Business

Marketing Pakai Daun ala Pustaka Lebah

Beruntung sekali minggu lalu saya dikenalkan dengan Pak Sundoro, pemililik Pustaka Lebah oleh Pak Imam Suyono dari Virtual Consulting. Saya jadi mengenal sebuah bisnis yang menurut saya dikelola secara unik namun berhasil.

Pustaka Lebah. Ada pernah mendengar nama ini? Bagi yang belum, mungkin pernah mendengar nama Pustaka Tigaraksa. Itu lho, perusahaan yang jualan ensiklopedia dengan cara direct selling.

Nah, Pustaka Lebah adalah seperti itu. Bedanya, buku yang dijual hanya untuk anak-anak dan asli produk lokal. Ya, semuanya dikerjakan oleh orang Indonesia. Mulai dari kontennya, gambar, sampai distribusinya. Kualitas gambarnya itu yang mengagumkan saya. Tidak kalah dengan produk sejenis dari luar. Ini yang membuat saya beruntung dikenalkan oleh Pak Imam. Ternyata ada orang Indonesia yang “iseng” membuat pekerjaan yang serius seperti ini 🙂

Saya juga merasa beruntung karena diperkenalkan dengan konsep marketing dan pengelolaan perusahaan yang unik. Perusahaannya dikelola dengan begitu efisien alias budget concern. Maklum Pak Sundoro ini berlatar belakan akunting, kuat sekali hitung-hitungannya. Ia tidak mau berkompromi dengan pengeluaran apa pun yang tidak perlu.

Saya tidak menyangka, di balik produk yang begitu mempesona tampilannya itu dikerjakan di kantor yang begitu sederhana. Kualitasnya tidak kalah dengan produksi Gramedia, tapi jangan bayangkan kantornya itu secanggih dan semewah Gramedia. Tapi, justru inilah keunggulannya. Cost-nya jadi sangat kecil. Meski begitu, size perusahaannya sudah cukup besar. Ratusan karyawan yang dinaunginya sudah cukup menjelaskan size bisnisnya.

Yang menarik lagi adalah kebijakan marketingnya. Pak Sundoro juga penganut zero atau low budget marketing yang ia istilahkan “marketing pakai daun” 🙂

“Pokoknya saya nggak mau ngeluarin duit untuk marketing”, ujarnya. “Kalau pakai daun alias gratisan, sya mau”.

“Lho, kan bapak suka ikutan pameran atau pasang iklan?”, tanya saya.

“Iya, tapi kalau bayar saya nggak mau”, jawabnya. “Saya ikut pameran kalau gratis, pasang iklan pun nggak mau yang bayar, kecuali barter”.

“Oooo”, saya pun nyengir. Tepat sekali saya bertemu sosok ini. Kebetulan saya lagi memulai Actual Basic, sebuah brand baru dengan anggaran yang juga low, tapi tidak zero.

Cerita ini menggambarkan bahwa kalau kita sudah punya prinsip dan yakin dengan prinsip itu, cara-caranya akan ketemu dengan sendirinya. Yang penting WHY-nya dulu, HOW-nya akan nyusul belakangan. Ini nyata terjadi di perusahan Pak Sundoro ini.

Belakangan ini saya sering membaca dan berdiskusi dengan pakar marketing yang mendorong untuk melakukan low budget but high impact marketing. Kalau bisa dengan low budget, kenapa harus sok-sokan dengan high budget? Yang penting kan impactnya? Demikian kata seorang teman. Iya juga ya.

Perusahaan yang sudah mulai punya duit, memang cenderung gak mau pusing, mau gampangnya aja. Pasang iklan sana sini dengan anggaran besar tanpa mau berpikir lebih kreatif untuk melalukan upaya-upaya kreatif namun menghasilkan.

Seperti sudah saya ceritakan kemarin, ternyata banyak sekali cara yang murah meriah untuk meraih kesuksesan marketing. Yang penting kita open minded dan selalu mencoba hal-hal baru.

Pertemuan dengan Pak Sundoro ini betul-betul membuka mata saya untuk selalu mencoba hal-hal baru dengan kreativitas dan inovasi.

Salam Sukses Mulia!

Iklan
Standar

14 thoughts on “Marketing Pakai Daun ala Pustaka Lebah

  1. ekafachri berkata:

    Trims pak roni untuk tulisannya yg menginspirasi..sy mmg butuh sekali masukan2 spti ini,mengingat saat ini sy mmg sedang mencoba bangkit lagi 🙂
    btw, nama sy blm di confirm di fb bpk 🙂

    Suka

  2. sherlanova berkata:

    Assalamu’alaikum Pak.
    Salam kenal Pak. Saya dirujuk ke Bapak oleh
    teman saya, kang Wage Nugraha. Inspiratif
    Pak ilmunya, dan bermanfaat tentu saja.

    Oh iya, nama akun FB Bapak ‘Roni Yusirman’
    atau bukan Pak? Beda ‘s’ dengan ‘z’, jadi khawatir
    itu bukan akun Bapak.

    Terima kasih sebelumnya.

    Suka

    • Salam kenal juga. Semoga bermanfaat sharing saya di blog ini 🙂

      Bukan, yang benar adalah Badroni Yuzirman. Saya tidak tahu siapa itu yang buat akun “Roni Yusirman” itu 😦

      Terima kasih

      Suka

  3. Ulasan menarik pak Roni,
    Sy kenal Pustaka Lebah krn teman sy bekerja sbg Managing Director di sana. Kalau dia cerita boss-nya (Pak Sundoro), terlihat sgt kagum sekali dgn sosok Pak Sundoro; katanya orangnya berani mengambil resiko…dan visioner…:)
    Jd kepikiran ngundang Pak Sundoro di acara TDA Bandung.

    Trims Pak

    Suka

  4. sophie berkata:

    menarik sekali buku bukunya
    dicirebon sepertinya belum ada,bisa tidak saya bergabung dengan pustaka lebah
    untuk didistribusikan di cirebon khususnya

    Suka

  5. Zainal, K. berkata:

    Low budget, low humanity.
    Mungkin baik kalau anda bertanya juga kepada karyawan Pustaka Lebah. Atas nama low budget itu, seperti apa mereka diperlakukan. Tanya juga kepada mantan2 karyawan yang keluar dari sana karena tak tahan diperlakukan tak manusiawi. “Kehidupan” mereka “dibeli”? Tak perlu saya berpanjang-panjang dengan kalimat. Pernah bekerja di sana adalah “mimpi buruk”. Terima kasih.

    Suka

  6. bozzton berkata:

    Wah..mas zainal termasuk marketing GA bisa jualan.buktinya saya uda 6 thn bergabung.Dan ratusan Anak yatim bsa di bantu oleh Pustaka Lebah…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s