Books and Learning, Life

Masa Kecil Saya dan Buku

Hari ini Hari Buku ya? Wah, saya malah nggak tau. Thanks to teman-teman di Twitter yang mengingatkan ๐Ÿ™‚

Saya jadi ingin menulis sesuatu tentang hubungan saya dengan buku.

Hidup saya sampai sekarang sangat dipengaruhi oleh buku. Pikiran dan tindakan saya dipengaruhi oleh buku sejak kecil.

Maka, tulisan ini saya dedikasikan untuk dunia perbukuan dan mereka yang mencintai buku.

Saya termasuk cepat bisa membaca. Kelas 1 SD saya sudah membaca buku “serius”, biografi Bung Karno yang tulisannya kecil-kecil. Ini buku bacaan dewasa sebetulnya (buku itu warna kuning dengan cover Bung Karno pakai blangkon, kalau ada yg jual akan saya beli lagi deh).

Buku itu dibelikan Papa dari seorang pedagang sayur yang berjualan di depan kios kaki lima kami. Buku itu sebenarnya akan digunakan untuk bungkus sayur. Lembaran halamannya sudah dilepas semua, sehingga saya harus mengelemnya satu persatu agar menjadi buku lagi.

Buku itu sangat saya sukai, saya rawat dengan baik, saya bawa ke mana-mana. Saya jadi tahu bahwa Bung Karno pernah pacaran dengan cewek Belanda dan kemudian diputusnya, sekedar untuk membuktikan bahwa orang pribumi bisa lebih hebat dari orang Belanda.

Saya begitu mengidolakan Bung Karno sampai kira-kira kelas 3 SD, saat saya “tertangkap” oleh Papa saat membeli buku-buku Bung Karno, salah satunya saat Bung Karno berkunjung ke Uni Soviet. Saat itu saya tidak tahu kenapa Papa tidak suka dengan perbuatan saya itu (belakangan akhirnya saya tahu juga).

Oya, saya bisa membaca cukup cepat karena sering dibacakan cerita bergambar “Bang Naim” dan “Doyok” oleh Papa dari Lembergar koran Poskota. Karena tidak mau tergantung terus kepada Papa, maka saya berusaha keras supaya bisa membaca.

Hubungan saya dengan buku semakin dekat lantaran saya kurang dekat dengan Papa dan Mama. Ini terjadi karena saya sempat 2 tahun di kampung bersama nenek sampai selepas TK. Saya lebih dekat dengan nenek ketimbang Papa dan Mama. Ketika saya diajak ke Jakarta, saya merasa kehilangan “orang tua”, yaitu nenek. Membaca adalah semacam bentuk “pelarian” buat saya.

Setiap hari saya diberikan uang jajan tapi selalu kembali utuh. Saya tidak pernah jajan makanan. Uangnya saya kumpulkan untuk membeli buku, majalah atau komik. Buku dan komik sangat mempengaruhi saya. Tokoh-tokoh super hero seperti Gundala, Batman, Superman, Fantastic Four, Gotham begitu mempengaruhi saya. Bahkan saya sering berkhayal ingin menjadi seperti mereka.

Saya sering berkhayal suatu hari ada cahaya masuk ke kamar saya yang kemudian mengantarkan saya kepada seorang “hebat” yang akan memberi saya kostum seperti Gundala dan memberi tugas supaya saya menyelamatkan dunia. Bahkan saya pernah bertanya dalam sebuah rubrik di Majalah Halo mengenai keberadaan para super hero itu. Apakah Batman dan Superman itu benar-benar ada?

Saya tidak banyak bergaul dengan teman-teman. Selepas sekolah saya lebih suka mengurung diri di kamar, membaca apa saja, termasuk buku pelajaran. Makanya saya selalu jadi juara kelas sejak kelas 3 sampai 6 SD.

