Uncategorized

Jadilah Pemalas yang Produktif

Kalimat ini menimbulkan banyak pendapat dan pertanyaan ketika saya update di status Twitter saya.

Banyak yang suka. Banyak juga yang bertanya, bagaimana caranya?

Ada juga yang menulis bahwa kata-kata ini “gue banget”. Artinya dia memang “pemalas” tapi ingin produktif.

How come? Ini sebuah pernyataan yang bertentangan.

Bagi yang senang dengan teori paradoks seperti saya, pasti dengan mudah menganggukkan kepala, mengiyakan.

Apakah dengan menjadi rajin otomatis produktif? Belum tentu. Banyak orang yang bekerja begitu rajin, tapi hasilnya begitu-begitu saja. He’s going now where. Dengan menganggap diri rajin maka otomatis produktif adalah tidak tepat.

Barangkali saja ia selama ini “rajin melakukan yang salah”.

Yang dimaksud dengan “malas yang produktif” itu sebenarnya adalah soal efektifitas.

Less is more, begitu jargon yang sering saya dengar sekarang. Less work tidak berarti less result kalau dilakukan dengan efektif. More work tidak berarti more result kalau tidak efektif.

Untuk menjadi pemalas yang produktif, kita harus fokus kepada pekerjaan-pekerjaan yang efektif dan menghasilkan big impact saja.

Bagi saya, pekerjaan berpikir, berimajinasi, membuat rencana dan strategi adalah jauh lebih efektif ketimbang “melakukan sesuatu” seperti menerima telepon, berkeliling Jakarta yang macet, mengurus tetek-bengek dan sebagainya.

Saya lebih senang duduk tenang mengamati dari jauh ketimbang terlibat. Dengan begitu saya punya waktu untuk menganalisa dan bertanya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan strategis.

Otak kita jangan sampai terpola dengan rutinitas. Bagi entreprenur, rutinitas adalah jebakan yang bisa membunuh kreativitas dan inovasi yang menjadi tulang punggung keberhasilan bisnis saat ini.

Jadi, sebelum terlibat melakukan sesuatu, saya selalu bertanya, apakah ini strategis untuk saya lakukan? Apakah ini akan menghasilkan big impact?

Namun, dalam prakteknya jangan gegabah. Di awal bisnis, hal ini belum bisa dipraktekkan. Saat memulai, kita harus terlibat sepenuhnya dalam setiap proses, sampai sedetil mungkin. Pertahankan sampai ketemu “polanya” lalu buat sistim untuk mengotomatisasi dan
menduplikasikannya.

Para ahli manajemen juga menganjurkan hal yang sama dengan istilah yang berbeda. Stephen Covey menggunakan istilah “first thing first”, Malcolm Gladwell dengan istilah “tipping point”, Richard Koch paling senang mengkampanyekan prinsip “pareto 80/20”. Istilah “leveraging” atau “pengungkit” juga sering digunakan untuk menjadi pemalas yang produktif ini.

Para pemalas yang produktif pasti menggunakan pengungkit sebagai alat bantunya. Alat ungkit itu di antaranya adalah: waktu, kapital, sumber daya, ilmu, skill, pengalaman, teknologi dan sebagainya yang jumlahnya berlimpah tak terbatas. Namun, daya ungkit yang utama menurut Robert G. Allen, penulis buku terlaris “Nothing Down” adalah pikiran kita sendiri. Dari sinilah semuanya bermula dalam bentuk impian, imajinasi dan keyakinan.

Fred Gratzon dalam buku The Lazy Way to Success menyarankan untuk mencari keefektifan dengan menemukan yang subtil atau inti dari setiap permasalahan. Level yang subtil bukanlah di permukaan, tapi justru di dalam, lebih sederhana dan halus. Ketika yang subtil sudah ditemukan, penyelesaian masalah yang berat akan jadi lebih mudah dan ringan. Kita tidak perlu bekerja keras ketika sudah menemukan yang subtil ini.

Semua orang mendapat jatah 24 jam sehari. Tapi kenapa hasilnya berbeda? Orang yang berhasil pasti menggunakan waktu dan energinya lebih efektif dan menghasilkan big impact dibandingkan yang
biasa-biasa saja. Mereka sebetulnya adalah para pemalas, pemalas yang produktif. Para pemalas yang tak ingin waktunya menguap begitu saja tanpa hasil yang berarti.

Iklan
Standar

17 thoughts on “Jadilah Pemalas yang Produktif

  1. Dah pingin bikin bisnis yang ada sekarang jadi kaya gini nih: “buat sistim untuk mengotomatisasi dan menduplikasikannya”… semoga bisa mencapai tahap tersebut secepatnya…

    Suka

  2. mantabbb.. kira2 memang seperti itu yg sy mau, dan masih belum bisa 100% realisir slow but sure.. lumayan buat nemeni sepotong roti & secangkir teh pagi, thx sob 😀

    Suka

  3. nara_zzi berkata:

    aslalamualaikum.wr.wb.

    salam kenal…..

    lagi nyari-nyari…..eee…nemu tulisan ini jadi seger nih…..
    terimakasih tulisanya penuh inspirasi.semoga bermanfaat.

    Suka

  4. berarti pemalas yang dimaksud bukan pemalas yang biasa, tpi “pemalas” yang luar biasa …

    biarpun “malas” tpi malah lebih produktif dari pada perajin biasa. 🙂

    Suka

  5. Hidup pemalas yg produktif!

    Selama ini saya ngerasa itu penyakit,,, karena saya seharusnya bisa lebih produktif daripada diam dan terbuai dengan kemalasan. Memang pengungkit itu sering saya gunakan utk mengalahkan ‘miu-s’ sehingga ada gaya yg bekerja. (Bahasa fisika)
    Saya berharap bisa malas pada tempat dan waktu yg tepat. Meskipun sering melakukan pembenaran atas sikap malas tsb seperti yg dijelaskan diatas. :p

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s