Uncategorized

Meet The Natives

Salah satu program TV favorit saya di NatGeo Adventure adalah Meet The Natives, tentang orang-orang dari suku pedalaman yang diajak bertualang ke kota modern.

Kali ini adalah suku pedalaman dari Papua yang diajak berkelana di New York. Seru kan.

Jelas, mereka terpukau melihat kecanggihan kota dan penduduknya. Mereka kagum dengan lift, taksi, New York Stock Exchange, semuanya memukau mata mereka.

Mereka pun melontarkan komentar-komentar sederhana namun cerdas dan jujur.

“Wow, dengan kotak besi ini kita tidak perlu lagi memanjat”, ujar salah satu dari mereka saat naik lif.

Saat makan bersama di restoran, mereka berkomentar, “Di sini makanan dimasak oleh orang lain dan setiap orang punya selera berbeda-beda. Di tempat kami, kami masak bersama dengan makanan yang sama.”

Mereka sangat kagum dengan bursa saham New York. Tapi komentarnya, “Penduduk di sini begitu menomorsatukan uang.”

Mereka juga kaget ketika dibawa ke Central Park dan melihat seorang pengemis tua yang tidur di kursi taman, tidak punya rumah. Di kota yang begitu maju dan kaya ini kenapa ada pengemis tak punya rumah.

“Di tempat kami tidak ada yang tidak punya rumah. Ketika teman kami membutuhkan rumah, kami semua beramai-ramai membangunkan untuknya. Demikian juga sebaliknya.”

Saya teringat buku The Moneyless Man yang menulis bahwa salah satu kelemahan uang adalah ia menghilangkan kebersamaan dan gotong-royong.

Komentar-komentar polos itu buat saya adalah semacam kritik terhadap gaya hidup orang modern di kota besar, termasuk kritik terhadap obsesi manusia terhadap uang dan kapitalisme.

Saya melihat mereka adalah orang-orang yang bahagia “with their own way”, dengan versi dan cara mereka sendiri. Mereka tidak perlu diajari cara menjalankan hidup yang lebih baik, apalagi diajari cara untuk berbahagia. Mereka sudah memiliki semua itu.

Standar

2 thoughts on “Meet The Natives

  1. kondisi demikian mungkin masih dapat kita rasakan di desa desa beberapa waktu lampau, dimana kegiatan membangun rumah, bercocok tanam dilakun secara komunal, secara gotong royong, cukup dengan upah makan saja

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s