Life

What Do You Really Really Want?

Sambil nunggu Vito dan Vino sekolah, tentunya waktu sayang dibuang begitu saja.

Kemarin, Mas @dedydahlan menjadi teman saya di Citos dan kami larut dalam perbincangan menarik soal passion.

Dedy Dahlan ini adalah seorang trainer muda dan penulis buku berjudul Passion yang sedang naik daun. Saya berkesempatan menuliskan endorsement di bukunya.

Satu hal yang saya sayangkan adalah, kami telah berkomunikasi cukup lama tapi hanya via email saja dan baru kali ini bisa bertemu muka..

Jalan hidupnya juga menarik. Ia datang dari keluarga dokter. Kedua orang tuanya dan semua saudaranya adalah dokter. Namun ia mengambil langkah berbeda, kuliah di jurusan seni rupa ITB dan sekarang telah menemukan passionnya di bidang training dan personal development. Sebuah jalan yang diambilnya dengan berani dan pastinya penuh tentangan.

Saya iri dengan orang-orang seperti ini. Saya iri dengan mereka yang telah menemukan passion-nya sejak dini.

Saya iri dengan Ikke Nurjanah, teman satu sekolah yang telah menemukan passion-nya menjadi penyanyi dangdut sejak SMP. Saya ingat ketika itu banyak teman yang meremehkannya. Sekarang, ia telah menjadi penyanyi dangdut papan atas.

Saya juga iri dengan Billy Tjong, teman sebangku di SMPN 42 yang kemarin bertemu saat acara buka puasa. Dulu kami punya hobi yang sama, menggambar. Bedanya, saya suka menggambar kartun dan dia suka menggambar wanita dengan busana yang modis. Sekarang ia menjadi perancang busana papan atas di negeri ini.

Membaca kisahnya di majalah SWA, ternyata ia sempat “nyasar” juga menjadi karyawan perbankan. Merasa itu bukanlah jalan hidupnya, ia mengambil keputusan berani, berhenti bekerja dan mengambil kursus disain dan fotografi.

Ibarat membuka kotak pandora, mulai dari situlah perjalanan suksesnya bermula. Ia mulai menjalani apa yang diistilahkan oleh Paulo Coelho sebagai “personal legend” atau istilahnya Nugie, “lentera jiwa”.

Menurut pakar pendidikan anak, Ayah Edy, idealnya seorang anak itu harus tahu apa yang ia mau sejak usia 13 tahun, sejak usia dini. Bagaimana dengan kita?

Beberapa bulan lalu, seorang teman curhat ke saya tentang pilihan hidupnya yang tengah di persimpangan. Di usianya yang sebaya dengan saya, ia belum tahu apa yang menjadi passion-nya.

Saya pikir, teman saya ini mewakili banyak di antara kita yang menjalani hidup tidak sejalan dengan passion-nya. Menjalani hidup hanya sekedar bertahan dan berkompromi (dengan lingkungan, orang tua, pasangan). Hidup dengan menjalani skenario yang dibuatkan oleh orang lain untuk kita. Hidup seperti ini tidak asyik. Seperti zombie, berjalan ke sana kemari tapi hatinya kosong.

Budaya kita di Indonesia memang cenderung kompromistis. Karena memenuhi keinginan orang tua, seorang anak akhirnya sekolah kedokteran, padahal ia inginnya menjadi pelukis. Kalau tidak diikuti, nanti bisa kualat. Nah, inilah dilemanya. Sementara di barat sana, anak-anak lebih dibebaskan untuk mengekspresikan keinginannya, meski sering bertentangan dengan keinginan orang tua mereka.

Salah seorang paman mengajak 3 orang putranya yang baru dan menjelang lulus kuliah menemui saya. Saya diminta memberi nasehat agar mereka bisa menjalani kehidupan yang sukses selepas kuliah.

Kepada mereka, saya hanya bertanya satu hal yang saya sebut “the ultimate question”. Apa yang kamu mau? What do you really really really want? Bukan keinginan orang tua, keinginan calon mertua, bukan keinginan orang lain.

Mereka bengong. Tapi jawaban atas pertanyaan itulah semuanya berawal. Dari jawaban itulah akan mengerucut kepada passion yang sebenarnya.

What do you really really want?

Standar

12 thoughts on “What Do You Really Really Want?

  1. Untunglah saya gak ikutan masuk gerbong orang tua yg ngatur masa depannya harus begini dan begitu. soalnya tahu benar gimana rasanya ngikuti passion orang lain ketimbang mendengar intuisi sendiri. saya tak ingin hal serupa terjadi pada mereka. really really nice notes ngku

    Suka

  2. Benar sekali pak rony, saudara saya ada seperti itu, di usia nya yang udah 25 tahun, segala nya masih mengikuti keinginan orang tua, bahkan keputusan untuk melanjutkan ke s2 pun atas perintah ortu, akibatnya dia ngga maksimal, pengen berhenti, tp takut. apa enak nya hidup model begini…

    Suka

  3. OK betul mas, kalau kita melakukanya dengan sessuai dengan pasion kita maka akan tersana indah menjalani hidup ini, thanks mas artikelnya menginspirasi..🙂

    Suka

  4. Dulu saya termasuk ke dalam golongan “keinginan orang tua”, itu karena saya tidak pernah tau “dunia luar”. Alhamdulillah..saya bisa lepas dari itu semua..

    Thx pak.. sangat menginspirasi saya…

    Suka

  5. Thanks pa.
    Saya baru berani mengambil keputusan mengikuti passion saya menjadi pengusaha setelah 15 th bekerja sbg karyawan. Better late then never🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s