Uncategorized

Profit = Pleasure?

Di bagian akhir buku Delivering Happiness, Tony Hsieh menyajikan 3 Framework of Happiness. Salah satunya yang saya suka (karena simple) adalah model 3 jenis kebahagiaan, yaitu: Pleasure, Passion, Purpose.

1. Pleasure
Ini yang biasanya dikejar sebagian besar orang. Kesenangan.
Masalahnya, tipe pleasure ini selalu membuat “ketagihan” dan “ketergantungan”. Ia selalu meminta: more, more and more.

Riset membuktikan bahwa tipe kebahagiaan seperti ini tidak berlangsung lama. Saat punya mobil baru, senangnya bukan main. Tapi itu tidak berlangsung lama. Apalagi setelah mobilnya terserempet Bajaj, misalnya.

Jenis kebahagiaan seperti ini juga rentan terhadap perbandingan. Begitu tetangga beli mobil baru yang lebih keren, “rasa bahagia” terhadap mobil milik sendiri secara ajaib bisa drop.

2. Passion
Ini adalah kondisi “flow”, saat “peak performance” dan “peak engagement” kita bertemu. Kesibukan yang mengasyikkan. Seperti artis atau seniman yang begitu masyuk dengan dunianya. Seperti musisi jazz yang “flow” saat berimprovisasi. Seperti atlit profesional yang begitu larut dengan permainannya.

Riset menyimpulkan bahwa jenis kebahagiaan tingkat kedua ini berlangsung lebih lama dibandingkan level pertama tadi (pleasure).

3. Higher Purpose
Ini adalah jenis kebahagiaan saat kita menjadi dan melakukan sesuatu yang “di luar diri kita”, menjadi bagian dari sesuatu yang “lebih besar” daripada diri kita, mengejar sesuatu yang lebih “bermakna”.

Riset menunjukkan inilah jenis kebahagiaan tertinggi yang “long lasting”.

Sebagai orang bisnis, tentu kita selalu mengejar yang namanya profit. Yang menarik, Tony Hsieh justru menyamakan profit itu dengan pleasure, jenis kebahagiaan di level paling bawah.

Kalau dipikir-pikir, betul juga ya. Kriteria pleasure sifatnya cepat “menguap” dan selalu membuat kita ingin lebih dan lebih lagi. Kalau kita selalu berpatokan kepada profit, memang begitu rasanya. Kita ingin selalu lebih dan lebih. Tidak pernah puas.

Kita selalu senang luar biasa begitu mencapai profit tertentu, tapi tidak berlangsung lama, karena setelah itu kita mentargetkan profit lebih besar lagi. Begitu terus menerus.

Maka dari itu, buatlah bisnis kita atau komunitas kita sebagai kendaraan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi daripada kesenangan (baca: profit) saja.

Hidup kita, bisnis kita, komunitas kita harus kita bawa untuk meraih “higher purpose” itu, jangan hanya sebagai sarana mencari kesenangan belaka.

Iklan
Standar

7 thoughts on “Profit = Pleasure?

  1. Salam.
    Saya selalu tertegun ketika membaca tulisan-tulisan Bang Roni. Sangat inspiratif dan menggerakkan. Meskipun dalam konteks saya, saya kebingungan tuk mendahulukan mana yang prioritas utama. Semoga kebingungan ini segera reda.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s