Books and Learning, Business

Cracking Zone

Selasa pagi kemarin saya berbincang-bincang dengan beberapa teman TDA di Ohlala Kafe, Thamrin. Kami ngobrol ngalor ngidul saja sambil menikmati pagi dan riuhnya lalu lintas pagi di Jakarta.

Salah satu topik perbincangan adalah perubahan dan bagaimana perusahaan bisa survive dan bahkan menjadi pemenang di tengah kencangnya arus perubahan itu.

Pak Fauzi Rachmanto mengilustrasikan Grup Cipaganti sebagai salah satu perusahaan yang bisa “riding the wave” perubahan dan menjadi pemenangnya.

Tipping point pertumbuhan perusahaan Cipaganti adalah saat dibukanya tol Cipularang. Mereka melihat peluang membuka bisnis travel Jakarta – Bandung dan ternyata sukses.

Salah satu keunikan jasanya adalah membuat pool mobil yang mendekati konsumennya, seperti di mal-mal dan pusat keramaian. Konsumen menyukai itu, plus layanan yang membuat konsumen menjadi semakin terpikat seperti waktu keberangkatan yang tepat waktu meski pun penumpang hanya satu orang.

Cipaganti mampu membaca arah perubahan yang terjadi di pasar dan melakukan eksekusi dengan cepat dan tepat.

Saat mendengar cerita itu, saya teringat dengan taksi 4848, ke mana dia sekarang?, tanya saya.

Nah, inilah yang menarik. Sebagai pemain lama, 4848 tidak tanggap dengan perubahan ini. Ia tetap melayani konsumen dengan cara lama, best practices lama dan asumsi-asumsi lama. Saya tidak pernah lagi melihat taksi ini di jalan.

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan Rhenald Kasali berjudul Cracking Zone di Koran Sindo.

Crackers adalah para pelaku bisnis yang membuat terobosan baru dan mengubah peta industri bisnis. Berbeda dengan para business leaders yang pemberbaiki perusahaan, para Crackers melakukan koreksi terhadap industri.

Para Crackers ini tentu saja mempersulit posisi pemain-pemain lama, para incumbent. Mereka memperkenalkan produk dan jasa baru, cara mengelola bisnis yang baru dan membuat pemain lama tidak bisa tidur dibuatnya.

Ibarat penari, mereka menari di atas kaca yang jika kaca itu pecah akan membuat penari lain di sekitarnya jatuh berjumpalitan.

Contohnya banyak. Di industri penerbangan ada Air Asia yang menggebrak dengan konsep low cost-nya, di industri komputer/IT ada Apple dan iPad-nya yang menghantam industri netbook dan ebook reader, di Indonesia ada Nexian yang menggerogoti kedigdayaan Nokia di segmen bawah, di dunia pendidikan tinggi ada Binus dan BSI yang membuat kampus-kampus kecil untuk mendekati pasarnya, di ajang AFF kemarin kita dikagetkan dengan penampilan Philipina dengan 8 pemain naturalisasinya, di dunia fashion ada Zara yang memangkas proses produksi yang sampai sekarang sukar ditiru pesaingnya, di bisnis makanan ada J.Co yang menggabungkan konsep Dunkin Donut dengan open kitchen-nya BreadTalk plus kopinya Starbucks dan froyo-nya Red Mango disajikan dengan harga lebih murah, di dunia social media ada Facebook yang membuat Friendster dan MySpace menjadi begitu jadul, ada sendal Crocs yang modelnya aneh tapi laris manis, daftarnya bisa panjang…

Kalau diperhatikan, para Crackers ini semuanya masuk ke pasar dengan membuat kategori baru, bukan menjadi follower. Mereka menciptakan blue ocean sendiri. Mereka adalah purple cow, kata Seth Godin. Di antara mereka ada yang konsepnya benar-benar baru, tapi ada juga yang melakukan ATM (amati, tiru, modifikasi) dari konsep yang sudah ada seperti yang dilakukan J.Co.

Pelajaran penting dari apa yang telah dilakukan oleh para crackers adalah pentingnya kreativitas untuk menumbuhkan efek cracking. Anda harus terus bergerak mencari “pintu”, mengetuknya, dan bila perlu mendobraknya dengan senyuman lebar. Namun yang membuat Anda selamat, bukanlah kreativitas dalam mengetuk pintu-pintu itu, melainkan business process Anda yang benar-benar simple, modern, efisien, dan mampu membuat Anda menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas premium, namun cost-nya benar-benar rendah, demikian tulis Rhenald Kasali menutup tulisannya.

Iklan
Standar

9 thoughts on “Cracking Zone

    • Arum Rukmono berkata:

      Taxi 4848 adalah perusahaan taksi pelopor yang melayani rute Bandung – Jakarta PP, jemput di rumah antar ke tempat tujuan. Ngetop banget sampai tahun 1970-an. Kantor pertamanya dulu di Jl. Trunojoyo Bandung. Nomor telepon untuk memesan taksi itu ya 4848.

      Suka

  1. anton berkata:

    Betul Sekali, Cipaganti memang kini jadi besar sekali. Rahasianya adalah mereka mampu membaca dengan balik titik balik seperti halnya dibukanya tol cipularang. Apakah ada tips agar kita peka terhadap munculnya titik balik semacam ini?

    Suka

  2. Bisnis adalah inovasi, hanya perusahaan yang terus berinovasi saja yang akan bertahan. Lalu timbul pertanyaan mengapa banyak perusahaan tidak melakukan itu, Apa karena inovasi itu sulit dan rumit? sebenarnya tidak juga yang dibutuhkan hanya kemauan dan keberanian. Bakso yang bulat, dirubah jadi bakso gepeng jadilah bakso gepeng Rawamangun, jahe dimix rasanya dg capuccino, jadilah red ginger corner. Ternyata sederhana dan mudah, ayo lakukan inovasi sekarang…!!!

    Suka

  3. Wah, pencerahan yang bernas pak.
    Saya sedang merintis usaha kue kering. Andalan kami kue kering natural, kami telah bergabung dengan TDA Bekasi. Banyak incumbent di bisnis ini dengan omset milyaran.

    alhamdulillah kami telah di lirik Trans TV dan sudah di tayang di bulan Januari 2011. Semoga menjadi breaktrough usaha kami.

    salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s