Business, Indonesiaku

Actual Basic dan Gerakan Cinta Produk Indonesia

Alhamdulillah, brand baru yang merupakan “adik” kandung dari Manet segera lahir awal Juni nanti.

Agak terlambat dari jadwal seharusnya karena beberapa kendala teknis, tapi it’s fine, akhirnya lahir juga “bayi” ini. Setiap kelahiran tentu menumbuhkan harapan-harapan baik. Insya Allah.

Saya tidak ingin bercerita mengenai produk baru yang saya beri nama Actual Basic (web-nya actualbasic.com coming soon) ini. Tapi saya ingin mengelaborasi isu-isu penting di balik kelahiran Actual Basic.

Beberapa waktu lalu saya hadir di sebuah seminar mengenai tantangan dari ACFTA. Yang menarik adalah pernyataan dari Muhammad Luthfie, mantan ketua BKPM (?) yang mengatakan bahwa akhir tahun ini pabrik kain sarung di Pekalongan akan bertumbangan karena produk sarung dari Cina dengan harga murah akan masuk ke Indonesia. Akibatnya, ratusan ribu tenaga kerja di pabrik sarung akan menganggur. Seram sekali.

Ia ingin mengatakan bahwa, produk-produk yang bakal terkena dampak dari ACFTA adalah produk yang berkualitas rendah, harga murah, produksi massal dan rendah juga dari sisi kreatif atau disainnya.

Dua orang pembicara lain yaitu Suherman (pemilik Batik Allure) dan Sandiaga Uno (Ketua Kadin) menyimpulkan bahwa kita tidak perlu takut dengan serbuan produk import dengan cara meningkatkan kualitas dan kreatifitas produk lokal serta mengajak masyarakat untuk mencintai dan menggunakan produk dalam negeri.

Saya tertarik dengan statement ini.

Pernah nonton film The Secret? Di sana diceritakan bahwa kampanye dan gerakan-gerakan “anti” itu tidak efektif, karena pikiran bawah sadar itu hanya mengenali yang positif. Jadi “kampanye anti produk import” diartikan positif oleh pikiran bawah sadar masyarakat dengan tetap mengkonsumsi produk import. Gerakan “anti narkoba” tidak ada hubungannya dengan penurunan pengguna narkoba. Gerakan “anti rokok” sama sekali tidak mengurangi jumlah perokok. Gerakan “anti perang” tidak sukses meredakan peperangan di dunia”. Gerakan “anti kemiskinan” tidak sukses mengentaskan kemiskinan.

Kalau anda tidak percaya dengan statement saya ini, coba lakukan tes sederhana ini:

Coba, jangan bayangkan gajah!

Apa yang terjadi? Tuiiing…. tiba-tiba muncul gajah di pikiran anda :).

Bagaimana sebaiknya?

Karena pikiran bawah sadar itu hanya mengerti yang positif-positif saja, maka sebaiknya gerakan-gerakan itu mengikuti cara berpikir otak bawah sadar itu menjadi:

– Kampanye “anti rokok” diganti menjadi “gerakan hidup sehat”

– Kampanye “anti narkoba” diganti menjadi “gerakan cinta keluarga”

– Gerakan “anti perang” diganti menjadi “gerakan cinta damai”

– Gerakan “anti korupsi” diganti menjadi “gerakan hidup jujur”.

– Kampanye “anti pemborosan” diganti menjadi “gerakan hidup sederhana”

– Gerakan “Anti ACFTA” menjadi “Gerakan Cinta Produk Indonesia”

– dan seterusnya.

Nah, brand baru saya ini lahir di tengah-tengah isu ACFTA yang “menyeramkan” ini. Peluncuran ini terbilang nekat dan “menantang” di tengah-tengah banyaknya pemain di pasar yang memilih “wait and see” menyikapi serbuan produk Cina ini.

Saya yakin, orang Indonesia masih banyak yang mencintai produk lokal. Dengan membeli produk lokal berarti mereka menyelamatkan industri dan pekerja lokal. Dengan membeli produk lokal berarti mereka juga berperan mengurangi pemanasan global.

Apa hubungannya cinta produk Indonesia dengan global warming? Ada. Produk import itu sampai ke tangan kita setelah melewati perjalanan ribuan kilometer dan menghabiskan sekian banyak bahan bakar. Bukankah gas buangan bahan bakar itu adalah penyebab semakin menipisnya ozon dan melelehnya salju di kutub?

