Indonesiaku

Kekalahan yang Menguatkan

Kegagalan Timnas Indonesia merebut piala AFF untuk pertama kalinya tidak membuat saya lebih kecewa dibandingkan dengan kekalahan pada leg pertama melawan Malaysia tanggal 26 lalu.

Saya sudah lebih siap secara mental untuk menerima kemungkinan apa pun yang terjadi. Harapan saya masih tinggi, tapi lebih realistis tentunya.

Para pemain adalah pahlawan. Mereka telah memberikan yang terbaik yang mereka punya tadi malam. Hanya keberuntungan yang belum berpihak kepada kita.

Saya teringat dengan seorang sukses yang mengatakan bahwa suksesnya bukan karena ia lebih baik atau lebih pintar dari orang lain. Ia bisa mencapai kesuksesan karena ia lebih siap. Persiapan adalah kata kuncinya.

Saya mendengar persiapan tim Malaysia sudah jauh-jauh hari dilakukan dengan serius dan konsisten. Mereka adalah anak-anak muda yang telah disatukan dan diasah sejak beberapa tahun terakhir. Tanpa pemain naturalisasi seperti kita, mereka mampu menorehkan prestasi yang konsisten dan terus membaik karena proses persiapan yang lebih matang dan sistimatis.

We may lose but don’t lose the lesson. Itulah pelajaran yang harus kita petik. Soal persiapan yang matang dan konsisten. Juga mental dan determinasi. Kalau mau mencari siapa yang bertanggung jawab, PSSIlah yang paling bertanggung jawab soal ini.

Namun, ada hal menarik di balik kekalahan tadi malam. Rakyat Indonesia ternyata tidak begitu kecewa dengan kenyataan ini. Dukungan yang begitu gegap gempita dari seluruh penjuru Indonesia membawa energi positif. Mereka tetap menganggap Firman Utina dan kawan-kawan sebagai pahlawan di hati.

Bangsa ini menjadi satu padu, melupakan kelelahannya dengan segenap permasalahan yang dihadapi. Bangsa ini seperti menemukan ghirah-nya dalam berbangsa, melupakan perbedaan dan bersatu padu mendukung timnas Indonesia.

Saya merinding membacai tagar #loveindonesia dan #garudafightsback yang merajai trending topics worldwide di Twitter. Hal seperti ini yang sudah lama kita rindukan sebagai bangsa. Selama ini kita cenderung gampang dipecah belah oleh kepentingan kelompok dan orientasi kini yang sempit.

Ada “sesuatu” di bali tagar-tagar penuh semangat nasionalisme itu. Bangsa ini rindu kemenangan, rindu kejayaan. Kali ini kepada sepakbola mereka gantungkan harapan itu.

Kekalahan itu ternyata menyatukan dan menguatkan kita.

Kekalahan kemarin adalah momentum indah bagi kita sebagai bangsa untuk bersatu dan optimis menatap masa depan.

Pertarungan tidak hanya di lapangan sepak bola. Kita masih menghadapi “pertandingan” di berbagai aspek: ekonomi, budaya, sosial dan sebagainya.

Semangat yang ditunjukkan kemarin adalah penanda kebangkitan Indonesia.

Kalau Malaysia Boleh, Indonesia Bisa!

#indonesiafightsback

#loveindonesia

Standar

6 thoughts on “Kekalahan yang Menguatkan

  1. Pak Ronny,
    Kenapa Salim Group bisa menjadi besar, ternyata ada falsafah group yang bunyinya ” esok adalah hari ini ” dan dijabarkan oleh management adalah ” apa yang harus disiapkan sekarang ” untuk
    – besok
    – satu bulan lagi
    – setahun
    – lima tahun
    Kata kuncinya ” APA YANG HARUS DISIAPKAN “

    Suka

  2. Pertandingan yg baru lalu ini, seperti gelombang positif yang meminggirkan gelombang2 negatif yang selalu mengepung kita. Semoga semangat ini terus hidup.
    Indonesia bisa!🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s