Business, Mindset

Good News

Setiap saat kita dijejali oleh bad news.

TV, koran, media online, radio, hampir semua isinya adalah bad news.

Maka dari itu sudah lama saya tidak nonton TV yang isinya bad news.

Apa pengaruhnya kepada kita?

Otomatis pikiran kita akan menjadi pesimis melihat dunia ini.

Khawatir, pesimis, cemas, tidak percaya, takut….

Cobalah seharian nongkrong di depan TV nonton Metro TV atau TV One.

Apa yang anda rasakan?

Saya pernah melakukannya.

Saya merasakan negeri ini, bangsa ini, seperti tidak ada harapan.

Saya jadi pesimis.

Jujur, memang ada berita positif juga. Tapi segera tertutup oleh yang negatif.

Pikiran kita tergantung fokusnya. Kalau selalu “dipaksa” fokus ke yang negatif, ya negatiflah jadinya.

Makanya, di Twitter misalnya, saya follow orang-orang yang pemikirannya positif. Saya punya kekuasaan untuk memilih di media ini.

Saya bisa mengikuti pemikiran orang-orang yang positif di sini.

Beberapa waktu lalu saya menghadiri ceramahnya Pak Chairul Tandjung.

Apa yang disampaikannya semua adalah good news menurut saya.

Good news yang mencerahkan dan membawa harapan.

Masa depan Indonesia akan cerah, katanya.

GDP kita sekarang sudah lebih dari USD 3.000.

Artinya, ekonomi kita terus tumbuh.

Artinya ada kelompok orang Indonesia yang naik derajat ekonominya.

Artinya, mereka punya kemampuan untuk spending.

Artinya, ini adalah peluang bisnis bagi yang mampu memanfaatkannya.

Sepuluh tahun ke depan adalah golden era-nya Indonesia.

Anda mau jadi pemain atau penonton?, tanyanya.

Lihat saja, banyak modal asing masuk ke Indonesia membeli aset-aset penting di negeri ini.

Mereka ingin menikmati masa golden era itu.

Jangan jadi penonton.

Bisnis Pak CT saya perhatikan sangat di-drive oleh keyakinan ini.

Semua bisnisnya berbasis konsumen yang rata-rata adalah kelas menengah, seperti bisnis hiburan, lifestyle, properti, consumer goods.

Our business is to make people happy, tulis majalah Forbes Indonesia tentang bisnis CT Corp.

Saya yakin banyak sekali good news seperti ini di negeri kita, tapi sepertinya media kita tidak menganggapnya cukup seksi untuk dijual.

Makanya, kita sebagai konsumen berita harus pintar-pintar mencari sendiri good news itu.

NB: Saat saya di Malaysia, TV di sana lebih sering menayangkan good news ketimbang bad news. Ekonomi masih tertinggal dibanding mereka. Saya yakin ini ada hubungannya.

Standar

7 thoughts on “Good News

  1. aguspri berkata:

    Another great posting, pak Roni…Awesome…
    Alasan sy menghilangkan siaran TV jg menghidari bad news dan sampah lainnya spt gosip, sinetron cemen, dsb. Bukankah ada pameo ” garbege in garbage out” ?. Fisik TV emang msh ada tp hanya utk memutar DVD yg kami sewa utk kami tonton di rumah.
    Keep spread out the goodnews, pak Roni

    Suka

  2. SANGAT SETUJU dengan hal diatas.

    Sebenarnya saya berencana menulis di koran mengenai fenomena diatas : tentang betapa media sudah terlalu nyinyir dengan kondisi saat ini. Too negative.

    Saya juga nyaris tidak pernah nonton metro dan tv one; dan lain-lainnya. Penuh toxic.

    Nontonnya cuma ya ESPN (sport), NGC atau History/Biography Channel.

    Suka

    • Ayo, tulis aja, minimal di blog dulu.

      CT pernah cerita dgn Hatta Rajasa. Ada seorang pengusaha asing ingin investasi di Indonesia. Dia nginap sbh hotel di Jkt. Saat menonton berita TV ttg Indonesia, semua beritanya negatif: korupsi, mutilasi, bencana, gontok2an politik dll.

      Keesokannya dia langsung balik ke negaranya, gak jadi meeting dengan calon mitra lokalnya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s