Life, Mindset, Minimalism

Gaya Hidup Minimalis dan Transportasi

Masih terkait dengan postingan sebelumnya tentang gaya hidup minimalis dalam prakteknya.

Kali ini saya mencobanya dalam urusan transportasi. Dari tulisan mengenai gaya hidup minimalis, menggunakan sarana transportasi disarankan karena dapat menghemat biaya sekaligus mengurangi gas buangan emisi kendaraan pribadi. Jadi, gaya hidup minimalis ini sejalan dengan kampanye peduli lingkungan atau green living.

Kebetulan kemarin saya berbeda arah dengan Vito dan mamanya. Saya ada meeting di BPPT Thamrin, sementara Vito harus sekolah ke daerah TB Simatupang. Vito diantar pakai mobil dan saya biarlah naik taksi saja. Demikian rencana awalnya.

Supaya lebih cepat dapat taksi, saya biasa naik angkot dulu menuju jalan Cipulir Raya. Dalam perjalanan, saya berpikir, kenapa nggak dicoba pakai angkutan umum aja ya?

Akhirnya saya coba tahan untuk turun di depan Pasar Kebayoran Lama. Setelah tanya sana sini, saya pun dapat informasi untuk naik Patas AC 44 yang lewat Sudirman, untuk kemudian disambung dengan Busway menuju BPPT. Perjalanan cukup lancar dan hemat, hanya menghabiskan ongkos Rp. 11.500.

Pulangnya saya coba lagi rute yang sama. Nah, di sinilah tantangannya. Saya harus turun di Terminal Blok M dulu untuk kemudian nyambung lagi dengan Metromini 69. Waktu terbuang hampir setengah jam, padahal dari perempatan CSW dengan mobil pribadi bisa langsung belok kanan, tanpa harus bablas ke terminal dulu.

Kebiasaan bis untuk ngetem juga menambah sengsara. Bila hasil ngetem belum memadai, biasanya supir akan berputar-putar untuk sekedar menghilangkan rasa penasarannya dengan penumpang yang belum cukup kuotanya. Sebagai penumpang, kita harus pasang muka pasrah terhadap apa yang diputuskan oleh sang pengambil keputusan utama di bis itu. Waktu pun makin menguap terbuang.

Hasil dari berputar-putar itu, maka senja pun merayap gelap, waktu Maghrib menjelang. Kemacetan pun tak terhindarkan.

Kesimpulan saya, sulit untuk mempraktekkan gaya hidup minimalis dengan menggunakan angkutan kota di Jakarta ini.

Dari sisi penghematan dan kenyamanan pun tak terpenuhi. Ongkos Rp. 11.500 itu karena saya sendirian. Bagaimana kalau saya dengan istri, 2 anak dan 1 asistennya berikut tetek bengek bawaan untuk para balita itu?

Tapi, sekali-sekali menggunakan sarana angkutan umum rasanya perlu juga bagi kita yang selama ini selalu menggunakan kendaraan pribadi. Gunanya, untuk mengasah kepekaan sosial. Di angkutan umum kita bisa menyaksikan kenyataan hidup yang dihadapi oleh sebagian besar rakyat kita.

Saya mendapati satu keluarga (bapak, ibu dan anak balitanya) menjadi pengamen di bis kota. Saya mendapati seorang ibu menggendong anaknya yang masih merah (mungkin belum genap sebulan usianya) duduk mengemis di tangga Terminal Blok M. Duh, saya hanya bisa mengurut dada, tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Leo Babauta dalam blognya menyarankan pembacanya untuk berperan dalam menjaga lingkungan dengan beberapa cara yang bisa ditempuh seperti: berjalan kaki, bersepeda, naik kendaraan umum, bekerja di rumah atau bekerja di kantor yang dekat dengan rumah guna mengurangi pemanasan global. Kalau pun harus menggunakan kendaraan pribadi, disarankan yang mengkonsumsi bahan bakar seminimal mungkin. Bahkan ia sudah mempraktekkan konsep car sharing bersama komunitasnya, misalnya 1 mobil digunakan bergantian dalam satu lingkungan bertetangga.

