Indonesiaku

Jogja, Slow and Simple City

Saya baru pulang dari perjalanan 5 hari di Jogja. Sebuah perjalanan tanpa rencana, spontan begitu saja. Keputusan diambil sehari sebelum berangkat.

Saya ingin menikmati Jogja yang menurut saya adalah sebuah contoh dari slow city yang luput dikunjungi dan dijadikan studi oleh Carl Honore, penulis buku best seller In Praise of Slow.

Saya pernah mengadakan survei iseng di Twitter tentang kota apa yang menjadi favorit untuk ditinggali, Jogja menjadi pilihan tertinggi. Kabarnya, statistik usia tertinggi di Indonesia juga menempatkan Jogja sebagai peringkat satu. Jogja is a place to live bagi para pensiunan.

Di depan keraton, saya bertemu bule dari Berlin yang punya gaya hidup setengah tahun berbisnis, setengah tahunnya lagi dihabiskannya jalan-jalan dan Jogja menjadi tempat paling sering dan paling lama dikunjunginya, selain Bali.

“Waktu berhenti di Jogja”, kata Mas Arif, owner Petakumpet saat saya dan Pak Hantiar dan Try Atmojo mengunjungi di kantornya yang berlokasi di tepi sawah itu.

Makanya, saya menyerah saja ketika diajak makan di Gudeg Pawon yang beroperasinya mulai jam 23.30 sampai subuh. Padahal, di Jakarta, jam 21 saya sudah terelap dalam mimpi. Saya tidak kuat begadang. Di Jogja, saya mengamati orang-orangnya kuat begadang sampai pagi sambil wedangan. Waktu memang berhenti di sini.

Segala sesuatu berjalan lambat di Jogja. Tema “slow traveling” menjadi cocok di Jogja. Saat Pak Hantiar mulai kesal saat menunggu terhidangnya makanan, saya mengingatkann bahwa ini adalah slow city, jadi makanannnya pun terhidang dengan slow. Kami pun menyantap makanan dengan slow.

Ungkapan “alon-alon waton kelakon” sangat tepat dan tercermin dari setiap aspek kota ini: makanannya, seni budayanya (batik, wayang kulit, tarian), musiknya, kendaraannya (andong, becak), termasuk gaya berkomunikasinya yang sangat halus dan perlahan. Sulit untuk menjadi marah dengan orang yang berbicara dengan gaya seperti ini.

Di Mirota Batik yang legendaris itu, pengunjung digiring supaya betah berbelanja dengan alunan gamelan yang mengayun lembut dan perlahan. Pikiran dan suasana hati diarahkan supaya masuk ke kondisi alfa, di mana pikiran menjadi antara sadar dan tidak. Sebuah CD gamelan for relaxation-pun akhirnya saya pilih sebagai oleh-oleh untuk saya nikmati di pagi atau sore sepulang kantor.

Jogja juga adalah kota yang murah, sangat mendukung bagi yang ingin menerapkan gaya hidup minimalis atau simple living. Makan nasi di angkringan bisa kenyang dengan hanya Rp. 3.500 saja. Saya makan gudeg di Malioboro cukup dengan Rp. 7.500 saja.

Mas Arif dari Petakumpet sedang mencoba re-branding kota Jogja menjadi kota kreatif, karena memang banyak insan kreatif di sini. Tapi, menurut saya kota ini juga bisa dibranding sebagai city of happiness. Happiness bisa dicapai dalam kondisi pikiran yang rileks, slow, gembira, dan Jogja adalah tempat yang tepat untuk menemukan kondisi itu.

Thank you Jogja. I will come back some day…

Standar

17 thoughts on “Jogja, Slow and Simple City

  1. Ping-balik: Tweets that mention Jogja, Slow and Simple City « Business and Beyond -- Topsy.com

  2. Yogya bukan kota yang “slow” tetapi everyday is sunday di yogya..ketika libur hari memang cenderung agak lebih lambat. Jadi lebih tepat kalao re-branding sebagai “Holiday City”

    Suka

  3. Yogya bukan kota yang “slow” tetapi everyday is sunday di yogya..ketika libur hari memang cenderung agak lebih lambat. Jadi lebih tepat kalao re-branding sebagai “Holiday City”

    Suka

  4. Saya kok justru punya pandangan yang berbeda ya……

    Jogja sekarang, seperti juga kota besar lainnya, kian terasa crowded, sumpek, dan “amburadul”….(mungkin karena saya membandingkan dengan 20 tahun silam ketika saya pernah tinggal di kota itu selama 6 tahun).

    Kota itu tampak kian modern; dan “terlalu cepar bergerak”…..maksudnya banyak bangunan baru yang muncul “mendadak”……jadi fast moving development……ndak lagi cocok dengan tema slow movement

    Suka

  5. Jogja emang kota penuh kenangan , Slow dan damai , disana aku lahir , belajar , eee gedenya malah di Jakarta ….Suatu saat nanti aku akan kembali hidup disana ..untuk lebih Slow

    Suka

  6. Setuju Pak Roni. Secepat-cepatnya Jogja, ia tidak secepat Surabaya, Semarang atau Solo. Sebagai orang asli Sleman saya merasakan hal itu. Saya bisa berangkat kerja pukul 7 pagi dan pulang pukul 4 sore. Malamnya masih bisa bercengkerama dengan tetangga. Masih bisa ikut “njagong” apabila ada tetangga atau teman di lain desa yang dikaruniai momongan. Guyub rukun kerja bakti, dan lain-lain. Berbeda dengan di Jabotabek. Hari cepat berlalu. Waktu seperti selalu kurang untuk mencari materi sehingga lupa untuk mengisi jiwa.

    Suka

  7. andika berkata:

    Pertumbuhan property jogja juga meningkat lho,banyak perumahan2 yang dibangun di kabupaten2 di jogja terutaama sleman dan bantul.karena permintaan untuk tinggal di jogja tinggi.tulisan mas rony sangat renyah

    Suka

  8. saya orang jogja dan saya merasa jogja udah gag kayak dulu lagi
    pagi-pagi mau kuliah macet, banyak kendaraan
    semoga transportasi umum di jogja diperbaiki lagi sehingga mengurangi kemacetan dan tidak menjadikan jogja seprti jakarta

    Suka

  9. Menarik Pak, memang kehidupan di Jawa khususnya Jateng seperti itu, santai, menghabiskan uang di daerah Solo, Yogya dan sekitar memang sangat asyiiik, tapi akan berkebalikan jika tidak punya uang………….^_^ .

    Mencari nafkah lebih mudah di Jakarta, kata beberapa rekan yang dari sana.., menghabiskannya baru di Jawa.^__^.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s