Mindset

Cara Pandang

Beberapa hari lalu saya iseng-iseng mendengar radio Elshinta yang isinya orang berbicara sepanjang hari. Tanpa musik sama sekali.

Radio ini adalah radio berita yang terdepan memberitakan apa pun di Indonesia. Borok-borok Indonesia juga semua tumpah ruah di sini.

Di malam hari ada acara opini dari pendengar mengenai topik yang sedang hangat di Indonesia seperti korupsi, bencana, pertentangan SBY dengan Sultan dan sebagainya.

Saya coba dengarkan bagaimana suara “rakyat” Indonesia di radio ini.

Sebagian besar pesimis dengan Indonesia. Tidak usah saya sebutkan satu persatu. Kata “pesimis” itu cukup mewakili.

Bahkan ada pendengar yang meminta Tuhan untuk melaknat bangsa ini agar jera dari segala perbuatannya. Ia ingin bangsa ini dihancurkan saja dan digantikan dengan bangsa lain yang lebih baik. Seperti masa nabi dulu.

Ada lagi yang mengusulkan “potong satu generasi” untuk membersihkan bangsa ini dari anasir-anasir negatif yang masih bercokol menggerogoti bangsa ini.

Tadi malam saya menghadiri undangan ISMBEA, sebuah ajang penghargaan untuk wirausahaan dan UKM oleh majalah Wirausaha dan Keuangan.

Di sana saya berkenalan dengan orang-orang yang luar biasa memandang masa depan Indonesia.

Saya berkenalan dengan Harun Arasid. Tidak ada yang kenal kan?

Ia adalah anak petani miskin dan tak bersekolah tapi sekarang punya 300 jaringan outlet King Furniture di seluruh Indonesia.

“Saya juga lagi membangun 75 vila di Anyer, Pak”, ujarnya.

Saya bertemu Mas Mono, pemilik ayam bakar yang banyak digemari itu. Setelah “go franchise” jumlah outletnya bertambah 20 cabang.

“Ada seorang pengusaha dari Surabaya yang beli sekaligus 50 cabang, Pak”, tutur mantan office boy ini kepada saya.

Ada kesamaaan dari mereka yang di Elshinta dan ISMBEA ini. Mereka sama-sama dari grass root, tapi dengan cara pandang berbeda terhadap Indonesia.

Dua orang berbeda melongok ke luar jendela dan menemukan 2 hal berbeda. Satu orang melihat ke bawah dan menemukan lumpur pekat, satunya lagi melihat ke atas dan melihat langit biru yang cerah.

Tidak ada yang salah di antara kedua mereka. Dua-duanya benar. Yang membedakan cuma cara pandang saja. Tindakan yang mengikuti cara pandang tersebut pastinya berbeda.

Satu orang berbeda melihat Indonesia ini dengan pesimis dengan segala permasalahannya, satu orang lagi melihat peluang di balik fakta bahwa Indonesia sebentar lagi mencapai milestone baru, pendapatan per kapita USD 3.000.

Standar

6 thoughts on “Cara Pandang

  1. yustia berkata:

    Tulisan pak rony selalu saya tunggu..
    inspired, like always…
    Alhamdulillah sampai hari ini masih semangat dan optimis pak…

    Suka

  2. Memang agak challenging juga ya jika berinteraksi dengan orang yang pesimis…..

    Tempo hari saya menulis pendapatan per kapitan Indonesia sudah USD 3000….eh, buru-buru banyak orang pada bilang datanya ndak valid-lah, ndak sesuai kenyataan-lah…..doh.

    Saya pikir, agak bahaya juga kalau talk show model Elshinta itu terus menerus diputar…

    Mungkin mendengarkan musik jazz lebih nyaman……

    Suka

  3. Assalamu’alaykum,

    Pak Roni, kalau saya mau menawarkan kerjasama tentang sesuatu*, kemana sebaiknya saya kirim proposalnya.. thq.

    Wassalamu’alaykum
    Ardi
    *sengaja tidak disebutkan dulu di sini…

    NB.: Maaf kalau oot (out of topic)

    Suka

  4. yoko berkata:

    terima kasih pak rony..,, memang klu kita sebagai pengguasa harus selalu melihat ke atas harus yakin terhadap apa yg kt impikan. thanks inspirasinya pak rony…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s