Business

Toko Online: Jangan Outsource Core Competency Anda

Ini pelajaran berharga yang dibagikan Tony Shieh (CEO Zappos) di buku Delivering Happiness.

Empat tahun pertama Zappos itu ternyata berdarah-darah. Banyak sekali kesalahan yang mereka perbuat.

Makanya, di pengantarnya Tony Hsieh mengatakan bahwa buku ini ia tulis agar pembaca tidak melakukan kesalahan yang ia lakukan.

Awalnya, model bisnis Zappos adalah drop ship. Zappos hanya menerima pesanan dan pembayaran, kemudian meneruskan pengepakan dan pengiriman barang sampai tujuan oleh pemilik brand sepatu yang menjadi mitranya.

Model bisnis ini membuat Zappos banyak diuntungkan dari segi penghematan. Mereka tidak perlu punya gudang, inventory, armada pengiriman dan karyawan.

Masalahnya adalah dari sisi pelayanan pelanggan dan optimalisasi penjualan. Banyak pelanggan yang kecewa karena barang terlambat dan stok kosong. Tentu saja, pemilik brand akan lebih mengutamakan penjualan lewat jalur distribusinya sendiri ketimbang lewat Zappos. Banyak sales opportunity yang hilang.

Kemudian Tony memutuskan untuk menyediakan inventory. Namun gudang dan pengiriman dialihdayakan (outsource) kepada sebuah perusahaan logistik. Memang jadi lebih efisien karena tidak perlu menyediakan karyawan dan tidak banyak duit mati di fixed asset.

Hasilnya, penjualan meningkat tapi tetap belum optimal. Masih banyak pesanan yang telat, inventory berantakan sehingga sulit dicari. Tenaga alih daya tidak peduli dengan kecepatan dan ketepatan pengiriman. Sales opportunity masih banyak yang loss. Sekali dua kali ditegur, tetap saja belum berubah.

Akhirnya Tony sadar bahwa pelayanan atau customer service adalah core competency Zappos yang tidak bisa dialihdayakan dan tidak bisa dihemat dengan alasan efisiensi jangka pendek.

Pelajaran yang sangat berharga. Empat tahun mereka baru menyadari hal ini, setelah berdarah-darah.

Pelajaran berharga juga buat kita yang baru atau akan merintis bisnis toko online.

Bagaimana model bisnis toko online anda?

Di mana core competency-nya?

Kalau sudah ketemu, stick to it, fokus. Optimalkan dan besarkan. Core competency setiap perusahaan pasti beda-beda dan sulit ditiru.

Iklan
Standar

8 thoughts on “Toko Online: Jangan Outsource Core Competency Anda

  1. Di beberapa toko online yang saya kerjakan, saya menemukan model yang berbeda di tiap-tiap toko online. Ada yang melakukan stock, ada yang produk dibuat berdasarkan order (umumnya karena startup atau memang harus dibuat terlebih dulu). Bahkan ada yang baru sama sekali melangkah ke online dan tidak mempersiapkan infrastruktur pendukungnya (email, koneksi internet, online support – yang kesemuanya bisa dihandle melalui BB). Umumnya semua di-handle sendiri dari pembelian hingga mengirimkan barang ke pihak kurir.

    Benar bahwa layanan merupakan kunci utama toko online, sehingga perlu memotong banyak proses untuk memberikan layanan terbaik ke pelanggan. Misalnya tanpa ongkos kirim, atau ongkos kirim sudah diketahui sesaat sebelum checkout. Dengan demikian proses transaksi lebih simple tanpa si pembeli harus menunggu konfirmasi besarnya ongkos kirim yang harus dia bayarkan.

    Bagi saya kunci lain yang harus dipegang oleh startup toko online adalah dengan mempersiapkan infrastruktur pendukung toko online, termasuk sisi SDM misalnya siapa yang akan menghandle semua online order dan memprosesnya hingga barang terkirim.

    Begitu Pak Roni..

