Uncategorized

Rugi di Minyak, Untung di Beras

Taktik dagang China ini selalu saya ingat dan sampai sekarang masih banyak bisnis yang mempraktekkannya.

Sebagai salah satu taktik dagang, cara ini biasa dipraktekkan. Untuk mendatangkan pembeli, sebuah toko kelontong memurahkan produk tertentu dengan harapan ada subsidi silang dari produk lain yang lebih menguntungkan. Misalnya, memurahkan harga beras, tapi mengambil untung di minyak goreng.

Kalau saya perhatikan, Air Asia model bisnisnya juga begitu. Dengan memurahkan tiket dalam jumlah tertentu, tapi mengambil untung di tiket harga normal atau yang premium, bagi penumpang yang “last minute” atau “go show”. Mereka juga dapat untung lumayan dari jualan makanan, minuman dan merchandise.

Kemarin, saya nonton Li Channel yang meliput sebuah restoran seafood yang punya cara marketing aneh. Restoran itu menerapkan model bisnis “all you can eat”, tapi semua menunya premium dan enak-enak. Dengan bayar 13.000 won per orang, pengunjung bebas memesan apa saja dan tambah berapa kali pun, sepuas-puasnya, sampai terkapar kekenyangan.

Pengunjung berjubel, harus pakai nomor antrian dan baru dapat meja setalah menunggu 30-60 menit.

“Makanannya enak sekali”, ujar pengunjung yang sudah nambah
berkali-kali. “Restoran ini pasti rugi, makanya kami pesan alkohol sampai mabuk.”

Nah, rahasia bisnisnya adalah di alkohol itu. Alkohol dijual terpisah, tidak gratis. Restoran itu ambil untung dari alkohol, bukan dari makanan. Pengunjung restoran yang makan dengan lahap dan terus nambah itu tentu merasa “nggak enak” merasa makannya belum lengkap tanpa alkohol.

Rasa “nggak enak” itulah yang dimanfaatkan restoran ini dan dijadikan sumber profit dari model bisnis “untung di beras, rugi di minyak” ini.

Standar

4 thoughts on “Rugi di Minyak, Untung di Beras

  1. Soal makan pastilah soal lidah yg harus dipuaskan terlebih dahulu, berikutnya adalah soal perut kenyang atau tidak kenyang.
    Restoran di atas menunjukan bahwa dengan makanan yang enak pasti pengunjung akan datang, dan akan lebih ramai kalau makanan tersebut “all you can eat”, kemudian untuk meraup keuntungan atau menutupi kerugian, restoran ini “bermain” di ranah minuman.
    Minuman merupakan kebutuhan (terutama pada saat orang makan), jadi tidak mungkin mereka tidak akan memesan minuman.

    Melihat tulisan pak Roni, sy lebih suka menyebutnya “Celah bisnis dalam berbisnis” ketimbang “untung di beras, rugi di minyak”šŸ˜€.
    Yang tentunya membutuhkan pemikiran yang cerdas dari action yang berkualitas.
    Terima kasih banyak pak Roni atas tulisannya,šŸ˜€

    salam sukses mulia
    wawah

    Suka

  2. Agar dapat untung, keuntungan dari berasnya harus bisa menutup ke rugian dari minyak..Begitu juga omset beras harus lebih besar dari dari minyak..Kalau salah hitung wah bakalan boncos…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s