Life, Renungan

Kebahagiaan Sejati, Di Manakah Dia?

Banyak orang sukses secara ukuran materi tapi hidupnya hampa. Jiwanya kosong.

Semua telah diraihnya, tapi ia tidak bahagia dengan itu.

Semua telah dimilikinya tapi tak juga memberinya kebahagiaan yang dicari.

Lantas, apa yang bisa membuat bahagia itu?

Kebahagiaan yang sejati bukanlah didapat saat menerima dan memiliki. Kebahagiaan sejati didapat saat memberi, melepaskan apa yang kita miliki untuk kepentingan yang lebih besar daripada diri dan keluarga kita.

Sebuah tulisan yang begitu menginspirasi dari Pak Jamil Azzaini saya dapatkan di milis TDA hari ini:

Kebahagiaan terwujud ketika Anda memulai sesuatu yang tidak akan berakhir meskipun hidup Anda telah berakhir.

Itu semua bisa terjadi tatkala keberadaan Anda memberi makna untuk orang-orang di sekitar Anda. Hidup bukanlah hanya tentang diri dan keluarga Anda semata.

Hidup juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain. Berilah perhatian pada orang lain.

Renungkanlah kontribusi apa yang akan Anda berikan hari ini untuk orang-orang di sekitar Anda?

Kebaikan apa yang akan Anda tawarkan hari ini?

Penyakit sosial apa yang akan Anda sembuhkan?

“Setiap orang akan mati. Tapi hanya sedikit dari kita yang akan terus hidup.” Mereka yang tetap hidup adalah mereka yang meninggalkan tanda di alam semesta – kata Mel Gibson di film Bravehart.

Semoga tulisan ini juga menginpirasi kita semua untuk sama-sama mengejar kebahagiaan sejati ini sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikanNya.

Iklan
Standar

5 thoughts on “Kebahagiaan Sejati, Di Manakah Dia?

  1. Pak Roni, sy mau dong di invite di milis TDA, biar terus-terusan dapat atmosfir ini…
    Saya salut dan bener-bener merasa bersyukur “menemukan” komunitas ini… terima kasih.

    Suka

  2. bernandin berkata:

    ini salah satu contoh dari saya Mas

    Amal jariyah membangun Masjid, jadi ketika kita telah tiada tapi amal ibadahnya mengalir terus kepada kita selama Masjid tsb digunakan untuk beribadah orang banyak

    Suka

  3. Membaca judul ini saya jadi teringat dengan bukunya pak Budi Yuwono: SQ Reformation, Rahasia Pribadi Cerdas Spiritual “Genius Hakiki”, Tujuh Tahap Kurikulum Kehidupan “Proses Penciptaan Kelimpahan Sejati”.
    Berikut kutipan dari buku tsb:
    “Bahkan orang yang sudah mempunyai “segalanya” menurut pandangan orang awam: kaya raya, sehat, dan hubungan yang baik, tetapi dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran karena Spiritualitasnya tidak cerdas, orang tersebut pasti tidak mengalami Kelimpahan Sejati. Sebaliknya, orang yang religius, bahagia, punya hubungan baik, tetapi sakit-sakitan dan dikejar utang terus-menerus, juga tidak mengalami kehidupan ber-Kelimpahan Sejati.
    Dari sini terlihat jelas, bahwa pandangan yang selalu memisahkan dan mempertentangkan antara SQ dan PIE-Q, (antara jasmani-jiwani dan Rohani) adalah keliru. …”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s