Life, Minimalism

Gaya Hidup Minimalis (Always) On Progress

Sejak saya mendeklarasikan diri untuk mencoba mempraktekkan gaya hidup minimalis selepas Idul Fitri 1430 H ini statusnya selalu on progress.

Dalam perjalanan mempraktekkannya, saya merasa masih jauh dari kondisi ideal, apalagi jika dibandingkan dengan Leo Babauta misalnya.

Selalu ada koreksi dan kontradiksi yang saya lakukan.

Misalnya, soal rumah. Leo menganjurkan agar tinggal di rumah yang ukurannya kecil saja, supaya mudah dan murah maintenance-nya. Dua tahun lalu saya baru pindah ke rumah yang cukup besar. Itu sebuah kontradiksi.

Namun saya berusaha mengimbangi kontradiksi itu dengan terus berusaha membuat suasana di rumah menjadi seminimalis mungkin. Interior rumah saya sudah cukup minimalis. Semua perabot di rumah saya adalah yang esensial saja. Tidak ada pernik-pernik apa pun di dalamnya.

Kemarin saya membongkar lemari pakaian. Hasilnya 2/3 pakaian itu saya keluarkan, karena sudah tidak terpakai lagi dan saya berikan kepada yang membutuhkan. Baju-baju itu masih bagus, tapi karena tidak atau jarang dipakai lagi, saya keluarkan dari lemari. Lemari saya sekarang lebih lega dan “enteng”.

Saya juga tidak bisa mengurangi membeli pakaian. Ini lantaran bisnis saya di bidang fashion harus terus mengikuti perkembangannya. Ini sama dengan orang yang hobby fotografi misalnya. Tidak mungkin ia mengurangi alat-alat fotografi yang harus dimiliki jika ingin mempraktekkan gaya hidup minimalis, sedangkan ia harus terus mengasah kemampuannya di bidang itu.

Saya juga melakukan audit terhadap majalah-majalah yang terus menumpuk. Semua majalah yang tidak masuk kriteria esensial saya keluarkan dan berikan kepada tukang sampah. Saya hanya mempertahankan majalah yang masih saya gunakan sebagai referensi, majalah yang usianya di atas 2 tahun saya keluarkan.

Kontradiksi lain misalnya soal sekolah untuk anak. Leo Babauta mempraktekkan home schooling untuk anak-anaknya. Alasannya, semakin jauh sekolah semakin membutuhkan effort besar untuk mencapainya. Bensin menjadi boros dan sebagainya.

Saya menyekolahkan anak yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Untuk mengantar jemputnya memerlukan supir dan selalu masuk tol. Jadinya malah maksimalis. Di sinilah kontradiksinya.

Ke depannya, saya mungkin akan mencari sekolah bagus yang dekat dengan tempat tinggal atau pindah rumah ke dekat sekolah itu.

Soal makan, ini sudah saya upayakan agar maksimal hanya 1 kali makan di luar, terutama di saat kerja siang hari. Makan pagi dan malam biasanya saya selalu di rumah. Sekali seminggu di saat libur saya masih makan di luar juga.

Semakin sering makan di luar, tidak hanya boros, tapi juga membuat bumi semakin panas. Bayangkan semua restoran itu harus menyalakan api setiap melayani pesanan.

Pembaca mungkin berpikir, kok hal-hal remeh temeh dan nggak penting ini ditulis di blog?

Menurut saya, justru hal-hal nggak penting ini adalah yang esensial.

Sekarang di mana-mana sedang dibangun kesadaran untuk hidup sederhana, hidup secukupnya, untuk menghemat energi, untuk menjaga lingkungan, untuk mengurangi pemanasan global.

Sebelum mampu mengubah cara berpikir dan gaya hidup masyarakat, itu semua hanyalah jargon kosong menurut saya.

Sekarang banyak pejabat meneriakkan gerakan cinta lingkungan sambil terus mengendarai mobil yang cc-nya di atas 3.000. Bagaimana ini bisa ditiru oleh masyarakat?