    Suka

  2. Lina berkata:

    Core competency Toko Online adalah : System dengan design and memiliki functionality2 yg baik, serta database yg baik.

    Toko online seperti e-bay memang terlihat simple dari interface nya, cuman di balik layar, banya logika2 dan functionality2 yg mencegah agar shipping tidak kosong, atau menyembunyikan barang2 kosong dari pemebeli

    Misal : system online memiliki counter, yg bisa menghitung secara otomatis bila barang hampir kosong, ada warnning emial dikirim ke system admin, terus barang kosong itu tidak di display di website.

    Masalah inventory sebernya bisa dipecahkan dengan database design. Database yg baik akan memudahkan untuk mencari, dan bisa menghasilkan report yg bisa digunakan untuk mengetahui jumlah stock, tinggal kepopuleran stock, dan dearah pembeli ( customer and product segmentation) .

    Untuk mendesign toko online, tentunya kita membutuhkan programmer yg bisa membuat websitenya, namun banyak pengusaha2 di Indonesia, yang tidak melibatkan Bussiness Analyst di online business mereka atau system design.

    Seorang Business Analyst adalah penghubung antara pemilik online system dan programmer. Mereka akan menganalisa techonology yg terbaik yg paling effeicnet untuk business anda, dan juga menganalisa resiko2 yg akan terjadi, dan cara penanggulan terbaik. Mereka mendesign online system dari sudut pandang business dan technology. Setelah design nya siap , maka design akan dikirim ke programmer untuk di buat.

    Zappos Model mirip dengan amazon, namun idenya sangatlah simple, namum menurut saya gagal karena, system dan database tidak didesign secara baik.

    Suka

    • wah ibu tau darimana db mereka gagal? terlalu dini bu kalo bilang gagal. yang dibilang gagal tuh yang bisnisnya udah bener2 ga jalan, mandek dan menyerah. lagipula pembicaraannya terlalu jauh kalo sampe diurut2in ke logika, programmer dan db, disini kayanya core competen-nya harus dicari sendiri. kecuali ibu memakai kata “in my opinion” disitu. 🙂

      saya setuju dengan pendapat ibu suatu startup lebih baik memakai bisnis analis. tapi semua itu harus kita liat cakupannya (scope), model bisnisnya, trend dan perkembangannya. ada kalanya start small lebih baik baru kita hire bisnis analis. atau ada kalanya kita hajar dulu bisnis analis terus main offline baru kita hire paket onlinenya. fleksibel aja hehehe

      Suka

  3. Pak Rony,
    Sangat bagus dan berisi artikelnya.
    Memang kalo disebut TOKO, identik dengan display barang yang bisa di pilih, namun pengalihan teknology smakin bermanfaat di dunia maya. Toko tidak perlu memikili semua barang yang di list toko onlinenya, ada yang pesan baru di order.

    Hal ini yang saya lakukan diawal-awal berdirinya http://www.rodadua.net, sampai pada titik, dimana barang yang di pesan sudah tidak tersedia di suplier, dan ini bukan sekali atau dua kali, sehingga ini membuat pelajaran tersendiri untuk saja.

    Keputusannya harus diambil. Jika memang kurang secara modal, saya usahakan 95% produk yang di list di toko online harus ada stok, sisanya by order. Biasaya yang tergolong mahal. Namun yang mahal juga saya stok banyak jika turnovernya tinggi.

    Artikel ini sangat bermanfaat bagi pemula, sehingga jangan 100 persen anda berisnis online hanya modal gambar, namun dengan adanya produk fisik yang anda punya, PASTI anda punya gairah yang lebih untuk menjual.

    Secara tampilan toko online, tidak bisa komentar, bagi saya itu terganti pribadi dan target market produk yang dipasarkan.
    Pelayanan itu yang utama, produk selanjutnya.

    Salam sukses

    Suka

  4. bernandin berkata:

    kata Pak Tung

    tidak ada kata Gagal, yang ada hanya SUKSES atau BELAJAR

    Belajar dari Kesalahan atau Belajar dari yang TERBAIK yaitu Zappos 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s