Ia juga menyarankan untuk mengkonsumsi makanan lokal dan produk lokal, sebab makanan atau produk import itu membutuhkan transportasi ribuan kilometer untuk sampai ke tangan kita.

Konsep gaya hidup minimalis ini menarik. Ini sejalan dengan gaya hidup green living yang sedang dipropagandakan di mana-mana. Misi penyelamatan bumi hendaknya tidaklah di level seremonial atau tren sesaat saja. Gaya hidup peduli lingkungan ini harus menjadi gaya hidup yang dipraktekkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ini mencakup segala aspek dalam hidup kita.

Dari mana kita memulai “misi besar” penyelamatan bumi ini? Ya dari diri kita sendiri dulu. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga. Small step to a better future for our children.

NB: Jarak kantor saya sebenarnya cuma 20 menit dari rumah. Jadi pemakaian mobil pun sudah terbilang minim.

NB 2: Naik motor seperti disarankan beberapa teman, belum bisa saya coba. Alasannya, saya tidak bisa mengendarai motor🙂. Selain itu, istri pun tidak mengijinkan.

Standar

19 thoughts on “Gaya Hidup Minimalis dan Transportasi

  1. Pak Roni, ide anda memang selalu segar, jika kemarin tentang kewirausahaan, sekarang tentang Gaya Hidup Minimalis. Menarik sekali, dan sayapun ingin membuat rencana di keluarga soal hidup minimalis ini. Salam Pak Roni.

    Suka

    • Terima kasih. Saya memang banyak membaca dan mengamati. Kebetulan ini lagi jadi tren dan saya tertarik. Tidak ada salahnya dicoba, meskipun ini sebetulnya bukan ide baru. Ini konsep lama tapi dengan kemasan baru. Jadi lebih keren🙂

      Suka

  2. Assalamu’alaikum, Thanks atas sharingnya. Tanpa terasa virus gaya hidup minimalis mulai menjangkiti pikiran saya, dan memang sudah saatnya kita lebih peduli dengan bumi yang kita tinggali ini. wassalam.

    Suka

  3. Yes..!! Greenlife GreenHeart kolaborasi yang mantabb bang Rony.

    Memang betul Pak, kalo naik angkutan umum sering kali banyak pelajaran yang kita ambil.

    Btw udah coba gowes pak dari Rumah ke ofis..:D

    Suka

  4. Untuk hal yang satu ini, gaya hidup minimalis dan transportasi, alhamdulillah saya sudah jauh2 hari mempraktekkannya. sampai2 saya punya motto khusus untuk itu….

    “sorry, i’m not smoking, and i’m not driving too.. ” 🙂

    padahal dirumah ada motor dan mobil (punya kakak2 saya, lebih sering nganggur di garasi), saya lebih memilih naik kendaraan umum. Belajar mengendarai motor dan mobil hanya sekedar untuk bisa, dan sekedar ingin tahu, bagaimana si rasanya mengendarai sendiri…

    bahkan untuk jarak yang sangat dekatpun, kalau kakak2 saya naik motor untuk kesana, saya tetap memilih pakai mikrolet atau jalan kaki … hmmm, rasanya puas, sepuas tidak merokok.

    Suka

  5. Sujarwo berkata:

    Pak Rony ..
    saya baca kalimat terakhir.
    kesannya kok Suami di dikte oleh istri nih..
    noleg naik motor nggak nya hehe

    Suka

  6. pak roni gak bisa naik motor? hihihi…

    tapi setuju dengan nyonyah, saya lebih suka kalo orang2 tercinta gak naik motor. ngeri…

    Suka

  7. Ping-balik: Perangkat Minimalis Ku « Rony Syahputra Nasution

  8. Info yang menarik nih Bos. klo bisa di lengkapi infonya, akan lebih bagus lagi. Di tunggu kunjungan balasannya ya. Mo melanjutkan blogwalking lagi. Salam Hangat

    Suka

  9. Ping-balik: Hidup minimalis,bisakah? « Belajar tiada henti…..Bersyukur tiada henti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s