Saya juga menjadi anggota perpustakaan keliling yang selalu mangkal di dekat kantor kelurahan seminggu sekali. Dari situ saya mengenal novel-novel seperti Lima Sekawan, Robinson Crusoe, Monte Cristo, Don Quixote dan sebagainya. Impian terbesar saya saat itu adalah mengunjungi perpustaan Masjid Istiqlal. Akhirnya kesampaian bersama Iim Rusyamsi, walau pulangnya kami tersesat. Belakangan, saya juga berani naik bis ke Pasar Senen untuk membeli buku-buku bekas yang harganya murah.

Saya mengoleksi hampir semua komik karya Tatang S, RA Kosasih, Gerdy WK (Gina), Superman, Batman, Mimin, dan sebagainya. Novel Lima Sekawan, Trio Detektif, Petualangan, Malory Towers, Pulung, Wartawan Cilik juga lengkap saya koleksi. Rak buku dan laci penuh dengan buku. Akhirnya saya memutuskan untuk menyewakannya. Saya “rekrut” seorang teman sekolah untuk menjadi “pegawai” saya. Setiap hari dia menyetor uang hasil sewa buku. Lumayan, sehari dapat Rp. 500,- ๐Ÿ™‚ (namanya Asep, sekarang di mana dia ya?)

Buku-buku dan novel-novel itu sangat mempengaruhi saya. Saya sering berkhayal tinggal di pulau seperti di seri Petualangan karya Enid Blyton. Saya pernah membentuk kelompok detektif yang terdiri dari 4 orang yang saya beri tugas menyelidiki seorang anak cewek dari SD lain yang katanya kirim salam kepada saya :). Ini terinspirasi dari Trio Detektifnya Alfred Hitchcock.

Saat kelas 5 SD, saya juga pernah membuat koran kecil yang saya tulis sendiri dan kemudian difotokopi. Saya menjualnya kepada teman-teman di kelas, melalui bantuan seorang teman juga, istilahnya agen. Saya tidak menjualnya sendirian (Hehe, ternyata bakat dagang dan me-leverage sudah lahir sejak kecil :)).

Kepadanya saya janjikan komisi. Harga koran Rp. 150,-, yang Rp. 100,- buat saya, Rp. 50 buat dia. Di koran itu saya juga memberikan kuis teka-teki silang. Bagi yang menjawab betul, saya beri hadiah komik. Saya dapat ide membuat koran kecil ini dari sebuah novel berjudul “Wartawan Cilik”. Saya juga merekrut staf wartawan. Saya tulis namanya di dewan redaksi, padahal yang mengerjakan saya sendiri. Saya juga buatkan mereka kartu tanda wartawan.

Saya bukanlah anak orang kaya. Orang tua saya hanya pedagang kaki lima. Tapi di rumah, buku-buku saya berlimpah ruah. Saya tidak pernah meminta uang untuk membeli buku dan majalah. Di sekolah, hanya saya dan Iim Rusyamsi yang berlangganan majalah. Ini sebuah priviledge tersendiri bagi kami. Kami jadi lebih “knowledgeable” dibanding yang lain. Saya sangat jarang jajan. Semua uang jajan saya kumpulkan untuk beli buku. Buku nomor satu, jajan nomor sekian.

Wah, saya jadi keasyikan sendiri menulis ini hingga lupa waktu. Saya sudahi dulu ya. Saya mau ke bandara menjemput VitoVino dan mamanya dari Palembang.

Selamat Hari Buku!

Selamat membaca bangsaku.

Membaca membuat kita selangkah lebih maju.

NB: Sayang, semua buku itu sekarang tinggal sejarah, tak tersisa. Tinggal kenangan.

Iklan
Standar

10 thoughts on “Masa Kecil Saya dan Buku

  1. Bagi sebagian orang, buku adalah istri pertamanya… saya punya teman waktu masih smp, yang kalo kemana-mana pasti bawa buku, setidak-tidaknya satu, buku tentang apa saja.

    Katanya harus, rugi kalo ada waktu luang tidak membaca … sampai-sampai dikendaraan umumpun di asyik baca buku. (*dulu kayaknya masih jarang yang kayak gitu..bisa2 dibilang orang aneh, sok kutu buku..hehe padahal mah, itu bagus smbil menunggu sampai tujuan, wawasan bertambah..)

