Life

Sosial Media dan Paradoksnya

Sebuah tulisan menarik dari Pak Nukman yang mengungkap riset bahwa social media tidak membuat penggunanya menjadi nirsosial atau asosial. Tapi malah membuat makin sosial.

Contohnya banyak dan saya juga merasakannya. Saya jadi terkoneksi lagi dengan teman-teman lama. Beberapa kali di rumah saya diadakan pertemuan dengan kawan lama dari SMP, SMA dan kuliah. Dunia kami jadi makin dekat. Ini semua berkat bantuan sosial media, khususnya Facebook.

Selain itu saya juga jadi kenal teman-teman baru dan beberapa di antaranya menjadi teman dekat, bahkan ada jalinan kerja sama bisnis di antara kami.

Melalui Twitter saya jadi ter-update dengan isu-isu masyarakat terkini dan belajar dari warga Twitter bagaimana untuk tidak hanya ceriwis berkomentar, tapi juga bertindak. Contohnya adalah saat bencana Tsunami Mentawai dan Merapi sekarang ini. Sangat terasa “gerakan” di Twitter itu tidak hanya omdo.

Bahkan saja pernah mendapat kiriman hadiah dari teman-teman baru yang saya hanya kenal dari nama akun dan avatarnya di Twitter. Saya pernah dikirimi itik lado hijau dari Ngarai Sianok gara-gara mengomentari status di Twitter. Saya juga pernah dikirimi berbungkus-bungkus bakwan Malang dari seorang teman Twitter yang baru buka usaha di Kali Malang.

Saya juga berkesempatan memberikan endorsement untuk buku-buku yang ditulis oleh teman-teman di Twitter dan Facebook. Jumlahnya sudah sulit saya hitung. Sebagai “imbalannya” saya dikirimi banyak buku gratis 🙂

Pokoknya banyaklah keuntungan sosial yang kita dapat dari aktivitas bersosial media ini.

Contoh nyata lain adalah kemarin. Saya dan Pak Try Atmojo, Hantiar, Andrias Ekoyuono dan Andi Sufariyanto janjian untuk hadir di peluncuran Samsung Galaxy Tab di Plaza Senayan yang fenomenal itu (1.000 unit ludes dalam sehari!). Ini adalah bukti hubungan sosial yang terjalin melalui sosial media.

Namun, satu hal yang saya rasa kurang dari banyaknya teman di sosial media ini adalah hubungan menjadi dangkal. Ini sebuah paradoks. Teman banyak tapi hubungannya dangkal. Saya tidak kenal secara dekat sebagian besar teman di sosial media itu.

Saya pernah mengundang teman-teman maya itu untuk bergabung dengan saya ngopi-ngopi di Citos, tapi tidak banyak yang menanggapi. Mungkin juga waktunya kurang tepat. Saya ingin mereka tidak hanya jadi teman maya, tapi juga jadi teman yang riil, teman yang saya kenal secara nyata.

Paradoks lain adalah hubungan dengan lingkungan terdekat, yaitu tetangga. Terus terang, tidak seakrab dan semesra di sosial media. Saya lebih tahu apa yang dilakukan teman Twitter yang jauh di Depok ketimbang apa yang dilakukan tetangga saya di sebelah rumah.

Bagaimana dengan keluarga yang waktunya terampas oleh aktivitas bersosial media melalui mobile phone? Itu sih tergantung penggunanya. Kalau berlebihan dan tidak pada tempatnya memang bisa mengganggu hubungan keluarga. Di sinilah perlu kebijakan ketat bagi pengguna, misalnya tidak menggunakan BB saat di rumah bersama keluarga.

Saya juga mulai merasa terbiasa dengan kebiasaan istri yang berbicara dengan saya sambil mata dan jemarinya sibuk dengan BB. Saya tidak berani protes, sebab itu akan mengakibatkan bumerang juga buat saya sendiri 🙂

Sosial media sudah bukan lagi untuk diperdebatkan manfaat dan mudaratnya. Kehadirannya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Itu semua kembali kepada kita, man behind the gun-nya.

Cuma, sebuah riset juga mengatakan bahwa orang-orang yang super rich tidak banyak menghabiskan waktunya di sosial media. It’s okey, saya paham. Waktu mereka tidak banyak untuk hal ini.

Ini juga membuat saya berpikir bahwa kalau mau jadi super rich, jangan banyak menghabiskan waktu di sosial media.

Iklan
Standar

5 thoughts on “Sosial Media dan Paradoksnya

  1. “…kalau mau jadi super rich, jangan banyak menghabiskan waktu di sosial media.”

    Yang ini saya masih belum bisa setuju. Saya justru bertemu dengan orang2 kaya lewat media sosial di internet. Dari mereka saya belajar banyak hingga saya bisa berguru jarak jauh atau bahkan akhirnya punya kesempatan untuk bertemu langsung dan belajar jarak dekat dari mereka.

    Dulu memang pernah saya begitu keranjingan media sosial, tapi akhirnya saya sadar bahwa apa2 yang berlebihan itu tidak baik. Ya sudah sekarang saya fokus ke tujuan saya bersosialisasi via internet : belajar dan berguru. Termasuk dari orang-orang seperti Pak Roni 🙂

    Suka

  2. Assalamu’alaikum, mas roni, semoga sukses selalu…
    Emang ada benarnya, kondisi kehidupan ini selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Tentu saja kita tidak akan bisa berlaku adil 100% diantara banyak pilihan. kurang tepat seandainya kita membenturkan 2 keadaan yang saling bertentangan. pada intinya sikap yang harus menjadi rambu2 kita adalah, dimanapun keberadaan kita, selalu memberikan manfaat, sekalipun orang lain bisa kurang tepat memandangnya.

    Suka

  3. happy aprilia berkata:

    hmm, membaca artikel ini bikin saya ingat dengan kakak saya seorang dokter perempuan muda yg sebenarnya pekerja keras, cantik, pintar, dan bertalenta tp terjerumus dan terperangkap dalam kesibukan berfbnya yg sampai2 mengalahkan sosialisasinya terhadap orangtua kami yg satu rumah dengannya, bahkan praktik dokter yg dikesampingkannya, terlebih lg kebutuhan jasmani (makan, minum, mandi, menghirup udara segar, dan tidur) dan rohaninya (sholat) yang diabaikannya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s