Money and Investing

Ada Berapa Kartu Kredit di Dompet Anda?

Kalau pertanyaan itu diajukan ke saya, jawabannya adalah: tidak ada.

Ya, sejak beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk tidak menggunakan kartu kredit lagi dan menggantinya dengan kartu debit saja.

Kartu kredit itu banyak manfaatnya. Namun di balik manfaatnya itu terselip “racun” yang secara perlahan namun pasti akan mematikan siapa saja penggunanya yang salah kaprah.

Fungsi kartu kredit sebenarnya sebagai alat bayar, daripada membawa uang tunai, kan tidak aman. Kartu kredit bukan alat untuk berutang. Jadi, jika kita menggesek kemudian mencicil pembayarannya tiap bulan adalah salah. Seharusnya, setelah digesek harus segera dilunasi.

Penerbit kartu kredit mengambil keuntungan dari mereka yang salah menafsirkan fungsi kartu kredit sebagai alat berutang ini. Keuntungan itu berasal dari mereka yang lalai dan yang hanya mampu mencicil.

Fakta yang mengerikan saya baca beberapa waktu lalu bahwa nilai transaksi kartu kredit di Indonesia sudah mencapai Rp. 700 triliun, kejar-kejaran dengan kredit KPR dan otomotif. Ini angka yang berbahaya, menurut saya.

Kenaikan pendapatan per kapita orang Indonesia yang sekarang sudah mencapai USD 3.000 adalah prestasi monumental, itu adalah “sesuatu”. Tapi jika itu dibayang-bayangi oleh kenaikan utang kartu kredit sampai 700 miliar, “sesuatu” itu bisa menjadi sia-sia alias bubble.

Memang, konsumsi rakyat harus ditingkatkan untuk memutar roda perekonomian dan menghidupkan bisnis. Tapi harus dengan cara yang benar, bukan cara semu.

Kita harus belajar dari China ketimbang Amerika dalam hal financial literacy atau melek finansial. Paman Sam itu 90% dari pendapatannya adalah untuk bayar utang, sementara China hanya 7%. Indonesia, alhamdulillah masih 28%, termasuk aman.

Perilaku pemerintah ini diikuti oleh rakyatnya, tentu saja. Orang Amerika sangat gemar berutang. Gaya hidupnya besar pasak dari pada tiang. Mereka tidak bisa diajak hidup sederhana. Untuk buang air besar saja mereka butuh tisu yang diimpor dari Indonesia dengan membabat hutan Kalimantan.

Beda dengan China. Karena dulu biasa susah, kalau pun sekarang mereka sudah kaya, tapi tetap sederhana. Mereka sangat hati-hati dalam pengeluaran yang tidak produktif. Mereka gemar sekali menabung dan berinvestasi, sedikit dari penghasilan untuk dikonsumsi.

Untuk menjadi kaya, rumusnya gampang, besarkan pendapatan, kecilkan pengeluaran. Dari perbandingan di atas, kita orang Indonesia mau belajar dari yang mana?

Dari banyaknya kartu kredit di kantong kita, dari mudahnya kita menggesek kartu kredit untuk hal-hal yang konsumtif, jelaslah sebagian besar kita belajar dari siapa.

Standar

19 thoughts on “Ada Berapa Kartu Kredit di Dompet Anda?

  1. Benar pak…kartu kredit membuat orang lupa dgn kondisi keuangan sebenarnya. Kalau gesek kartu maka duit yg ada di dompet atau ATM hanya ilusi krn sesungguhnya tidak ada..Lebih baik memakai cash sehinggak kita tahu kondisi uang yang sebenarnya ada jadi bisa diatur dgn lebih baik..

    Suka

    • Betul, kartu kredit pada sebagian besar penggunanya menjadi ilusi. Seolah-olah mrk punya uang, seolah-olah ada jaminan keamanan, padahal yang aman itu adalah yg diusahakan sendiri, milik sendiri di tangan kita….

      Suka

  2. Saya masih punya KK dan kartu debit. Namun sejak suami berhenti kerja dan usaha sendiri langsung bijak menggunakannya..Soalnya bukan apa-apa, di tempat2 belanja kadang2 tak ada fasilitas debit🙂

    Suka

  3. Oki Baskoro berkata:

    Terima kasih atas sharing artikelnya, Pak Rony. Salam kenal. Tulisan Bapak insya Allah, kami nantikan karena penggunaan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti oleh saya pribadi walaupun saya baru-baru ini saja mengikuti artikel Bapak. Tetapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik. Semoga menjadi amal baik Bapak dan tetap semangat untuk sharing artikelnya yach, Pak.

    Suka

  4. Agust berkata:

    Kalau menurut Pak Roni bagaimana kalau kartu kredit digunakan untuk bisnis? misalnya untuk modal dengan tarik tunai/gestun dapat uang cash tapi dipotong 2.5% dan bayar lunas semua tagihan 40 hari berikutnya. Sedangkan uang tadi digunakan untuk modal usaha yang sudah pasti mendapatkan keuntungan 10%.

    Suka

  5. Sad Kurniati W berkata:

    Alhamdulillah dari awal sampai saat ini saya dan suami tidak pernah tergoda dengan kartu kredit walaupun banyak sekali yang sudah menawari kami, lebuh nyaman dengan kartu debit.

    Suka

  6. setuju pak, saya baru saja mau buat kartu kredit tapi itu lebih karena saya butuh untuk bisnis di internet. Jadi limitnya juga ga besar, hanya untuk membeli perlengkapan untuk memperkaya website yang saya kembangkan. Saya bingung kalau bayarnya tidak pakai kartu kredit, karena itu satu satunya pembayaran selain menggunakan paypal (paypal mahal biaya transfer ke bank-nya)🙂

    Suka

  7. gewos berkata:

    Gw ndiri pernah punya pengalaman kurang enak sma KK, bayangin gw sering keluar kota antara jakarta, madiun, surabaya hanya untuk menghindar dari para kolector yg so preman. Sekarang gw udah bersukur ngk kaye dulu, hidup gw lebih tenang usaha gw berkembang setahap demi setahap. Ayo ganyang KK!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s