Renungan

Teman-Teman yang Asyik di Social Media, Kembalilah Menulis Blog

Menjelang sahur saya disentil Pak @nukman lewat tulisan Jika Nyala Api Ngeblogmu Mulai Mengecil.

Saya tersadar, sudah lebih dari seminggu tidak meng-update blog.

Pagi menjelang siang, muncul postingan berjudul Blogging yang Mengering sebagai tanggapan tulisan yang menyentil itu.

Sebagai blogger yang namanya disebutkan dalam tulisan Pak Nukman itu, saya pun tersentil dan tergerak untuk menyampaikan semacam “hak jawab”.

Seingat saya, saya pernah menulis tentang kebiasaan saya ngeblog dan menyebut diri saya sebagai blogger “angot-angotan” alias tidak jelas jadwal ngeblognya.

Saya tidak termasuk blogger yang rutin menulis seminggu sekali seperti Mas Yodhia Antariksa, tidak juga yang rutin setiap hari seperti Pak Jamil Azzaini.

Saya ngeblog sesuka saya, tergantung mood, tergantung inspirasi atau ide yang tersedia.

Kalau lagi mood dan banyak ide, saya tidak hanya menulis sekali sehari, tapi bisa tiga kali sehari. Kalau mood dan ide lagi kendor, bisa seminggu sekali. Kalau sama sekali lagi “blank” bisa-bisa sebulan cuma memperoduksi satu tulisan saja🙂.

Tapi, saya beralasan dan tolong digarisbawahi bahwa saya adalah blogger yang konsisten untuk tetap menulis. Saya tidak pernah meninggalkan blog tak ter-update beberapa bulan seperti teman-teman angkatan saya yang sekarang lebih asyik di dunia social media (Facebook dan Twitter).

Social media memang mengasyikkan. Ibarat di terminal bis Pulogadung atau di pasar Kramatjati yang ramai, kita bisa berteriak apa saja, sebebas-bebasnya, sesering-seringnya, tak peduli ada yang mendengar atau tidak.

Karena pasar itu begitu ramai, teriakan kita itu pun segera lenyap oleh teriakan yang lain yang lebih baru dan lebih keras. Teriakan kita begitu mudahnya lenyap, menguap dan dilupakan.

Dari analogi itu saya berkesimpulan bahwa “teriakan” kita itu tetap butuh “rumah” di mana siapa saja yang tertarik dengan pemikiran kita bisa datang ke sana dan membacanya secara lebih utuh kapan saja ia memerlukannya. Di sana pemikiran-pemikiran kita disimpan diarsipkan dan bisa diakses oleh mereka yang tertarik.

Rumah itu adalah blog.

Alasan itulah yang sampai saat ini mempertahankan saya untuk tetap nge-blog. Tulisan-tulisan saya yang usianya sudah tahunan pun sampai sekarang masih dibaca oleh mereka yang membutuhkan. Dan saya pun senang jika tulisan itu bisa membantunya menemukan solusi yang sedang dicari.

Blogger di luar negeri, saya perhatikan perilakunya tidak berubah seperti di sini. Saya mengenal blog Seth Godin, Bob Bly, Steve Pavlina, Leo Babauta, Joe Vitale dan lain-lain jauh sebelum era Facebook dan Twitter. Namun, mereka tetap konsisten menulis di blog masing-masing sampai sekarang, tanpa terampas waktunya oleh Twitter cs. Mereka menjadi inspirasi saya.

Saya sendiri menaruh respek yang tinggi kepada blogger Indonesia yang masih aktif menulis sampai sekarang seperti Nukman Luthfie, Yodhia Antariksa, Ndorokakung, Pitra, Mbelgedez, Paman Tyo, Ollie, Budi Rahardjo dan Priyadi (yang kembali aktif menulis).

Namun saya juga prihatin dengan teman-teman di Komunitas saya, Komunitas TDA yang dulu aktif menulis tapi sekarang blognya sudah ditinggal kosong melompong.

Saya teringat pesan Bu Aisyah Aminy, seorang tokoh yang dihormati di kampung saya yang mengajak “Kembali ke Nagari, Kembali ke Surau”. Saya juga mengajak kepada teman-teman, khususnya member TDA, untuk kembali ngeblog, karena dari sanalah bendera TDA pertama kali dikibarkan.

Standar

14 thoughts on “Teman-Teman yang Asyik di Social Media, Kembalilah Menulis Blog

  1. Sdh seminggu ini sy mulai nulis blog lagi Pak, walaupun sebagian tulisan yg diposting adalah tulisan lama sy. Mudah2an sy bs jd blogger konsisten seperti Pak Roni dan teman2 lain yang masih aktif ngeblog…😉

    Suka

  2. Saya sudah insap hampir tiga bulan ini. Hampir tiap hari nulis. Makanya kalau searching Evi Indrawanto, blognya nyampah di internet. Ini memang gak konsisten. Tapi banyak alasan mengapa saya bikin beberapa blog baru. Salah satunya blog pribadi http://eviindrawanto.com suka ngehank (benar gak sih nulisnya) dan lemot. Jadi biar mood nulisnya gak hilang yah saya bikin saja blog baru (sprt akun ini) gratisan yang tampaknya jarang mengalami masalah

    Suka

  3. saya pernah 7 minggu absen blogwriting karena keasikan tweeting. tapi alhamdulillah sekarang sudah rutin ngeblog lagi😀 kalo FB, kebetulan saya gak begitu favorit. jadi gak sampe mengganggu aktivitas blogging.

    ngeblog mah beda ya sama tweeting. di blog tentunya bisa ngomong lbh banyak – panjang – lebar…. tapi tetap ter-arsip dan gampang mencarinya kalo-kalo dimasa depan butuh baca lagi. tapi tweeting mah ya jalan aja terus. sama-sama dijalanin lah, hehehe…

    salam kenal ya pak…..

    Suka

  4. saya juga pernah merasakan bahwa social media sedikit banyak telah memengaruhi keaktifan blog saya, tapi semoga kegiatan di social media dan ngeblog bisa saling proporsional, hhe

    Suka

  5. betul sekali, pak. hasrat utk ngeblog skrg banyak dialihkan utk soc-med. terutama di kalangan anak2 muda, di mana mereka lebih suka tweet dan like status ketimbang ngeblog. padahal ngeblog bisa merangsang kita utk berfikir dan kritis. jadi… jangan sia2kan bandwidht di kompiter kita hanya dgn fb dan twitter… mari ngeblog😀

    salam kenal dari saya

    Suka

  6. Ping-balik: Saya sedang Jatuh Cinta.. « Dari tukang Minyak Wangi ke Tukang Kopi

  7. padahal ngeblog itu mengasyikkan ya, Mas?
    saya juga angot-angotan ngeblog. tak sanggup meniru Paman Tyo, tapi terus berusaha melakukan updating, walau tak jelas periodenya.

    salam kenal…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s