Uncategorized

Gaya Hidup Serba Cepat

Tulisan Arvan Pradiansyah di SWA selalu menarik perhatian saya.

Kali ini ia “menggugat” paradigma kesuksesan yang selalu menggunakan rumus “kecepatan”.

Untuk sukses, kita memang selalu dituntut serba cepat, lebih cepat dan lebih efisien.

Berbeda dengan rumus kebahagiaan yang justru bisa dicapai dengan melambatkan cara berpikir kita. Misalkan, dalam berhubungan dengan orang lain, lebih lambat justru lebih baik.

Menurut Arvan, ada 3 manfaat yang kita peroleh dengan memperlambat tempo kita:

1. Menciptakan hubungan emosional, bukan sekedar transaksional. Tindakan serba cepat mengkomunikasikan pesan bahwa “Aku hanya ingin bertransaksi bisnis denganmu, bukan menjalin hubungan baik”.

2. Menunjukkan bahwa kita mengasihi orang lain. Kasih itu lambat, bukan cepat. Kasih itu berarti peduli. Orang-orang yang peduli mau mendengarkan dengan sepenuh hati, dalam suasana yang rileks dan lambat.

3. Memperlambat tempo akan meningkatkan kepekaan kita kepada orang lain. Setiap orang membutuhkan sapaan, perhatian, senyuman. Ketika hidup di jalur cepat, kita tidak bisa melakukan itu. Kita selalu berasumsi mereka baik-baik saja, tak ada masalah. Kita menganggap semua orang di hadapan kita sebagai hambatan yang harus disingkirkan.

Arvan Pradiansyah juga mempertanyakan dalih quality time yang selalu digunakan orang-orang di jalur cepat ini. Padahal, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan waktu berkualitas dengan orang lain bila waktu yang tersedia sangat sedikit?

Menurutnya, dalam hubungan antar manusia, lebih lambat sesungguhnya lebih cepat. Karena itu kita perlu memperlambat tempo kita dan menyediakan waktu untuk hubungan yang lebih berkualitas.

Iklan
Standar

12 thoughts on “Gaya Hidup Serba Cepat

  1. Bila pikiran dan anggapan sebagian orang, sukses itu bisa dicapai dengan cepat. Maka tak lagi diperlukan kerja keras, kerja cerdas dan ikhlas. Kita bisa mencapai kesuksesan tersebut dengan hanya membeli formula bisnis yang dijual oleh mereka2 yang katanya bisa membantu sukses seseorang dengan dengan instan. Kalau ada saya juga mau beli, asal ada garansinya. Tidak sukses uang kembali 1000%.

    Suka

  2. Agus Tse berkata:

    yup. betul pa…
    …cepat lambat tergantung individunya masing2 asalkan kita mampu toh kita yang menjalanin bukan orang lain….
    memang adakala cepat itu baik, tapi cepat juga bisa buruk ya kita nya juga percepatannya gimana?
    memang adalaka lambat itu baik tapi lambat juga buruk ya kita juga.percepatannnya gimana juga…
    jadi hal ini kita harus memilih bwt kitanya sendiriii juga kepedulian pada orang lain..

    Suka

  3. Pak Roni…ini adalah tulisan terbaik yang ada di Blog bapak selama 2 minggu ini. Sebuah tulisan untuk me Reformasi cara berfikir kita, yang selama ini banyak orang anggap baik ternyata berkebalikannya untuk menjadi benar. Menjalankan bisnis bukan melulu masalah jual-beli ke pembeli tapi ilmu kasih untuk pelanggan kita yaitu melayani dengan ketulusan hati, berusaha memberikan produk yang terbaik, memberikan solusi apabila pembeli mengalami kesulitan, berbicara jujur dengan mereka akan memberi dampak yang dashyat untuk jangka panjang dan itu memerlukan waktu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s