Business, Life, Mindset

Jumlah Entrepreneur Kurang karena Orang Indonesia Takut Ambil Risiko

Sebuah artikel di Harian Seputar Indonesia, menarik perhatian saya.

Jumlah pebisnis atau wirausahawan di Indonesia masih sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Salah satu penyebabnya adalah perilaku masyarakat Indonesia.

Dalam melakukan bisnis, perilaku masyarakat Indonesia tidak mau mengambil risiko. Meski tidak mau mengambil risiko adalah sebuah tindakan yang wajar dalam kehidupan, dalam berbisnis hal itu menjadi tidak wajar.

“Umumnya di Indonesia perilakunya tak mau ambil risiko. Untuk itu, banyak sekali yang mau menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Padahal, dengan gaji PNS tanpa korupsi, seumur hidup gaji mereka akan habis untuk sekali ke Amerika,” ungkap Director Center for Innovation Entrepreneurship and Leadership sekaligus dosen di Sekolah Bisnis ITB, Dwi Larso pada penyelenggaraan The 2nd Indonesia International Conference on Innovation Entrepreneurship and Small Business(IICIES) 2010 kemarin.

Jadi, masalah rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia adalah masalah mental dan budaya.

Apakah karena bangsa kita terlalu lama dijajah ya?

Dari sejarah yang saya ketahui, Belanda itu dengan politik devide et empera-nya menarik orang-orang Indonesia untuk bekerja pada pemerintah Belanda. Padahal mereka sebenarnya dijadikan sebagai bemper untuk melawan rakyatnya sendiri.

Mereka diangkat jadi juru tulis, asisten, administrator, sampai jadi Bupati atau Demang. Derajat mereka ditinggikan oleh Belanda, terlihat keren oleh masyarakat, dipuja puji dan menjadi idaman para perempuan.

Penampilan mereka selalu rapi, bersih, terlihat intelek. Lama kelamaan profesi menjadi pegawai itu menjadi primadona para orang tua untuk mencarikan jodoh anak perempuannya.

Indonesia baru merdeka 64 tahun, sementara dijajah 350 tahun. Jelas, pengaruh yang ditanamkan para penjajah masih bercokol di benak sebagian besar orang Indonesa.

Sebagian besar masyarakat menilai bahwa menjadi wirausaha itu adalah “pilihan terpaksa” lantaran tidak diterima kerja.

Ada teman di Surabaya yang orang tuanya begitu malu dengan pilihan anaknya menjadi wirausaha. Setiap ditanya apa pekerjaan anaknya yang lulusan sarjana itu selalu dijawab, “Dia usaha sendiri”.

Istilah “usaha sendiri” itu sebenarnya adalah kata-kata yang mencerminkan keminderan, malu dan jauh dari bangga. Istilah “usaha sendiri” itu adalah profesi yang dijalani setelah “tidak laku” di pasar tenaga kerja.

Dulu saya pun mengalami keminderan serupa. Perusahaan-perusahaan tidak tertarik dengan saya lantaran nilai IPK saya tidak meyakinkan. Kalau pun sempat ikut tes psikologi, saya selalu gagal karena tidak tahan dengan tes yang penuh tekanan itu. Saya sukanya hidup bebas.

Maka saya pun memilih jalan pragmatis dengan “usaha sendiri”. Apa saja saya kerjakan. Mulai dari ikut MLM, jualan roti, jualan komputer, jualan ATK, freelancer asuransi, jualan kayu, jualan bahan bangunan sampai jualan pakaian.

Terus terang, saya malu dan minder dengan status ini. Sementara teman-teman seangkatan saya sudah mulai hidup enak dengan gaji dari kantornya. Satu per satu sudah mulai punya mobil. Hidupnya begitu mantap, berjalan lurus. Bandingkan dengan saya yang selalu belok-belok, turun-naik, terbentur sana sini. Sedih juga.

Jadi, wajar saja banyak orang tua yang tidak siap melihat anak kesayangannya mengalami nasib seperti itu. Risikonya besar sekali, terutama risiko mental. Mereka tidak ingin anaknya susah. Menjadi wirausaha adalah mencari susah. Mereka ingin anaknya hidup enak, terjamin, jalannya lurus sejak awal. Jadi pegawai adalah jalan impian paling aman.

Hasilnya? Orang Indonesia banyak yang jadi pegawai dan sangat sedikit jadi wirausaha.

Iklan
Standar

40 thoughts on “Jumlah Entrepreneur Kurang karena Orang Indonesia Takut Ambil Risiko

  1. sama dengan yang saya rasakan, usaha sendiri kastanya dibawah PNS.. kareana gak punya status. Banyak yang kasih saya info “disana lho ada lowongan sapa tahu di terima hiks.. hiks… ” dengan umur saya 29th punya usaha kecil aja dah bisa punya 2 rumah, 1 kos kosan, 2 mobil dll masih di pandang sebelah mata.. pernah ada ortu temen bilang jangan sering sering bergaul sama saya nanti ketularan gak kerja kerja

    Suka

  2. hm tapi emang bener sih. sekarang kan kita gak mau nyari susah. ada yang gampang ngapain cari susah kan? yah, mendingan jadi pegawai deh. gak repot, dana lancar lagi.

