Life, Minimalism

Tren ke Depan: Gaya Hidup Minimalis dan Slow Movement

“Temanku jarang sekali baca koran dan nonton TV, untuk dapatkan ketenangan hidup, katanya. Ini gejala pribadi atau trend baru?”, demikian bunyi twit Pak @komar_hidayat pagi ini.

Sebagai seorang yang sedang antusias mempraktekkan gaya hidup minimalis dan slow movement, saya tergelitik untuk menuliskannya – untuk ke sekian kali – di blog ini.

Mungkin, saya termasuk orang pertama yang menulis secara rutin di blog tentang gaya hidup minimalis dan slow movement ini di Indonesia. Silakan googling aja, kata kuncinya “gaya hidup minimalis”, hehe.

Saya kepincut dengan buku-bukunya John Naisbitt sejak jaman kuliah. Megatrend 2000, Global Paradox, Megatrend Asia adalah buku-bukunya yang telah khatam saya baca. Sebagian besar ramalannya jadi kenyataan, kecuali buku Megatrend Asia.

Dua tahun terakhir ini saya mengamati gejala baru di internet, yaitu banyaknya blog-blog bertemakan gaya hidup minimalis seperti ini atau gaya hidup slow seperti ini.

Menurut saya, munculnya gejala ini adalah konsekuensi logis dari masyarakat di sana yang sudah sampai pada satu titik yang menyadarkan mereka untuk bertanya, apa yang sesungguhnya saya cari? Apa yang sesungguhnya penting dalam hidup ini? Apakah segala kompleksitas hidup ini telah meningkatkan kualitas hidup? Apakah segala ambisi untuk mempercepat hidup (baca: gaya hidup instan) berujung kepada kebahagiaan?

Saya kaget dan sungguh aneh menurut saya ketika melihat tayangan National Geographic tentang kota Seoul yang beralih dari “speed city” menjadi “slow city”. Kita semua tahu bahwa Korea begitu berambisi untuk mengalahkan Jepang.

Tapi yang terjadi di kota Seoul malah sebaliknya. Pemerintah kotanya meruntuhkan jalan-jalan layang dan menggantikannya dengan taman agar warganya bisa bermain dengan keluarga, berolah raga dan sebagainya dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup warganya.

Itulah arus yang tengah terjadi sekarang di belahan dunia sana. Mereka sudah mengejar dan mendapatkan semuanya dan akhirnya berkesimpulan bahwa bukan kuantitas yang utama, melainkan kualitas. “More” itu tidak selalu artinya “more”, “less” tidak selalu benar-benar “less”. “Less” bisa jadi “more”.

More stuff = more happiness? I don’t think so.

Less stuff = less happiness? I don’t think so.

Saya pikir ini bukanlah gaya hidup tren sesaat. Ini adalah gaya hidup sesungguhnya. Tinggal tunggu waktu, akan banyak orang Indonesia akan ikut menerapkan gaya hidup ini dengan sadar atau tidak, karena ini adalah sesuatu yang alami.

Apalagi sekarang kita didera begitu banyak persoalan: ekonomi, korupsi, kemacetan dan sebagainya dan solusinya adalah menerapkan gaya hidup sederhana, minimalis atau bahasa agamanya: zuhud.

Dengan gaya hidup minimalis masyarakat akan merasa cukup dan hidup sederhana sehingga tidak perlu lagi korupsi.

Dengan gaya hidup minimalis masyarakat tidak akan lagi mudah terjebak dalam kubangan hutang kartu kredit untuk membeli barang-barang yang sesungguhnya tidak mereka butuhkan.

Dengan gaya hidup minimalis, masyarakat akan meningkatkan kualitas hidupnya kembali ke hal-hal yang esensial dalam hidupnya: berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang dicintainya, tanpa terlalu mempedulikan berapa banyak barang mereka yang dimiliki.

Standar

10 thoughts on “Tren ke Depan: Gaya Hidup Minimalis dan Slow Movement

  1. iChsan berkata:

    Kalau untuk belanja buku, kayaknya susah menerapkan gaya hidup minimalis. Kalau sudah di toko buku, pengennya dibeli semua. Giliran sudah sampai rumah, tidak sempat membuka. Apalagi membaca. Boro-boro namatin. Akhirnya, cuma numpuk di rak.

    Suka

  2. Pujo Mardyono berkata:

    Contoh terbaik gaya hidup dan cara hidup adalah Rosulullah Muhammad S.A.W. , khulafah-urosidhin dan para sahabat. Dijamin bila kita meniru Beliau, akan bahagia dunia-akhirat. Kembalilah dengan gaya hidup yang diajarkan dalam Al-Qur’an & Hadist, itulah sebaik-baiknya petujuk. Jangan sampai Anda menyandarkan tangga pada tembok yang salah. Bila salah, apapun yang Anda daki melalui setiap anak tangga akan berakhir pada ujung yang salah pula. Sayang…..dan berakhir sia-sia.

    Suka

  3. Ehm..saya setuju Pak, bukan tren tapi kehidupan yang sesungguhnya. Kayak sebagian dari kita, waktu muda begitu dinamis, banyak gaya, ambisius tapi eh..setelah punya banyak pengalaman, walau banyak target tidak tercapai gaya kita jadi berubah. Tenang-cool, banyak menikmati kehidupan, lebih dewasa, dll
    Toko Stroller

    Suka

  4. Apa yang mau kita cari?

    Setelah berjalan sekian lama mengarungi kerasnya kehidupan, persaingan dlm bid usaha. siang malam kita pertaruhkan waktu/tenaga/pikiran, unt mendapatkan kesuksesan.

    Apa yang mau kita cari?

    Janganlah sampai kita salah melangkah….khususnya dalam masalah pengembangan usaha. Inginnya kelihatan cepat besar dan beruntung banyak, sehingga kita bernafsu menambah Modal dengan HUTANG.

    Apa yang mau kita cari?

    Sekali lagi Kalimat Hutang ini, sekarang semakin banyak orang yang merasa takut, apalagi kalo melihat banyak yang berjatuhan karenanya.

    Untuk itu siapapun anda saat ini…janganlah menyebarkan kata Hutang.
    Usahakan berbisnis Tanpa Hutang…..Tanpa Hutang….Tanpa Hutang

    Bahagia dan sejahtera untuk semuanya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s