Komunitas TDA, Life

Riana Chaidir, Pribadi yang Mempesona

Hujan deras menyambut kedatangan saya, @hantiar dan @hensyam di rumah duka saat takziyah tadi malam. Dua karangan bunga dari Komunitas @TanganDiAtas dan @tdajakbar teronggok di depan rumah sederhana di daerah Ciledug itu.

Riana Chaidir, terus terang saya baru mengenalnya beberapa minggu lalu saat menjenguknya di ruang HICU RS. Dharmais, Jakarta. Kanker payudara ganas telah membuat janda 2 anak ini tergeletak tak berdaya di ruang HICU RS. Dharmais.

Sejak itu saya teringat dengan sosok ini yang beberapa kali saya lihat hadir di acara-acara TDA. Salah satunya adalah saat @tdatangerang berkunjung ke Ponpes-nya Ust. Yusuf Mansur.

Sosoknya yang saya ingat adalah seorang yang begitu enerjik dan antusias. Selebih itu saya tidak tahu tentang almarhum.

Dari cerita Pak @Hantiar barulah saya sadar bahwa Bu Riana Chaidir ini adalah pribadi yang luar biasa, meski pun tak banyak yang mengenalnya di TDA.

“Ia paling rajin menyemangati teman-teman TDA yang buka lapak di Taman Mini”, kata Pak @Hantiar. Di TDA memang ada satu divisi namanya TDA KOMPAK atau Komando Lapak, yaitu teman-teman yang berjualan di tempat-tempat keramaian seperti di Taman Mini di hari Minggu pagi saat orang ramai berolah raga.

“Dari jam 04.30 dini hari Bu Riana sudah nongkrong di Taman Mini, jauh-jauh datang dari Jakarta Barat dengan motornya. Kehadirannya bukan untuk berjualan, tapi hanya untuk menyemangati teman-teman. Kadang ia menyilangkan motornya untuk “ngetek” lahan yang akan ditempati oleh teman-teman”, kenang Pak @Hantiar.

“Ia bahkan mau membantu mengangkati barang dagangan teman-teman.”

“Subhanallah”, ucap saya kagum.

“Bu Riana ini adalah sosok member TDA yang tidak terungkap ke permukaan. Jangan-jangan beliaulah yang lebih “mulia” dari pada kita-kita para founder dan aktivis TDA yang sering diekspos itu”, ujar saya.

“Kalau ada calon member baru, Bu Riana selalu dengan bersemangat menjelaskan apa dan bagaimana itu TDA. Setiap pagi ia rajin mengirim SMS atau pesan di Yahoo! Messenger yang isinya pesan-pesan motivasi. Nilai-nilai TDA sudah seperti mendarah daging di dalam dirinya”, lanjut Pak @Hantiar.

“Yang membuat saya terharu adalah beberapa bulan lalu Bu Riana berkirim email ke salah satu pengurus TDA. Isinya adalah untuk menitipkan anak-anaknya untuk dicarikan beasiswa. Mungkin beliau sudah punya firasat akan dipanggil olehNya.”

Mendengar cerita ini saya tertegun. Begitu besar harapan almarhum terhadap TDA sampai berbuat hal seperti itu. Saya jadi terpikir agar TDA bisa berbuat lebih jauh dari yang sudah dilakukan sekarang. Tidak semua member TDA itu berhasil, ada juga yang kurang beruntung. Saya berharap ada semacam yayasan atau lembaga yang bisa menyantuni keluarga member TDA yang kurang beruntung ini.

Anak-anak Bu Riana terlihat tabah dalam menghadapi ujian ini. Mungkin ini adalah hasil didikan dari almarhumah. Mereka menyampaikan terima kasih kepada teman-teman TDA yang telah banyak membantu meringankan biaya pengobatan selama di rumah sakit.

Kepada putri bungsunya yang baru lulus SMA itu saya berpesan agar sabar dan terus meneladani kebaikan-kebaikan yang telah dicontohkan oleh almarhumah ibunya.

Sungguh, terpesona dengan pribadi almarhum. Ia tidak banyak bicara, hanya berbuat dan berbuat kebaikan kepada siapa saja tanpa berharap namanya menjadi populer atau mendapat jabatan.

She is The Real TDA.

Selamat jalan Bu Riana. Saya tidak sempat mengenalmu lebih dekat. Namun dari cerita-cerita itu saya banyak belajar dan berintrospeksi diri.

Semoga arwahmu mendapat tempat terbaik di sisi Allah sesuai amal perbuatanmu. Amiiin.

Standar

2 thoughts on “Riana Chaidir, Pribadi yang Mempesona

  1. Ping-balik: Mengenang Ibu Riana Chaidir - emancipate yourself from mental slavery...

  2. Kak Riana adaah sahabat saya Pak Ronny, yg beliau ajak ngelapak di TMII itu juga salah satunya adalah saya. Mengenang kebaikan beliau memang tidak akan pernah habis. Semoga beliau sedang tersenyum di tempat terbaik di sana ya Pak. Aamiin..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s