    Suka

    • bernandin berkata:

      syangnya Pegawai khususnya PNS TERKAYA sudah di pegang rekan anda GAYUS hehehehe…. sayangnya dari hasil Korupsi

      kalo ane lebih mencintai hidup jadi PENGUSAHA menjalankan SUNNAH NABI, Nabi Muhammad SAW seorang PENGUSAHA loh…

      Kaya dari hasil kerja keras sendiri, bukan karena tergantung dari orang lain alias ngikut orang lain atau parahnya lagi kerja tapi Korupsi seperti Gayus

      Suka

  3. Ping-balik: Jumlah Entrepreneur Kurang karena Orang Indonesia Takut Ambil … | Iklan baris langsung pasang tanpa pendaftaran

  4. Saya juga menyayangkan orang indonesia takut resiko , padhal perlu disadari bahwa bisnis identik dengan resiko ๐Ÿ˜ฆ Semoga bibit2 muda di Indonesia tidak takut resiko lagi

    Suka

    • alchemist19 berkata:

      yah, mau gimana lagi bu? bisnis aja ribet abis bu. trus entar kalo gagal kita nanggung risikonya gimana? kalo masih ada sisa modal mending sih. tp kalo gak ada dan utang numpuk? satu2nya cara yah, mending bunuh diri aja. saya bukan bullshit, maaf yah. no offence. karena ini yang dihadapi orang2 jaman sekarang.

      Suka

  5. Gita berkata:

    betul pak Roni..suami saya sekarang punya usaha sendiri…walaupun usaha-nya berjalan baik…namun orangtua saya dan keluarga selalu memandang rendah..dan bilang suaminya khan nggak kerja…loh? mang punya usaha itu nggak kerja yach?..ckckckc

    Suka

  6. belajar u/ ambil resiko lebih besar…
    untuk coba membeprcepat usaha..
    pekan2 ini saya berurusan dengan banyak bank syariah.
    untuk dpat pinjaman, selama ini ngak pernah urusan dengan bank.
    gimana pak Roni pendapat Anda ttg ini ?
    thx

    Suka

  7. Juniawan berkata:

    menurut saya rakyat indonesia yg bekerja sebagai PNS jg masih punya kesempatan untuk berwirausaha.

    di bagian tulisan anda yg mengatakan โ€œUmumnya di Indonesia perilakunya tak mau ambil risiko. Untuk itu, banyak sekali yang mau menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Padahal, dengan gaji PNS tanpa korupsi, seumur hidup gaji mereka akan habis untuk sekali ke Amerika,โ€ itu bersumber dari seorang dosen jg ya pak?
    padahal di tempat saya kerja skrg yg namanya dosen disini jg berstatus sebagai PNS lho..

    status saya saat ini CPNS, tp saya yakin suatu saat saya jg bisa berwirausaha. selain saya tetap menjalan tugas-tugas di instansi saya sebaik mungkin yg saya mampu.

    terima kasih.

    Suka

    • Setuju. PNS harusnya tersinggung dengan statement itu dengan bertekad, kami akan cari rizki halal dan merasa cukup dgn jadi pegawai. Kalau ingin lebih dari itu, kami harus jadi wirausaha. Make sense kan?

      Suka

      • Juniawan berkata:

        tekad seperti itu tanpa disinggungpun saya sudah menanamkannya pak.
        begitu juga tekad untuk membuka lapangan kerja untuk yg lain.
        wirausaha menurut saya adalah usaha dimana kita dapat membuka lapangan kerja untuk orang lain. CMIIW
        dengan saya menjadi PNS sembari berusaha membuka lapangan kerja lain? why not?
        topik disini sebenernya tentang “takut ambil resiko”
        padahal keputusan untuk menjadi PNS itu termasuk ambil resiko jg lho..

        Suka

  8. yaa begitulah nasib bangsa ini pak. Semoga dengan TDA, banyak yang akan bisa kita lakukan secara nyata membangun republik ini. Untungnya Ortu saya menanamkan jiwa dagang …tidak bermimpi jadi PNS…lagian saya khan orangnya pemalas. Malas berangkat pagi, malas pake sepatu, gerah pake seragam…gak suka di atur orang..hehehweee…makanya jadi pengusaha..

    Suka

  9. agito dan blog abal2 berkata:

    Terus terang, saya malu dan minder dengan status ini. Sementara teman-teman seangkatan saya sudah mulai hidup enak dengan gaji dari kantornya. Satu per satu sudah mulai punya mobil. Hidupnya begitu mantap, berjalan lurus. Bandingkan dengan saya yang selalu belok-belok, turun-naik, terbentur sana sini. Sedih juga.

    ini pula yang saya alami, saya masih dalam tahapan “usaha sendiri” ini pak, kemarin aja kumpul sama keluarga besar, banyak yang menyarankan untuk kerja lagi…

    Tapi saya bertekad untuk meneruskan jalan ini sampai tahapan seperti yang telah bapak raih… mohon bimbingannya.

