Uncategorized

Dari Lokal Menuju Panggung Nasional

Sebuah SMS masuk dari seorang pembaca blog saya dengan menggunakan bahasa Minang.

Saya tersenyum dalam hati. Senang juga ada orang sekampung yang terinspirasi dari blog ini.

Ia seorang PNS yang sudah 6 tahun di Jakarta dan berencana pulang ke Padang untuk memulai bisnis kopi ala Itali.

Kenapa minuman Itali yang dibawa ke sana?, tanya saya.

Kenapa tidak mencoba warisan kuliner Minang yang khas untuk dibawa go nasional?

Benar juga ya, jawabnya.

Saya hanya mencoba mengeksplor idenya.

Saya teringat dengan paman di Duri, Riau (paman istri, tepatnya), seorang pensiunan perusahaan minyak yang sekarang super sibuk dengan bisnisnya sebagai pensiunpreneur.

Beliau membuka rumah makan Minang dengan menu yang khas dari rumah makan yang sudah ada.

Omzet belasan juta per hari adalah angka yang besar untuk sebuah kota kecamatan.

Apa rahasianya?

Sebelum pensiun, beliau rajin pulang kampung dan berburu makanan enak di sana. Semua makanan yang kata orang enak diburunya ke mana saja.

Akhirnya didapatlah beberapa menu yang “best of the best” versi lidah beliau.

Kemudian, didekatilah sang pemilik rumah makan untuk minta diajari atau diajak kerja sama.

Prosesnya memang tidak sederhana dan singkat. Tapi akhirnya berhasil diboyong beberapa menu andalan seperti sate, dendeng, dan ayam bakar itu ke Duri.

Intuisi beliau tepat. Orang Duri suka dengan masakan beliau.

Sebagai gambaran, dulu beliau sering bertelepon dengan kami. Sekarang jarang sekali, saking sibuknya. Setelah pensiun malah makin sibuk.

Saya dan istri memanas-manasi supaya beliau segera buka cabang ke Jakarta, atau minimal ke Pekanbaru. RM Sederhana aja bisa.

Saya rasa setiap daerah punya makanan khas yang berpotensi dibawa go nasional, dikemas dengan baik, dibranding, dibuat manajemen dan sistim bisnis yang modern.

Apalagi sekarang orang Indonesia lagi kesengsem dengan segala makanan kuliner tradisional.

Ada yang mau coba?

Atau anda sudah coba. Bagi dong ceritanya.

Standar

3 thoughts on “Dari Lokal Menuju Panggung Nasional

  1. kalau didaerah saya yang ada oleh-oleh tradisional, namanya baje… ada yang mau coba?? siapa tau aja bisa go nasional juga…

    Suka

  2. Mursalim berkata:

    Dari pengamatan saya, restoran/ penjual makanan akan semakin sukses bila berkelompok–tidak berdiri sendiri. Usaha rumah makan pak H. Erman Magek Zen (pamannya pak Roni itu) yang sebelumnya sedang-sedang saja menjadi luar biasa setelah berdampingan dengan usahanya yang lain yang menyediakan sarapan pagi (katupek gulai paku, bubur kampiun, martabak mesir, aneka kripik oleh-oleh Bukittinggi dll).— Tidak lama lagi saya juga akan pensiun dan akan berdomisili di Jakarta untuk belajar sambil praktek di TDA, semoga bisa diterima.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s