    Salam,

    Suka

  2. Kecintaan kepada buku dan kebiasaan membaca buku saat ini sudah luntur di kalangan anak muda Indonesia. Harus digiatkan lagi.
    Kisah yang menarik Pak Roni.

    Suka

  3. Sebuah kisah yang amat mencerahkan.

    Membaca. Buku. Dua hal ini yang telah membentuk diri saya seperti sekarang.

    Saya jadi ingat juga ketika kelas 3 – 4 SD. Bicara fasih tentang perang Vietnam dan Kebijakan Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika.

    Suka

  4. Hebat Pak. Ternyata benar kata orang, “Buku itu jendela dunia.” Dari suatu buku/bacaan kita bisa melanglang-buana ke negeri-negeri asing, dari sebuah buku kita bisa paham banyak hal…. Tulisan Pak Roni ini mengingatkan saya pada kenangan masa kecil dengan buku-buku….

    Suka

  5. aksa berkata:

    wah menarik banget..yang jelas buku seperti membukakan pintu segala kemungkinan kepada kita..seyogianya dari kecil memang mengenalkan membaca pada anak adalah mutlak. sehingga anak menjadi hebat dengan lebih cepat. salah satunya “Knowledgeable”.

    Suka

  6. Mantap pak..wah hebat kelas 1 sd sudah baca buku bung karno? sy waktu sma baru mulai koleksi biografi dan tulisan2 bung karno termasuk di bawah bendera revolusi pun sy baca..terus ada Tan Malaka, Bung Hatta, Muh.Natsir dll..klo SD ampe SMP paling koleksi petruk gareng, donal bebek, komik2 superman, seri Tintin, seri Lima Sekawan, seri Lupus. Kapan lagi nih Rony Book Learning Club?

    Suka

  7. Wah, ceritanya nyaris sama dgn saya dan kakak. Sedari kecil, kami memang dibiasakan dgn buku. Hingga sekarang, rumah saya jarang ada pernik2 seperti rumah2 lain. Hiasan kami adalah buku, buku, dan buku. Di dalam kamar pun, saya sisihkan satu space dinding yang khusus utk menampung semua buku2 saya (dan msh tdk muat jg).
    Buku membuat saya lebih kaya dr semua uang yg saya punya. Saya bs pergi sejauh mungkin, bahkan berkeliling dunia melalui buku. Sangat menyenangkan rasanya saat memperoleh pengetahuan baru melalui buku. ๐Ÿ™‚

    (maaf saya salah ketik komen di artikel selanjutnya)

    Suka

  8. Wah baca tulisan ini jadi ingat kenangan lama saat gimana mesti berjuang mendapatkan berbagai bacaan/buku. Walaupun saya gak sehebat Uda Ronny, karena kelas 2 SD baru bisa baca, tapi kadar keranjingan terhadap buku tidak jauh beda. Sayang kebiasaan ini sudah lama berhenti, karena sejak 15 tahun lalu mengenal internet dan menyebabkan saya udah jarang sekali memegang dan membaca buku-buku… Mesti segera comeback nih kayanya…

    Suka

  9. yoko berkata:

    salam kenal semuanya…
    wah cerita yang sangat menarik sekali pak rozi. sangat benar sekali buku itu akan memberikan pencerahan ketika kita ingin mencari sebuah pengetahuan.
    saya pun sangat senang jg baca buku. apalagi buku-buku yang penuh dengan inspirasi yang bs memberikan semangat.
    bahkan saya punya cita2 suatu saat nanti bisa buka toko buku yang sukses. seperti gramedia. he3. mudah2 bisa tercapai. amin…

    Suka

  10. Kebanyakan orang2 besar lahir dari kedekatanya dengan buku dan budaya baca, sangat inspiratif pak roni, yang tersisa kuat dalam ingatan saya bagaimana mewariskan semangat baca dan cinta buku kepada anak dan generasi kita, selamat hari buku

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s