    Suka

  10. Untuk menjadi seorang entrepreneur memang butuh keberanian tersendiri pak. Saya sendiri harus berhadapan dengan keluarga karena pilihan saya yang tidak mau mencari kerja yang mapan. Sungguh kadang itu jadi beban mental tersendiri.

    Suka

  11. setuju dengan mas ahmad yunus, saya juga mengalami hal yang serupa, berwirausaha “katanya” sama dengan tidak bekerja, jadi saya sering eyel2an sama mama gara2 disuruh nyari kerja, saya mbulet saja. kadang menjadi dilema dalam hati, ya… mudah2an allah meridhoi jalan ini walaupun kayaknya mama kurang meridhoi (ridhollahu fi ridhol walidain). sampai saat ini sering saya malas pulang kerumah, karena biasanya mesti gitu, orang tua berharap investasinya saat menyekolahkan saya cepat kembali dengan kerja kerja dan kerja. sedangkan saya lebih senang berwirausaha. terus iki piye???? bingung aku.

    Suka

    • maaf ikut urun rembuk mas.
      saya sangata sepakat dengan mas,
      ttg ridho ortu, orang tua sangat berpengaruh.
      sekarang bagaimana orang tua meridhoi pilihan sampean.

      sebelumnya saya ikut cerita sedikit,
      orang tua saya kedua PNS mas.
      saya memulai wiraswasta sejak kuliah.
      di semester 3 sudah ada penghasilan.
      blom lulus kuliah saya dan teman sudah bikin bendera.
      alhamdulillah, terseok-seok kami tidak terlihat oleh orangtua.
      karena status kami masih mhs, menjadi wajar mhs tidak punya uang ๐Ÿ™‚
      * pembelaan diri

      setelah lulus kuliah, saya sudah dapat memenuhi kebutuhan sendiri.
      bahkan ini di mulai sebelum saya lulus, setalah lulus kuliah
      saya sudah mulai sedikit ada bukti dengan pilihan saya, dengan punya laptop sendiri. orang tua tidak menuntut saya u/ jadi PNS.
      pernah sesekali disarankan ibu u/ jadi PNS, mungkin istri atau apa..
      waktu itu saya jawab dengan senyum…

      alhamdulillah sekarang saran ibu tidak lagi muncul
      setelah saya sedikit banyak bisa menunjukkan hasil pilihan saya
      sebagai wiraswasta…

      so saran saya. segara buktikan kalo jalan yang di pilih sampean itu benar.
      kuatkan tekat, percepat proses untuk membuktikan…
      semoga sukses, ilmu ttg ini banyak di jumpai di TDA.. ๐Ÿ™‚

      ..

      Suka

      • alchemist19 berkata:

        hm, emang kalo yang gampang buat mahasiswa bisnisnya apaan? trus emang gak berantakan kuliahnya?

        Suka

      • saya semester tiga ‘cuma’ jadi reseller hardware komputer pada waktu itu.
        padahal saya lulus smu tidak kenal komputer, saya berusaha belajar cepat ttg itu
        dan alhamdulillah, bisa memberi uang saku lebih.

        reseller ini tidak butuh banyak waktu, so kita tetep bisa konsen di kuliah.
        saran saya, mulailah dari yang tidak menyita banyak waktu. kuliah HARUS
        tetep jalan, disisi lain kita diamanahkan orangtua u/ kuliah. selin itu juga
        zero kerugian, karena hanya reseller.

        memang bisnis penuh resiko, tapi bisa di minimalis kok.
        untuk bisa jalan dua-duanya.. kuliah dan belajar bisnis
        salah satu yang HARUS diperhatikan adalah management waktu.

        apa yang bisa di garap ketika awal kuliah.
        silakan baca tulisan saya
        http://abudiyono.wordpress.com/2007/08/14/memulai-wirausaha/
        mau saya paste takut ngalahin panjang tulisan pak Roni..
        * maaf ya pak Roni… komen saya panjang2
        tidak ada maksud lain kecuali ingin berbagi….

        Suka

  12. alchemist19 berkata:

    hm, emang kalo jadi mahasiswa usaha apa yah yang enak? trus pake modal berapa? trusnya gimana biar kita gak keganggu kuliahnya sambil usaha? kalo rugi kitanya kena efek gak?

    Suka

  13. 1 billion for this note!!!
    betul!!! indonesia sgd membutuhkan lebih banyak wirausahawan!!!

    o y, ada catatan penting
    Perbedaan mindset AS & Ind: di AS 80 bermindset winner & 20 loser, di Indo 80 loser & 20 winner. Even anak TK

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s