Business, Leadership

Pelajaran Kepemimpinan dari Jacob Oetama

Selesai memberikan seminar bisnis online di komunitas pembaca harian Warta Kota kemarin, saya ditawari untuk berkunjung ke kantor redaksinya.

Tentu saja tawaran ini saya sambut gembira. Apalagi setelah mendengar cerita dari pimpinannya, bahwa Warta Kota saat ini adalah koran kota bertiras terbesar saat ini, mengalahkan Poskota.

Padahal, selama 5 tahun pertama perjalanannya masih terseok-seok, belum ketemu polanya. Barulah di tahun keenam oplahnya naik drastis dari 30.000 sampai 220.000 per hari dan saat ini stabil di angka 170.000-an.

Bisnis media memang perlu nafas panjang, kata Pak Deddy, pimpinan Warta Kota.

Saat memasuki kantornya, saya bingung, karena kantornya sepi sekali. Hampir semua meja kosong tak berpenghuni.

“Di sini, ramainya setelah sore sampai tengah malam, Mas”, ujar Pak Deddy menjelaskan. “Saat ini awak kami sedang berburu berita, sore menulis laporan dan tengah malam naik cetak”.

Mengingat tak banyak yang bisa saya lihat di kantor yang kosong ini, saya pun berusaha menggali cerita tentang Pak Jacob Oetama, pendiri Grup Kompas Gramedia yang relatif tidak banyak saya ketahui ini.

Dari cerita Pak Deddy, saya bisa menarik kesimpulan bahwa Pak Jacob adalah figur pimpinan yang bijak, punya visi ke depan, peduli dengan karyawan dan juga seorang yang sangat sederhana.

Beliau adalah seorang visioner dan peduli dengan kemajuan bangsa. Kompas lahir tahun 60-an bersama beberapa koran lain yang sekarang sudah tidak terbit lagi kecuali Harian Merdeka.

Kenapa begitu? Karena sebagaian besar koran berafiliasi ke partai politik tertentu, sementara Kompas menghindari hal ini karena punya visi jangka panjang melampaui kepentingan politik sesaat. Visinya jauh ke depan untuk menjadi media yang membela kepentingan rakyat. Salah satunya dengan membuka banyak unit usaha yang menyerap banyak tenaga kerja.

Yang unik, dalam pengembangan bisnisnya, Kompas tidak mengandalkan hutang, melainkan modal sendiri. Prinsip inilah yang telah menyelamatkannya saat krisis moneter menghantam di tahun 97-98 lalu.

Pak Jacob sendiri adalah seorang yang sangat sederhana. “Kalau mau beli mobil selalu memilih Kijang. Kami sendiri sebagai karyawan malu melihat bos kami seperti itu”, ujar Pak Deddy. Kadang, karyawannya “memaksa” Pak Jacob untuk membeli mobil yang lebih baik seperti BMW. Pak Jacob selalu beralasan, Kijang pun sudah bagus kok, nyaman.

Begitu pun dengan rumah. Setelah “dipaksa” oleh karyawannya untuk membeli rumah yang lebih bagus, barulah Pak Jacob mau.

Hal ini berbanding terbalik dengan sikap Pak Jacob kepada karyawannya. Beliau begitu perhatian dengan mereka.

Pernah suatu hari seorang karyawan ditegurnya karena sepatu dan celananya terlihat kotor kena lumpur.

“Rumah kamu tinggal di gang becek ya?”, tanya beliau. Karyawan itu pun mengiyakan dengan tersipu. “Kalau punya rezeki tahun ini, pindah ke rumah yang lebih baik ya”, sambungnya. Kadang para karyawan harus “berbohong” kepada Pak Jacob dengan mengatakan rumahnya di kawasan elit, padahal di Perumnas.

Gaya kepemimpinan inilah yang membuat karyawannya begitu betah dan loyal bekerja di bawah pimpinan Pak Jacob.

Seorang karyawan senior bercerita bahwa ia pernah ditawari pindah ke perusahaan lain dengan iming-iming gaji lima kali lipat plus sebuah Mercy C-Class dan ditolaknya. “Saya tidak bekerja hanya untuk uang”, jawabnya.

Sudah menjadi pola di Kompas, bahwa karyawan yang bergabung karena uang, biasanya tidak lama dan akan pindah juga karena uang.

Grup Kompas sudah terbukti melalui beberapa dekade yang berat dan masih bertahan dan terus berkembang sampai sekarang.

Ini adalah perusahaan yang “great” menurut saya, mengutip istilah Jim Collins. Yang membedakan perusahaan good dan great seperti Kompas ini adalah visi, kepemimpinan dan budaya perusahaan yang kuat.

Terima kasih kepada Warta Kota yang telah memberi kesempatan untuk belajar. Sebetulnya saya diminta untuk memberi pelajaran kepada peserta seminar, sesungguhnya sayalah yang banyak belajar dari kunjungan ini.

Iklan
Standar

One thought on “Pelajaran Kepemimpinan dari Jacob Oetama

  1. Betul pak…saya sendiri mantan pegawai Kompas Gramedia merasakan itu..dan visinya yang tidak main-main yaitu mencerdaskan bangsa dengan menghasilkan produk-produk yang selalu berkualitas tanpa mementingkan profit semata.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s