Sebuah kampanye, sebuah gerakan akan mustahil berhasil jika tidak ada contoh konkrit dari pemimpin atau tokoh-tokoh panutan. Belum ada tokoh sekaliber Ahmadinejad di negeri ini yang “walk the talk” dalam hal hidup sederhana.

Gerakan gaya hidup minimalis menurut saya inheren dengan gerakan cinta lingkungan.

Gaya hidup minimalis mengurangi konsumsi energi berlebihan.

Gaya hidup minimalis, jika dilakukan oleh seluas mungkin masyarakat, akan mengurangi pemanasan global.

Gaya hidup minimalis mengurangi masyarakat terjebak dalam pola hidup konsumtif.

Gaya hidup minimalis mengajak masyarakat untuk lebih produktif, bukan sebaliknya.

Gaya hidup minimalis juga sesuai dengan semangat dalam agama yang menyarankan hidup sederhana. Zuhud dalam bahasa agama Islamnya. Ujung-ujungnya bisa mengurangi tingkat korupsi.

Ini adalah gerakan zuhud modern yang ironisnya malah saya pelajari dari seorang blogger bule bernama Leo Babauta.

Saya sendiri masih terus belajar ke arah sana, meski pun prosesnya tidak mudah dan terus mengoreksi diri.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip kata-kata Ali bin Abi Thalib yang menurut saya cocok dengan ide ini,” Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku, tapi tidak di hatiku”.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menggenggam dunia, tapi hati kita tidak digenggam olehnya.

Standar

8 thoughts on “Gaya Hidup Minimalis (Always) On Progress

  1. Farhan berkata:

    Tepat banget pak terutama untuk pasangan yg baru menikah, dmn semua harus serba minimalis karena keuangannya jg minimalis.

    Suka

  2. gita berkata:

    setuju Pak Rony. Salut juga bisa pelan-pelan mempraktekkannya di Jakarta yang secara agresif mendorong orang buat jadi lapar mata !

    Suka

  3. aguspri berkata:

    Saya juga sedang berproses,pak Roni. Saya dan istri, selain membaca zenhabits, rutin jg mengikuti blog becomingminimalist.com Joshua Becker yg cocok dijadikan panduan bagi keluarga muda seperti saya. Sebagiannya sdh kami jalankan dalam keseharian spt mengurangi pemakaian mobil pribadi (BMW seri 3 1800cc, meski kendaraan ini menurut saya masih irit bbm 1:11 lah), lebih sering jalan kaki dan bersepeda ke tempat usaha. Utk rumah, kami menyewa tipe 45, gak ada sofa, duduk beralas karpet hadiah dari ortu. Cuma satu yg kami belum minimalis: buku.

    Suka

  4. Sebagaimana saya sampaikan, prakteknya selalu on progress, selalu mengalami koreksi dan ada kontradiksi di sana sini. Saya belum bisa seekstrim Leo Babauta (dan tidak akan). Menerapkan gaya hidup minimalis juga bukan berarti menyiksa diri ya…

    Suka

  5. Umair berkata:

    Salah satu radio di batam memobilisasi pengumpulan baju layak pakai kemudian panitia itu mensortir baju berdasarkan ukuran dan usia. Baju untuk Wanita,Pria dan anak anak.
    Selanjutnya baju tersebut di duci dan diseterika rapi.
    Setelah semua siap diadakanlah bazar gratis untuk siapa saja yang membutuhkan. Bazar itu dikemas rapi seperti orang yang jualan.

    ide ini mungkin bisa ditiru/dimodifikasi di daerah lain.

    Sebab dulu pernah saya lihat baju layak pakai kadang di bagikan dalam keadaan tidak dicuci dulu,apalagi diseterika, kesannya kumal,bau dan campur aduk tidak jelas kriteria mana untuk lelaki,wanita dan anak anak.

    Call/SMS Center mereka : 081364787106 /08117009257

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s