Business

It’s Not What You Sell, But How You Sell

Judul di atas pendapat saya pribadi lho ya. Berasal dari pengamatan. Saya nggak tau bagaimana pendapat para pakar.

Coba perhatikan produk-produk yang laris dan tidak laris di pasar.

Produk yang laris, kadang bukan yang terbaik.

Produk yang kurang atau tidak laris malah sering lebih bagus daripada yang laris.

Jadi, laris atau tidaknya sebuah produk bukan tergantung kepada kualitas semata, tapi bagaimana cara memasarkannya.

Ada konten (produk) dan konteks (bagaimana memasarkannya).

Ada yang kontennya biasa-biasa aja, tapi cara memasarkannya canggih, bisa laris di pasaran.

Cerita yang cukup melegenda di Jogja sana adalah Bakmi Mbah Mo. Sayang waktu ke sana saya nggak sempat mampir.

Menurut cerita teman, rasanya biasa-biasa saja. Tapi, cara Mbah Mo memasarkan bakminya yang membuat pembeli antri ke sana.

Di daerah Simprug ada warung siomay unik. Namanya siomay Pink. Warung, spanduk, interior, pelayannya serba warna pink. Kebayang kan, seperti apa.

Kabarnya, siomay ini laris manis. Padahal rasanya biasa saja dan harganya pun terbilang mahal.

Idealnya, memang konten dan konteksnya hebat.

Untuk produk-produk tertentu, cukup dengan konten yang hebat, akan terjual dengan sendirinya dari mulut ke mulut.

Tapi, menurut saya tidak berlaku untuk semua jenis produk. Pemasar harus berpikir keras untuk mengantarkannya ke hati konsumen dengan konteks atau cara yang tepat.

Standar

7 thoughts on “It’s Not What You Sell, But How You Sell

  1. iChsan berkata:

    sama sahaja antara kebaikan dan kejahatan. sesiapa yang pintar mengemas, akan lebih punya peluang untuk ditiru, untuk diikuti.

    Suka

  2. arissuryadi berkata:

    Setuju pak, tapi kalo boleh sekedar berkomentar

    konten yang biasa saja tapi memiliki konteks yang “wah” sehingga orang membeli, sepertinya jarang untuk mencapai Repeat Order, karena menurut saya pelanggan merasa agak halus ditipu, jadi cuma bisa mendapatkan attention pelanggan bukan hati mereka. jadi sekedar penasaran aja..

    Namun konten yang bagus tapi konteks biasa saja, pelanggan akan repeat order karena merasa puas dan mungkin melebihi ekspetasi customer, selain dapet first attention, pelanggan juga menaruh hati bahkan bisa menjadi customer yang evangelist, free marketer dan dapet great testimoni…

    balik lagi, teknik ini banyak dipake biasanya saat launching produk ya pak. tapi kalo untuk jasa dan semacam bisnis rumah makan, menurut saya lebih baik kualitas yang berbicara🙂

    just my 2cents

    Suka

    • Coba perhatikan MC Donalds konten biasa aja makanan tidak sehat dan bukan rujukan utama jika saya sedang menjamu mitra bisnis tapi dia bisa cetak jutaan dolar pertahunya… gak sekedar repeat order Setuju dengan pak Roni “it’s not about what you sell, is about how you sell”

      Suka

  3. Saya pernah makan di bakmi mbah mo, konteks dan konten nya sangat sederhana, kebetulan saya sempet berbincang2 dg beliau, sambil memasak mie beliau menjalin komunikasi dengan pelanggan, menurut beliau itulah yang menjadi rahasia nya, komuniksi.

    tp. ,menurut saya kekuatannya bukan itu saja, jogja adalah kota tujuan wisata, orang yang berkunjung ke jogja pun ingin mencari sesuatu yang unik d sana, bukan sekedar makan kenyang saja. waktu itu saya amati pun pembelinya mayoritas bukan org jogja sendiri, dan itu pun dibenarkan oleh mbah mo sendiri. sehingga konsep yg “nyeleneh” pun bisa berhasil d sana.

    jadi, konteks ( memasarkannya) seperti mbah mo belum tentu bisa d adopsi di tempat lain.

    tapi, saya sangat setuju dengan pak Rony

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s