Indonesiaku, Life, Mindset

Macet

Karena sudah disetting sejak awal, aktivitas saya jarang terkena macet.

Kantor saya dekat dengan rumah.

Saya juga bisa bekerja dari mana saja.

Hanya kadang-kadang karena satu urusan, aturan itu tidak berlaku.

Seperti kemarin.

Saya harus mengantar Vino – anak kedua saya – ke rumah sakit MMC di Kuningan dengan janji bertemu dokter jam 18 sore.

Berangkat dari rumah jam 17.

Bisa dibayangkan tantangan yang akan dihadapi.

Macet pada saat jam pulang kantor.

Alhamdulillah, di Sudirman kondisinya lancar sekali. Bahkan mobil bisa melaju seperti di jalan tol tanpa hambatan.

Di Rasuna Said saya bertemu kenyataan yang sebenarnya.

Jalanan ibarat lahan parkir yang sangat panjang dan luas.

Kendaraan bergerak tertatih-tatih.

Lantaran tidak biasa, saya tidak tahan dengan kondisi ini. Kapan sampainya? Bagaimana mau shalat Maghrib?

Tapi saya bersyukur.

Saya hanya sekali-sekali menghadapi kondisi ini.

Bagaimana dengan mereka yang setiap hari menghadapi kondisi ini tanpa bisa berbuat banyak.

Pasrah saja.

Bagi sebagian besar orang kondisi ini sudah taken for granted. Sudah dari sononya, nggak bisa diubah.

Apa yang bisa diperbuat dengan kondisi seperti ini, tanya saya di Twitter.

Segera banyak reply saya dapatkan.

Sebagian malah bertanya, apa ide saya?

Hmmm….

Saya tidak ingin sok pintar. Kota ini sudah ditangani oleh “ahlinya”.

Biarlah itu urusan dia.

Tapi, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu?

Stephen Covey bilang, ada lingkaran pengaruh dan ada lingkaran yang tidak bisa kita pengaruhi.

Lingkaran pengaruh itu ada pada diri kita sendiri dan komunitas kita.

Menurut saya, kita harus berani melakukan semacam gerakan kesadaran kolektif.

Ubah mindset.

Cobalah gaya hidup alternatif. Redesign your life.

Misalnya, bekerja dari rumah, bekerja dekat dari rumah, bersepeda ke kantor, menggunakan transportasi umum, membatasi penggunaan mobil dan sebagainya.

Di barat sana, banyak orang dan kelompok-kelompok menawarkan gaya hidup alternatif.

Ada yang menawarkan bekerja hanya 4 jam seminggu seperti yang dikampanyekan oleh Tim Ferris.

Ada yang menawarkan gaya hidup minimalis seperti yang ditawarkan oleh Leo Babauta, Everett Bogue, Joshua Becker dan kawan-kawannya.

Ada juga yang mengajak memperlambat ritme hidup dengan slow movement yang dikomandoi oleh orang seperti Carl Honore.

Di Indonesia sendiri ada gerakan bike to work yang semakin banyak pendukungnya.

Ada juga gerakan nebeng.com untuk mengurangi penggunaan mobil.

Saya sendiri sejak 2004 telah melakukan gerakan sendiri dengan bekerja di rumah atau dekat dengan rumah menggunakan teknologi internet, dan itu sekarang banyak diikuti oleh teman-teman saya di Komunitas TDA.

Di bengkel mobil, saya sering ditanya, “mobilnya jarang dipake ya Pak? Kok kilometernya masih sedikit?”.

Ya, itu karena mobil jarang dipakai di hari kerja.

Saya juga melihat ada silent movement di internet yang digerakkan oleh ibu-ibu yang dengan bangga menyebut diri mereka sebagai WAHM, work from home mom.

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan (baca: si oom yang mengaku ahlinya Jakarta).

Apa ide anda?

NB: Soal macet ini menurut saya ada unsur kepentingan politik ekonomi juga. Ada pihak-pihak yang berkepentingan agar Jakarta tetap macet. So, solusinya sangat berat. Perlu political power yang kuat. Rasanya masih sangat sulit untuk ditembus saat ini.

Standar

5 thoughts on “Macet

  1. Sejak tahun lalu kerja dari rumah, emang paling sebel kalo kluar rumah kena macet. Alhamdulillah saya sudah jadi bagian dari little movement itu jadi WAHM hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s