk kesibukan sehari-hari. Ego saya ini adalah untuk menjaga aset terbesar saya, yaitu “pikiran”. Saya ingin kedamaian pikiran dan hati menjadi nomor satu. Sebab, hati dan pikiran yang tenang akan memancarkan energi positif buat sekitar. Toh, pada akhirnya lingkungan juga yang merasakan energi positif ini. Saya jadi jarang marah, hampir selalu tenang. Ini akan bermanfaat ketika berhubungan dengan siapa pun.

Dalam memulai hari, biasanya saya memprioritaskan hanya 3 hal yang saya lakukan. Satu di antaranya adalah yang paling prioritas, yang lain prioritas lebih rendah. Misalnya, hari ini prioritas saya adalah ingin bertemu dengan teman-teman TDA untuk bermastermind di Citos (insya Allah akan hadir bintang tamu Mas Erbe Sentanu). Prioritas kedua adalah mengantar Vito sekolah dan ketiga adalah mengecek finishing katalog Manet edisi terbaru yang akan naik cetak serta mengontrol progres brand baru yang akan segera diluncurkan*. Saya akan menolak agenda apa pun untuk hari ini yang akan mengganggu 3 prioritas itu.

Beberapa teman saya di TDA sudah mulai memaklumi kondisi saya ini. Saya biasa menolak agenda-agenda mendadak yang tidak sesuai jadwal saya. Jadwal saya untuk TDA adalah hari Jumat. Selain hari Jumat biasanya saya tolak kecuali ada urusan yang betul-betul urgent.

Apa yang saya rasakan dengan cara mengelola kegiatan seperti ini? Saya menjadi fokus dan larut sepenuhnya dengan kegiatan saya. Pikiran saya tidak ke mana-mana. Ketika sedang menjalani aktivitas itu ya hanya itu. Saya tidak terganggu oleh agenda-agenda lain. Saya tidak merasa resah dan khawatir dengan agenda lain yang akan bentrok. Saya tidak harus dikejar-kejar waktu karena terjebak macet dan sebagainya (tuntutan hidup di Jakarta mungkin harus kita sikapi seperti ini).

Leo Babauta, blogger favorit saya di Zen Habits menawarkan ide yang kurang lebih sama. Ia menawarkan The One Thing System:

“Here’s what I do, and highly recommend to anyone willing to break free of the to-do list:

  1. I wake up in the morning, and decide what One Thing I’m excited about.
  2. Then I focus on doing that, pushing everything else aside, clearing distractions, and allowing myself to get caught up in the moment.

Kill your to-do list, and forget about all the things you need to do … except the One Thing you’re passionate about, right now”

Tulisan Leo selengkapnya bisa dibaca di sini.

*NB: Insya Allah, brand baru akan segera hadir bulan Mei nanti. Disain, bahan dan konsepnya betul-betul beda dengan yang sekarang. Nantikan pengumumannya di blog ini.

Standar

6 thoughts on “Saya adalah Single Tasker

  1. Saya justru sebaliknya. Saya adl seorang multitasker. Apakah krn saya seorang wanita? hmm…
    Memang terkadang pusing juga klo ngambil kerjaan terlalu banyak. Tapi, klo ngambil satu kerjaan saja, saya malah suka gak fokus krn merasa terlalu membosankan…πŸ˜€

    Suka

    • Saya tidak mengatakan single tasker lebih baik daripada multitasker. Indikatornya adalah hati dan pikiran kita. Apakah kita merasa senang dan nyaman dengan multitasking? Kalau iya, berarti fine-fine aja. Apakah kita merasa stress dengan multitasking? Beralihlah ke singletasker. Buatlah prioritas, larut sepenuhnya dengan setiap pekerjaan. Enjoy…

      Suka

  2. Tulisan yang bagus pak. Memang tidak bisa dipukul rata semua orang harus bisa multitasking, ataupun mending semua orang singletasking aja agar lebih optimal. Sy kadang jadi seorang multitasker, kadang singletasker. Maklum belum bisa memutuskan satu diantaranya. Sy ambil yang pas dengan kondisi saat ada pekerjaan itu.

    Suka

  3. dyan berkata:

    Sekedar sharing ilmu dari training The 4 Disciplines of Execution -nya Stephen Covey.
    Katanya, memang manusia ditakdirkan untuk menjadi singletasker. One thing at a time.
    Dan ada studi yang membuktikan kalau kita membatasi goal antara 1-3 maka kemungkinan besar kita dapat mencapai 1-3 goal tsb dengan gemilang. Tapi kalau goal kita lebih dari 3, peluang berhasilnya menurun jadi 0-25% saja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s