Life

Serpihan Masa Lalu

Momen buka puasa bersama hari Sabtu kemarin adalah momen istimewa yang saya nantikan setahun sekali. Saya berbuka puasa di gedung SMPN 42 Pademangan, Jakarta Utara, bersama teman-teman alumni, para guru dan murid-murid.

Acaranya sendiri tidak menjadi perhatian kami. Kami berkumpul di belakang, ketawa-ketiwi, cerita apa saja, foto-foto.

Di sini saya merasa larut dengan masa lalu, bersatu kembali dengan serpihan jiwa saya yang sempat “terlepas” bertahun-tahun. Di sinilah “akar” saya bertumbuh. Dari sinilah “perjalanan” hidup saya dimulai.

Saya bertemu lagi dengan kawan-kawan lama, yang penampilannya tak jauh berbeda kecuali raut muka yang semakin menua. Tapi, tawa kami tetap lepas, gurauan kami tak berbeda, meski dunia kami sudah jauh berbeda.

Kami hadir dengan status masing-masing sebagai pengusaha, guru, karyawan bank, istri yang ikut suami di Washington, konsultan, disainer fashion, petualang backpacker…. Namun, di momen ini kami lepaskan semua status dan latar belakang itu dan larut sepenuhnya, menyatu dalam kenangan dan kenyataan bahwa kami berasal dari “akar” yang sama.

Satu hal yang menurut saya istimewa adalah bahwa acara buka puasa bersama ini tidak hanya dihadiri oleh mereka yang muslim saja. Tidak sedikit para alumni yang hadir dari agama lain dan dari suku lain. Muslim, non-muslim, orang Batak, Minang, Jawa, Sunda, Tionghoa, India, semua menyatu di sekolah negeri ini.

Sebuah kenyataan di negeri ini yang membuat saya prihatin adalah dengan semakin kuatnya kecenderungan untuk menunjukkan perbedaan dengan saling mempertentangkannya dan membuat “pagar”, bukannya saling membangun “jembatan” yang saling menyatukan.

Saya juga prihatin dengan beberapa teman yang saya undang namun enggan datang dengan berbagai alasan perbandingan diri. Ada yang beralasan kondisi ekonominya masih morat-marit. Ada yang beralasan “minder” karena belum punya mobil. Ada lagi yang enggan hadir karena mukanya kelihatan tua banget. Saya tidak ingin mengomentari teman-teman ini, karena itu adalah haknya untuk beralasan.

Perbandingan diri itu hanya menimbulkan rasa minder dan ketidakbahagiaan. Ada saatnya kita harus melepaskan diri dari perbandingan diri yang tidak menyehatkan jiwa seperti ini.

Kerinduan dengan serpihan masa lalu itu adalah fitrah manusia yang tak bisa ia ingkari. Sejauh apa pun kita melangkah, pastilah ada saat di mana kita harus mengukur kembali sejauh mana kita telah melangkah dan dari mana kita berasal.

Salah satu awal perjalanan hidup saya ada di SMPN 42 ini, di mana saya mulai belajar mengenal dunia yang lebih luas dengan segala dimensi dan perbedaan di dalamnya. Saya bersyukur telah belajar hal ini sejak awal dan menjadi bekal hidup sampai hari ini.

Standar

3 thoughts on “Serpihan Masa Lalu

  1. gewos berkata:

    gua bukan dari smp 42, tapi siapapun pasti merindukan saat2 spt itu. Karena masa lalu ngk mungkin terulang kembali.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s