Books and Learning, Life

Slow Down to Speed Up

Judul di atas seperti paradoks.

Untuk mempercepat, kok malah disuruh lebih lambat?

Jawabannya ada di cerita berikut ini:

Harry Connick, Jr sedang dalam perjalanan dengan segenap barang bawaannya, ketika sebuah mobil MPV melewatinya dengan kencang. “Seberapa jauh dari sini menuju kota terdekat”, tanya sang supir dengan nada cepat dan terburu-buru.

“Jika anda berjalan dengan cepat, anda akan sampai dalam waktu setengah hari. Tapi jika anda berjalan dengan perlahan, anda akan sampai dalam waktu satu jam”, jawab Harry kalem.

“Jawaban yang bodoh!” ujar si supir sambil bergegas menancap gas meninggalkan Harry dalam keadaan bengong.

Harry meneruskan langkahnya di jalan yang penuh dengan lubang dan bebatuan itu.

Setengah jam kemudian, ia telah melewati si supir dengan mobilnya yang terperosok ke dalam parit dengan as roda yang patah. Sambil berusaha memperbaiki mobil, makian dan umpatan si supir tak henti terdengar.

“Seperti yang saya katakan tadi, jika anda berjalan pelan-pelan, satu jam akan sampai di kota terdekat. Jalan ini penuh bebatuan dan lubang berbahaya. Anda harus melewatinya dengan hati-hati dan perlahan”, ujar Harry.

Cerita di atas menggambarkan kondisi yang terjadi pada masyarakat modern saat ini. Kita berusaha mengelola waktu sampai batas yang sulit dicapai.

Kita ingin meraih segalanya sekaligus. Kita ingin mempercepat semuanya dengan cara dan teknologi apa pun. Bila tidak bijak mengelolanya, kejadian seperti si supir tadi bisa dialami oleh siapa pun.

Masyarakat secara umum dengan sendirinya telah dipaksa dengan ritme serba cepat dan ditekan untuk selalu tergesa-gesa.

Lothar J. Seiwert dan Ann McGee-Cooper dalam buku Slow Down To Speed Up, Bagaimana Mengatur Waktu dan Menyeimbangkan Hidup Anda, mengajak pembaca untuk berpikir ulang dengan cara mengelola waktu yang sesuai dengan ritme dan arah tujuan kehidupan.

Ia mengajak kita untuk menukar paradigma “mengelola waktu” menjadi “mengelola kehidupan” (konsepnya mirip dengan “mengelola energi” seperti telah saya posting beberapa waktu lalu atau The Seven Habits-nya Covey).

Saya suka dengan konsep-konsep yang menawarkan ide paradoks seperti ini. Kita mengenal konsep Butterfly Effect, Tipping Point, Global Paradox, Quantum Physics, Nanotechnology Management dan sebagainya.

Semuanya mencoba meredifinisi ulang cara pandang kita terhadap dunia dan kehidupan yang sudah kita terima selama ini.

Nah, konsep ini menawarkan sebuah paradoks juga. Untuk melakukan percepatan, kita malah diminta memperlampat langkah. How come?

Janganlah bekerja lebih keras, bekerjalah lebih bijak, kata sebuah ungkapan. Covey bilang, janganlah terlalu mengejar efisiensi, kejarlah efektivitas. Gunakanlah kompas ketimbang peta. Sebab, peta bisa menipu, karena membuat mata kita jadi “rabun dekat”.

Gunakanlah kompas arah kehidupan jangka panjang kita. Kita ingin dikenang seperti apa ketika meninggalkan dunia ini? Kontribusi apa yang akan kita berikan kepada dunia? Makna apa yang kita berikan kepada kehidupan ini? Warisan apa yang kelak akan kita tinggalkan?

“A person with a big enough why can endure any what”.

So, hidup ini bukanlah sekedar adu cepat sampai di finish. Kita harus terus bertanya, apa garis finish yang sesungguhnya harus dikejar. Yang penting bukanlah sekedar sampai, tapi sampai di tempat yang “benar” dengan cara yang efektif.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kita harus memperlambat langkah dan sering duduk merenung dan bertanya. Apakah jalan yang kita tempuh saat ini sudah sesuai dengan arahan kompas yang ada?

Atau justru kita tersesat berputar-putar dan tidak ke mana-mana. Padahal dalam “ketersesatan” itu kita telah memberikan yang terbaik dan yang tercepat menurut kita.

Please, slow down to speed up.

Iklan
Standar

7 thoughts on “Slow Down to Speed Up

  1. aksa berkata:

    wah..menarik banget..dalam buku la tahzan ada yg mirip dgn ini..bahwa pelan2 saja, supaya kamu cepat sampai pada tujuanmu..kuncinya memang niat kita..

    Suka

  2. Iya pa betul pa Roni, lagi pula sebenarnya Islam melarang kita untuk tergesa-gesa dalam berbuat, bertindak, dan apalagi dalam mengambil keputusan… dalam hidup.

    bahkan klo tidak salah, saya pernah baca hadits yang menyebutkan klo ketergesa-gesaan adalah salah satu sifat iblis atau syaithon…

    slowdown dalam rangka mencapai titik “tenang”.. adlah lebih baik dari pada serba cepat, serba buru2 dan tergesa-gesa….

    (*ingin rasanya untuk selalu bisa berpikir dengan tenang, berbuat dengan tenang, dan juga “berakhir” dengan tenang..)

    Suka

  3. sangat mengena pak postingannya…

    oiya pak roni.. untuk buku “Slow Down to Speed Up” dapat dibeli dimana ya?
    saya cari di toko buku online kok gak ketemu ya pak…

    salam kenal dan terima kasih…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s