Uncategorized

Kenapa Orang Minang Jarang Mudik?

Sebuah pertanyaan di Twitter diajukan oleh Pak Komaruddin Hidayat (rektor UIN) dan menggelitik saya untuk menulis di blog. Jadi dapat ide πŸ™‚

Begini statusnya:

Komar_hidayat: Org Jawa mudik menjelang lebaran. Smtr Bugis ato Minang pulang kampung setelah lebaran. Apa iya?”

Jawaban saya:

Iya.

Karena, orang Minang kebanyakan berdagang ritel di pasar dan masih berjualan saat malam takbiran :).

Puncak ramainya pembeli adalah paska pembagian THR sampai malam takbiran.

Sebenarnya, secara umum orang Minang termasuk jarang mudik lebaran. Alasannya adalah karena ekonomi. Mereka yang ekonominya masih “struggle” jarang sekali mudik, bahkan bertahun-tahun. Tidak mudik 5 sampai 10 tahun adalah biasa. Mereka hanya mengirim uang saja ke kampung.

Lho, bukannya saat lebaran di Sumbar itu macet di mana-mana dengan kendaraan dari Jakarta, Medan dan Riau? Ya, yang sering mudik adalah mereka yang ekonominya sudah mapan.

Mereka yang ekonominya masih di bawah bahkan “dilarang” oleh orang tuanya untuk mudik. Lebih baik uangnya disimpan saja untuk diputar membesarkan usaha dagang dari pada dihambur-hamburkan saat mudik. Kalau pun “terpaksa” mudik, biasanya karena ada urusan penting, seperti ada hajat atau ada yang sakit dan meninggal.

Mereka baru “diijinkan” mudik setelah ekonominya stabil. Tanda ekonominya sudah stabil adalah dengan memiliki toko, tidak ngontrak lagi. Rumah dan mobil adalah prioritas berikutnya setelah toko atau tempat usaha.

Ada pepatah Minang mengatakan “di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”. Artinya, orang Minang menganggap bahwa di mana pun merantau, ia menganggap daerah itu sebagai kampung halaman keduanya. Mereka beradaptasi dan berasimilasi dengan penduduk dan budaya setempat. Bahkan banyak yang menikah dengan orang setempat. Jadi, mereka merasa sudah memiliki kampung sendiri.

Satu hal lagi yang membuat orang Minang malas mudik adalah karena di kampung sudah tidak ada keluarga lagi lantaran sebagian besar merantau. Rumah-rumah banyak yang kosong. Pulang kampung malah membuat mereka sedih.

Sebagian besar keluarga mereka ada di rantau. Jadi, silaturahimnya tidak di kampung lagi, melainkan di rantau. Keluarga besar saya yang tinggal di kampung mungkin hanya 10% saja. Mayoritas ada di Jakarta dan Seremban (Malaysia).

Pulang mudik buat keluarga besar saya bukan lagi untuk bersilaturahim dengan keluarga, tapi sekedar melepas rindu dengan kampung halaman. Semua keluarga sampai kakek nenek ada di rantau. Jadi, buat apa mudik?

Tulisan ini berdasarkan pengamatan pribadi saya. Silakan dikoreksi jika salah.

Iklan
Standar

12 thoughts on “Kenapa Orang Minang Jarang Mudik?

    • alwi berkata:

      Nggak juga, tergantung, dari keturunan saya cuma sy yg merantau ke jakarta, keluarga sy lbh senang memanfaatkan potensi didaerah drpd ke jakarta. jd mrk ikut mengurangi semrawut jakarta, hehehe

      sy sunda asli πŸ™‚

      Suka

  1. ga juga kok…
    justru di saat lebaran itu saatnya reuni di kampung, temen sepermainan waktu kecil di sebelah rumah juga ketemunya pas lebaran di kampung itu

    ps: saya minang asli πŸ™‚

    Suka

  2. Saya tambahkan, pendapat Pak Roni ada benarnya juga, tapi tidak semua juga seperti itu. Orang minang sebagian besar adalah Pedagang, beda dengan suku2 lain seperti misalnya Jawa/ sunda yg sebagian besar masih berjiwa karyawan. Seorang Pedagang/ pebisnis akan memanfaatkan/ mempergunakan keuangan mereka sebaik2nya. Karena mereka paham benar sulitnya mencari uang, penghasilan mereka tidak pasti. Beda dengan Karyawan, karena pendapatan mereka “Pasti” mereka menggampangkan dalam pemanfaatan uang (toh bulan depan juga gajian lagi). Jadi kesimpulannya adalah bukan pada sukunya(jawa, minang, sunda, dll) tapi pekerjaannya. Saya asli jawa, profesi kebetulan wiraswasta. Saya tidak pernah mudik.

    Suka

  3. Bina berkata:

    Mudik gak cuma di Indonesia kok, di Amerika juga ada mudik, biasanya menjelang Natal dan Tahun baru atau Thanks Giving bulan November, biasanya mereka pulang juga ke kampung halaman untuk silaturahim ke orang tua atau kerabat, tiket pesawat misalnya udah di pesan jauh2 hari. Kalau liburan musim panas dimana anak2 sekolah liburan sampai 2 bulan mereka bisa menyewa mobil trailer atau mobil piknik yang isinya komplit ada dapur kecil , kamar mandi dan tempat tidur, bisa ngangkut anggota keluarga termasuk binatang peliharaan. Yang ini tujuannya bisa mudik atau jalan2 cross country. Mudik memang ada kaitannya dengan ekonomi, silaturahim, kebahagiaan, jadi gak bisa diukur sama uang atau ras dan agama tertentu. Siapa aja yang mau mudik silahkan aja kapan aja, apakah tujuannya untuk ketemu orang yang dicintai, sekedar memori aja atau cuman melihat kampung halaman yang kosong. hehe.. Kebetulan saya pernah ngalamin itu semua. Tahun kemarin saya mudik ke Bukit Tinggi tinggal di rumah nenek yang kosong. Disana banyak rumah yang kosong ditinggal merantau pemiliknya, rumahnya besar2 udah direnovasi jadi bangunan modern, ada tabek (kolam ikan) seukuran kolam renang, tiap rumah dipasang parabola.
    Saya Minang lahir di Jakarta. 7 tahun di Amerika (Las Vegas, New York, Miami) Saudara semua ada di Jabotabek. Suami orang Bugis Wass. Minal aidin walfaidzin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s