Komunitas TDA, Life, Minimalism, Renungan

Hidup Tanpa Uang, Mungkinkah?

Kalau kita adalah penduduk pedalaman Kubu di Jambi atau Suku Badui di Banten atau Suku Dani di Papua, jawabannya adalah: bisa.

Tapi kalau kita adalah orang modern yang tinggal di kota besar, jawabannya pastilah: tidak mungkin!

Hei, tunggu dulu.

Saya baru beli buku, judulnya The Moneyless Man karya Mark Boyle, seorang ahli ekonomi dan mantan pebisnis dari Inggris. Ia menghebohkan dunia dengan kegiatannya yang dianggap nekad dan gila. Ia bertekad selama setahun hidup tanpa uang dan berhasil.

Di mana ia tinggal?

Apa yang ia makan?

Di buku ini ia mengungkapkan bagaimana ia tidak hanya bertahan hidup, tapi juga melakukannya dengan gembira, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Ia membuat kertas dari jamur, merakit kompor ramah lingkungan, mendapatkan makanan dari toko tanpa harus membeli.

Ia juga membuat listrik tenaga surya untuk penerangan dan kebutuhan listrik untuk laptopnya.

Ia membuat sabun mandi, pasta gigi, sabun deterjen dari bahan-bahan yang ditemukan di alam.

Ia berjalan kaki atau naik sepeda. Kalau harus naik mobil, ia pun mencari tebengan.

Ia membuat roti dari gandum yang diperoleh dari hasil barter dengan tenaganya. Ya, ia mendapatkan 25 kg gandum yang ditukar dengan tenaganya bekerja di toko itu selama 9 jam.

Kenapa ia melakukan hal yang menurut kita “gila” ini?

Pemikirannya memang rada “nyeleneh”, tapi menurut saya, masuk akal dan beralasan.

Ia berpendapat bahwa masalah terbesar di dunia ini adalah putusnya hubungan kita dengan apa yang kita konsumsi.

Kita makan nasi dari beras yang dibeli di Carrefour. Kita tidak tahu – apalagi anak-anak kita – bagaimana nasi itu diperoleh dari bertanam di sawah dipanen dan kemudian hadir di meja makan kita. Sehingga kita sering dengan mudah membuangnya begitu saja.

Waktu kecil, nenek sering menegur saya kalau saya menyisakan atau membuang-buang makanan di lantai. Saya harus memungutinya lagi.”Kasihan nasi, nanti dia menangis kalau dibuang-buang”, saya teringat pesan beliau.

Setelah membaca buku ini saya sadar bahwa yang dimaksud beliau adalah keterhubungan kita dengan apa yang kita makan. Bagaimana kita memberikan respek kepada petani yang telah berjasa menanamnya dengan susah payah.

Coba bayangkan bagaimana kalau kita harus memintal kain dan menjahit sendiri baju yang kita pakai. Bagaimana jika kita harus memancing sendiri ikan yang kita makan atau berburu sapi untuk sate yang lezat terhidang di meja.

Semua itu telah dipangkas oleh sebuah perantara yang namanya uang. Uang telah memudahkan kita untuk mendapatkan apa saja yang pada akhirnya membuat kita terputus dengan apa yang kita konsumsi.

Hal inilah yang ingin dikembalikan oleh Mark Boyle. Keterhubungan kita dengan apa yang kita konsumsi.

Ketika ia bekerja dan mendapat bayaran berupa 25 kg gandum, ia merasa terhubung dengan apa yang dimakannya. Ia pun merasa terhubung dengan si pemilik toko yang memberikannya gandum itu.

Uang telah menggantikan kerja sama. Dulu di kampung-kampung kita masih melihat orang bergotong-royong membantu tetangganya membangun rumah tanpa dibayar. Sekarang? Semuanya telah digantikan oleh tenaga tukang berbayar.

Saat panen dulu, para tetangga bergantian untuk saling membantu jika ada tetangga yang panen. Demikian sebaliknya. Sekarang semangat itu tidak ada lagi dan digantikan oleh tenaga yang diupah dengan uang.

Ada satu konsep yang ditawarkannya untuk menggantikan uang. Konsep itu sebenarnya tidak asing buat kita tapi mungkin sudah jarang kita lakukan, yaitu: berbagi.

Ya, berbagi.

Ia mendirika komunitas Freeconomy di mana para anggotanya saling berbagi, berbagi keterampilan, sarana dan ruang. Komunitas ini mengumpulkan orang-orang dan memungkinkan mereka saling mengajari keterampilan baru, menjadi gudang sumber daya yang pada akhirnya mampu menjalani hidup di mana uang bukan merupakan faktor utama dalam semua hal yang mereka lakukan.

Ketika saya renungkan, konsep ini mirip dengan konsep Komunitas Tangan Di Atas di mana para anggotanya didorong untuk saling berbagi ilmu, pengalaman, sarana, informasi, akses tanpa berlandaskan uang alias ikhlas dengan tujuan untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Saya menemukan semacam “klik” antara konsep Mark Boyle dan TDA ini. Meski pun, tentu saja, ide untuk hidup tanpa uang bukanlah tujuan kami. Tapi untuk menjadi “less depend” on it dan membangun sebuah komunitas berlandaskan kerja sama, trust dan rasa kasih sayang sesama anggotanya adalah sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar materi.

Oke, sampai di sini dulu sharing saya mengenai buku ini. Saya masih melakukan eksplorasi isinya. Nanti saya sambung lagi.

NB: Ide di buku ini insya Allah akan saya diskusikan bersama beberapa teman TDA di Citos besok pagi. Nongkrong di Citos tentu pakai uang🙂

Standar

4 thoughts on “Hidup Tanpa Uang, Mungkinkah?

  1. Salah satu aspek penting lagi adalah masalah kemandirian juga. Dengan memahami proses konsumsi ini kita bisa lebih manusiawi, lebih menyatu dengan alam, bahkan lebih jauh meningkatkan syukur kita pada Allah swt.

    Semoga pak roni bersedia untuk sharing lebih jauh lagi tentang cara ini #ngarep🙂

    Suka

  2. Di Singapura konon sedang marak barter. Tujuannya untuk menghindari tax. Kira-kira seperti ini, kita bekerja lantas kita minta dibayar dengan voucher belanja.🙂 Hampir mirip dengan yang dilakukan Boyle.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s