Business

Sumardy dan Peti Matinya

Pagi ini saya dikagetkan oleh berita dari istri saya yang didapatnya dari akun Twitter Detikcom. Sumardy, teman saya yang konsultan pemasaran itu kabarnya di tahan oleh polisi karena mengirimkan puluhan peti mati ke beberapa media dan individu.

Saya yang memang tidak memfollow akun-akun berita – apalagi menonton berita di TV – cukup kaget dan mulai menelusuri link-link berita di Twitter.

Perbuatan tidak menyenangkan. Sumardy kemungkinan akan dikenai pasal itu oleh aparat hukum.

“Keisengannya” ingin me-launching buku tentang “The Death of Advertising” melalui WOMM atau word of mouth marketing berbuah kontroversi. Sampai-sampai saya dengar kalangan istana pun berkomentar.

Beberapa waktu lalu saya pernah ditunjukkan contoh cover bukunya yang menggambarkan batu nisan. Saya pun memilih salah satu alternatif yang menurut saya menarik.

Dari segi WOMM atau buzz marketing, tujuannya tercapai. Tapi dampaknya, banyak pihak yang menyayangkan.

Terlepas dari tepat atau tidaknya perbuatan itu, saya tidak berkomentar. Saya mengenal Sumardy cukup dekat. Ia seorang yang pintar, banyak ide dan kreatif. Berdiskusi dengannya sangat mencerahkan saya. Semoga ia kuat dalam menyelesaikan persoalan ini.

Mengamati fenomena WOMM itu membuat saya mengingat beberapa kejadian belakangan ini yang kental nuansa WOMM-nya baik itu negatif atau pun positif.

Ada fenomena Udin Sedunie, Shinta – Jojo, Briptu Norman, Nazaruddin, @infomaicih, @holycowsteak (dua terakhir adalah produk yang ramai dan sukses di Twitter) membuat saya meyakini bawah WOMM itu terbukti bisa dijadikan alat untuk mengangkat popularitas dalam sekejap.

Para pemasar dan pemilik bisnis, tentu memimpikan produk atau jasanya bisa menjadi WOMM dan sekaligus sukses dalam penjualannya. Karena – tentu saja – WOMM itu tidak membutukan dirogohnya kocek dalam-dalam untuk membuat produknya dikenal dan dibicarakan orang.

Dulu ada Richard Branson yang setiap launching produk selalu dia buat sensasional, misalnya bertelanjang saat meluncurkan Virgin Mobile. Di Indonesia, orang pasti ingat saat Pak Tung Desem Waringin me-launching buku Marketing Revolution dengan membuat hujan uang dari pesawat dan sempat diliput media dalam dan luar negeri.

Pelajaran yang bisa diambil dari semua kejadian WOMM itu adalah kreativitas dan cara berpikir dan bertindak “out of the box” yang tidak dilakukan oleh orang “normal”.

Namun, setelah WOMM didapat, apa selanjutnya? WOMM adalah konteks, cara menyampaikannya. Kontennya sendiri haruslah layak dijadikan WOMM.

Banyak produk atau figur yang sukses dari WOMM tapi sekarang hilang dan dilupakan orang. Produknya tidak sustainable lantaran kontennya tidak di-upgrade.

Apakah orang masih akan mengelu-elukan Briptu Norman 2 sampai 5 tahun lagi? Saya yakin tidak, kalau kontennya tidak ia upgrade. Orang tentu akan bosan kalau disuguhi dengan Chaiyya-Chaiyya terus.

Shinta dan Jojo saya perhatikan sudah tidak kedengaran lagi. Ke mana mereka?

Agama, adalah salah satu fenomena WOMM yang sukses sepanjang masa. Kenapa bisa begitu? Karena agama memiliki konten yang betul-betul layak untuk disebarluaskan oleh semua orang yang telah merasakan “nikmatnya” nilai-nilai spiritualitas yang dibawanya.

Saya baru saja me-launching Batik Island, brand baru busana muslim batik kasual. Saya lagi berpikir keras bagaimana caranya agar produk saya ini bisa jadi WOMM.

Oke, saya mikir dulu ya.

Ada ide?

Standar

3 thoughts on “Sumardy dan Peti Matinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s