Life, Mindset, Minimalism, Money and Investing

Gaya Hidup Minimalis: Merasa Cukup, Maksimalkan Manfaat

Dari komentar yang masuk, saya mengambil kesimpulan bahwa gaya hidup minimalis itu intinya adalah merasa cukup.

Itu adalah salah satu bentuk dari rasa syukur kepada Allah.

Gaya hidup minimalis juga bukan berarti mengurangi-ngurangi yang tidak perlu yang pada akhirnya seperti menyiksa diri.

Bukan, bukan itu.

Prinsipnya adalah merasa cukup, tidak berlebihan dan berpikir produktif.

Berpikir produktif maksudnya, uang atau harta yang dimiliki itu harus dikembangkan untuk manfaat seluas-luasnya.

Misalnya punya uang dua ratus juta. Mau dipakai apa?

Mau dipakai beli mobil kedua, pasti bisa. Langsung beli cash.

Tapi itu bukan pilihan yang produktif.

Kenapa tidak diputar lagi di bisnis? Buka cabang, buka divisi bisnis baru dan sebagainya. Dampaknya, akan menyedot tenaga kerja lebih banyak. Zakat, infak, shodaqoh pun tentunya lebih banyak.

Misalnya, kita punya komitmen untuk bersedekah 10% dari setiap unit bisnis yang dimiliki. Jika kita punya 1 bisnis dengan keuntungan 50 juta per bulan, artinya kita telah menyumbang 5 juta tiap bulannya.

Bagaimana kalau keuntungan berlipat 3? Bagaimana jika bisnisnya ada 5? Tentu sedekahnya lebih banyak.

Tentu lebih banyak lagi kita bisa membantu orang lain, misalnya dengan memberikan pelatihan service handphone seperti yang saya lakukan dengan teman-teman di TDA.

Ini salah satu contoh alumni kami yang sukses. Subhanallah, merinding saya membacanya, karena saya tahu betul bagaimana dia saat memulai pelatihan itu.

Uang yang saya sumbangkan untuk kegiatan ini tidak lebih besar nilainya dibandingkan dengan sekali jalan-jalan bersama keluarga ke Singapura.

Hasilnya?

Empat puluhan anak muda yang awalnya pengangguran, sekarang sudah mandiri dan berpenghasilan (kami sudah melaksanakan untuk 2 angkatan).

Coba bayangkan, bagaimana jika hal ini diikuti oleh ribuan anggota TDA dengan mengambil secukupnya saja dari harta kekayaannya dan “memutar” uang itu untuk kegiatan pemberdayaan seperti ini.

Secara pribadi, kepuasan yang saya rasakan beda sekali dibandingkan dengan membeli barang materi.

Saya harus lebih kaya lagi. Saya harus punya uang lebih banyak lagi supaya bisa mengembangkan hal ini lebih besar lagi. Supaya bisa puluhan bahkan ratusan anak muda tersentuh hidupnya untuk menjadi mandiri.

So, dengan bergaya hidup minimalis manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu bersangkutan saja. Dengan mengalihkan uang yang sedianya untuk membeli iPad atau Galaxy Tab itu kepada mereka yang lebih membutuhkan, dampaknya subhanallah.

Sayangnya, Leo Babauta tidak membahas alasan gaya hidup minimalisnya seperti ini. Ia hanya berhenti kepada manfaat individu yang ia rasakan. It’s okey, di Indonesia saya memodifikasnya seperti ini.

Standar

7 thoughts on “Gaya Hidup Minimalis: Merasa Cukup, Maksimalkan Manfaat

  1. aguspri berkata:

    Seperti sabda Nabi Muhammad SAW,”…muslim yg baik muslim yg bermanfaat bagi sesama” atau dalam bahasa Robin Sharma “more impact”.

    Suka

  2. Setuju! Minimalis itu jangan hanya untuk style rumah saja. Minimalis itu adalah sebuah gaya hidup menyeluruh. Mungkin orang modern sekarang kurang sreg dgn istilah zuhud, tapi sejatinya inilah gerakan zuhud modern

    Suka

  3. Malik berkata:

    i’m with you, sir. minimalis adalah gaya hidup rosulullah. harus diteladani. manimalis tapi harus tetap mengikuti gaya/trend juga. okey okey!!biar g keliatan katro dan sebagainya…hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s