Dengan menggunakan produk lokal berarti kita juga memperkuat ketahanan ekonomi dalam negeri. Indonesia sukses melewati krisis dunia beberapa waktu lalu karena kuatnya ekonomi dalam negeri. Itu karena 230 juta orang Indonesia masih membeli produk lokal. Hal kebalikan terjadi dengan Malaysia dan Singapura yang sempat kelimpungan lantaran ketergantungan mereka yang tinggi dengan perdagangan internasional.

Kalau berbicara nasionalisme, ini adalah gerakan nasionalisme gaya baru, nasionalisme 2.0. Nasionalisme yang tidak reaktif dengan mencaci maki negeri jiran. Nasionalisme ini lebih produktif dengan mengangkat harkat dan martabat anak bangsa dengan memperkuat ekonomi domestik. Kuatnya ekonomi domestik otomatis akan memperkuat martabat atau “marwah” bangsa kita di mata dunia, sehingga tidak ada lagi TKW yang dihinakan di negeri seberang sana.

Nasionalisme 2.0 adalah dengan menjadi pelaku ekonomi dan mendukung pelaku ekonomi lokal dengan membeli produk-produknya.

Nasionalisme 2.0 adalah Gerakan Cinta Produk Indonesia.

Karena salah satu alasan itulah, Actual Basic segera hadir di tengah-tengah kita. Insya Allah.

Cintai Indonesia, dukung penguatan ekonomi domestik, lawan serbuan ACFTA dengan mencintai produk dalam negeri.

NB: Bagi yang tertarik dengan gerakan ini bisa mem-follow Twitter Actual Basic di www.twitter.com/actualbasic.

Iklan
Standar

13 thoughts on “Actual Basic dan Gerakan Cinta Produk Indonesia

  1. Wow pagi2 sudah mendapat motifasi. Benar sekali pa, jika kita ingin maju maka dan berubah pola pikir kita yang harus ganti adalah kalimat negatif menjadi kalimat positif. Contohnya seperti diatas tadi,karena otak bawah sadar kita akan memprosesnya menjadi hal negatif. Seperti kalimat jangan,anti kita ganti menjadi mari, cinta dsb. Mari maju bangsa indonesia dan kibarkan rahmatan lil alamin

    Suka

  2. Himbauan yang memberikan semangat di awal senin :D. Sangat positif dan memberikan kepercayaan diri sama saya pribadi yang juga mau mencoba memulai bisnis di bidang garmen / clothing.

    Tapi himbauan untuk cinta produk Indonesia, cerita efek global warming itu sepertinya tidak / belum akan besar pengaruh nya. Karena menurut saya, himbauan itu cocok untuk kalangan terpelajar sementara sebagian besar Rakyat Indonesia sebaliknya :(.

    Suka

  3. – Kampanye “anti rokok” diganti menjadi “gerakan hidup sehat”
    – Kampanye “anti narkoba” diganti menjadi “gerakan cinta keluarga”
    – Gerakan “anti korupsi” diganti menjadi “gerakan hidup jujur”.

    SEPAKAT sekali dengan hal ini uda. Otak kita secara bawah sadar memang justru fokus pada yang TIDAK diharapkan.

    So, focus on positive….!!

    Suka

  4. jadi actual basic ini produk fashion ya, pak? busana muslim/muslimah atau baju2 ‘biasa’? second line-nya manet? kalo butuh bantuan, please feel free to contact me *halah, kayak yg bisa bantu aja, hehe…

    sukses buat merk barunya, pak rony 🙂

    Suka

  5. indomanajer21 berkata:

    Ah.. ga juga.. Buat apa khawatir sama produk cina. Klo emang kita mampu kita harus berani bersaing to. Pas zamannya era kejatuhan internet, banyak orang kehilangan di sana.
    Tapi Cameron Johnson menjawab : “Sebenarnya bukan kejayaan internet yang jatuh, tapi orang2 yang menanam modal d internet yang jatuh karena keserakahan mereka sendiri. Internet baik-baik saja. Bahkan pas katanya jatuh justru awal naiknya google, yahoo, flickr, digg, dll.”
    Sama seperti kita ga ada yang pelu ditakutkan dari produk cina. Klo produ Anda bagus dan pintar memanaje bisnis ya smua akan baik2 saja. Asal jangan gambling aja kyk pengusaha 2bulanan, 2 bulan lgs ilang. Kunjungi my blog supaya dapet tips2 tentang bisnis, penjualan, marketing dan manajemen secara gratis. di: indomanajer21.worpress.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s