Life

Alon-alon Maton Kelakon

Menjadi salah satu peserta diskusi membangun industri kreatif dalam ajang Pameran Produksi Kreatif Indonesia di JCC kemarin membuka kesempatan buat saya bertemu dengan orang-orang kreatif, orang-orang bergitu passsionate dengan apa yang dilakukannya.

Oleh Mas @mybothsides dan @ikbalrekarupa, saya dikenalkan dengan seorang kartunis dari Jogja, Mas @ismailsukribo. Bagi yang suka baca Kompas Minggu pasti tahu kartun Sukribo. Nah, dialah kartunisnya.

Kepada saya, ia memperkenalkan Rumah Pelancong, sebuah tempat bagi wisatawan untuk berbelanja suvenir Jogja dan sebagainya yang ia dirikan bersama Kafi Kurnia dengan konsep yang unik dan sangat Jogja yaitu: SLOW.

Sebuah pamflet dan bros bergambar kura-kura ia berikan kepada saya.

Isinya menarik. Semacam manifesto of slowness:

“Slow is a revolution, and alternative to our obsession with speed. You see more when you take things a little slower, like you notice every little detail when a film is shown in slow motion. Slow works to counteract fast life an the dissappearance of local traditions. In a loud, crowded, crazy world, it’s good for the soul to live life better by living slower”.

Saya suka banget dengan manifesto itu.

Sejak membaca buku In Praise of Slow-nya Carl Honore, saya mulai memperhatikan dan mempraktekkan gaya hidup slow yang nampaknya lebih cocok dengan saya.

Saya dari Minang, dengan latar budaya yang serba ‘speed’ dan penuh tekanan. Maklum, sebagian besar orang Minang hidup di rantau, dituntut untuk survive, mandiri dan sukses.

Menjadi seorang yang ‘slow’ adalah seperti membawa aib, dicap sebagai pemalas dan tidak produktif (saya dicap pemalas oleh orang tua).

Ternyata gaya hidup saya ini lebih cocok dengan gaya hidup ala Jogja yang serba slow dan menikmati hidup. Terbukti, banyak orang memilih Jogja sebagai tempat ideal untuk ditinggali. Jogja adalah daerah yang di Indonesia yang penduduknya paling banyak panjang umur.

Lantas, apakah dengan gaya hidup serba cepat seperti yang kita lihat di kota-kota besar sekarang ini menjamin kesuksan dan keseimbangan hidup? Belum tentu.

Saya mengambil jalan tengah. Sebagai orang bisnis dan orang Minang, saya tahu kapan harus menggunakan ‘speed’. Speed dan slow versi saya adalah seperti burung elang yang terbang berputar perlahan sambil mengincar ikan di permukaan laut. Ketika mangsa terlihat, ia akan mencaploknya dengan kecepatan tinggi.

Jadi, ada waktunya kapan harus slow dan kapan harus full speed.

Pada akhirnya, bukanlah soal speed atau slow. Tapi berjalan di jalan yang benar, mengikuti “kompas” hidup.

“Jangan salah ya Mas. Ada alon-alon WATON kelakon. Ada alon-alon MATON kelakon”, ujar Mas @ismailsukribo.

“Alon-alon WATON kelakon itu berjalan lambat tapi tanpa tujuan yang jelas. Sedangkan alon-alon MATON kelakon itu adalah berjalan di jalan yang benar, on the right path”.

Itu dia yang penting.

Standar

2 thoughts on “Alon-alon Maton Kelakon

  1. Ping-balik: Romantika Alon-alon Maton Kelakon « eudeart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s