Business, Life

2011

Beberapa motivator yang aktif di Twitter mulai banyak mengingatkan tentang akan berakhirnya tahun 2011 dengan pertanyaan, bagaimana dengan target anda di tahun ini? Kalau belum tercapai, masih ada waktu 31 hari lagi untuk mengejarnya.

Saya sepakat dengan pendapat ini. Target atau goal itu harus dikejar sampai – ibarat main sepakbola – peluit tanda berakhirnya permainan ditiup pada 31 Desember nanti.

Tahun ini, alhamdulillah, hidup saya cukup berwarna. Banyak hal baru yang saya coba tahun ini. Saya teringat kata-kata dari Paulo Coelho yang saya tulis di kaca kamar mandi: “Jika saya hidup sekali lagi, saya akan membuat lebih banyak kesalahan.”

Intinya, banyak orang yang di akhir hidupnya diliputi penyesalan justru karena kurang melakukan kesalahan, artinya kurang banyak bertindak mewujudkan apa keinginan dan cita-citanya.

Tahun ini saya meluncurkan 2 brand baru Batik Island dan Vinito Kids dari 3 brand yang direncanakan. Alhamdulillah, sesuatu yang baru bagi saya, petualangan baru, antusiasme baru, energi baru. Ibarat perjalanan baru, medan baru, saya menikmatinya, bukan semata karena tujuan akhirnya, tapi saya ingin menikmati prosesnya.

Ternyata, antusiasme itu hadir selalu di saat memulai sesuatu yang baru. Saya ingin merasakan hal itu. Buat sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bikin bisnis batik adalah sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan bisnis saya sebelumnya. So what?

Nyatanya, saya menikmati proses ini. Saya belajar lagi dari nol dengan mengosongkan pikiran saya, seperti gelas kosong. Saya telurusi jejak-jejak batik di Solo dan Jogja. Saya belajar prosesnya. Saya belajar local wisdom di baliknya. Kalau dari sisi bisnis, saya belum berhasil, tapi saya merasa sudah berhasil dalam konteks menikmati prosesnya.

Demikian juga dengan Vinito Kids yang notabene lahir dari pengamatan saya akan keseharian anak-anak kami yang masih balita. Kami berusaha menuangkan “style” mereka dalam bentuk produk yang diharapkan juga disukai oleh konsumen. Ini juga sesuatu yang baru. Saya belajar lagi dunia anak, riset, mengikuti fashion show, majalah, dan tren seputar anak.

Seru.

Hasilnya? Belum ada, karena masih tahap awal, masih menanam. Tapi seperti kasus Batik Island di atas, saya sudah menikmati hasilnya dalam bentuk intangible. Prosesnya itu tadi. Adrenalin yang bergejolak. Antusiasme yang memuncak. Serunya di situ.

Tahun ini saya juga mencoba belajar ilmu dan keterampilan-keterampilan baru seperti mengikuti training tentang mengelola keuangan, berinvestasi di saham dan sebagainya. Alhamdulillah, skill itu sudah didapat, tinggal diasah dengan praktek.

Saya juga mensyukuri bahwa “pohon” atau “benih” yang saya tanam tahun 2006 lalu dengan menggagas Komunitas TDA sudah semakin solid dan masif gerakannya. Ini sungguh “sesuatu” buat saya. “Ide besar” dari TDA sudah ditangkap di mana-mana dan makin banyak yang tergerak bergabung dan berkhidmat mewujudkan cita-cita bersama TDA.

Akhir tahun lalu saya mendapat inspirasi dari sebuah status di Twitter yang melontarkan ide untuk cuti liburan dengan keluarga minimal 3 kali setahun. Saya tertarik dengan ide ini dan disambut positif oleh istri. Orang tua dan mertua juga kami ajak dan mereka sangat senang dengan experience ini. Experience atau pengalaman itu lebih berharga dibanding hadiah benda, demikian kesimpulan sebuah survei.

Kalau dibilang semua target sudah tercapai, saya akui tidak juga. Masih banyak yang belum tercapai. Tapi saya tetap mensyukuri apa yang sudah dicapai.

Kita harus selalu mensyukuri apa yang sudah ada, sambil terus mendaki gunung yang belum ditaklukkan.

Terlalu banyak hal yang harus disyukuri daripada yang tidak. Makanya, saya tidak terlalu mempersoalkan target yang belum tercapai.

Dalam menetapkan target saya selalu mengacu kepada keseimbangan. Stephen Covey memberi pesan yang sangat mendalam buat saya tentang keseimbangan antar peran.

Upayakan target-target pencapaian anda itu seimbang satu sama lain. Bukan hanya satu aspek, tapi aspek lain tertinggal. Sukses itu adalah ketika semua aspek itu seimbang.

Covey membaginya ke dalam beberapa aspek, seperti sukses dalam peran sebagai: orang tua, suami/istri, kakak/adik, anak, anggota masyarakat, pebisnis/profesional.

Banyak orang yang sukses di satu dua peran, tapi jeblok di peran lain. Misalnya, ia sangat sukses sebagai pebisnis tapi gagal sebagai kepala keluarga atau suami. Semua peran itu, mau tidak mau, harus seimbang.

Saya selalu berusaha mengevaluasi “sukses” itu tidak dari kacamata saya atau dari satu sisi saja. Bagaimana menurut kacamata istri saya? Anak-anak saya? Orang tua saya? Mertua saya? Adik-adik saya? Tetangga saya? Keluarga dekat saya? Teman-teman saya? Jangan-jangan mereka justru berpendapat lain dan malah mencibir terhadap saya. Nah…

Menurut saya, itulah yang harus jadi acuan sukses kita. Harus multi dimensi, lengkap seimbang. Saya masih harus belajar banyak dalam hal ini.

Akhir tahun ini adalah momen me-review semuanya. Evaluasi apa yang kurang dan bagaimana supaya bisa lebih baik tahun depan. Waktunya masih ada untuk memperbaiki diri.

Nikmati, syukuri apa yang sudah dicapai saat ini. Apa yang sudah ada di tangan saat ini. Jangan terlalu membandingkan dengan orang lain. Syukuri apa yang sudah ada sambil terus mendaki gunung lain yang lebih tinggi.

Never wish that live were easier, but wish that you were better, kata Jim Rohn.

Standar

4 thoughts on “2011

  1. trims sharingnya uda Roni, saya masih ‘sedikit’ melakukan kesalahan … jadi belum terbentuk antibody yg kuat🙂

    Tahun ini bisnis saya sama seperti tahun sebelumnya, berantakan dan tidak mencapai target karena ngak focus (maklum masih amphibi) … 31 hari menuju akhir tahun bagi saya adalah … pluit sudah berbunyi permainan 2011 sudah selesai bagi saya … yg bisa dilakukan me-redefine kembali strategi untuk menggebrak di 2012.

    Salam sukses Uda Roni …

    Suka

  2. Alhamdulillah…
    Saya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki kondisi usaha yang sempat hancur lebur, kondisi rumah tangga yg sempat diujung tanduk, kondisi keuangan yg minus…..gelap rasanya menatap masa depan

    Hanya karena pertolongan Allah semata, kita pasrahkan semua permasalahan kepada-Nya. Akhirnya diakhir tahun 2011 ini setahap demi setahap mulai ada solusi perbaikan.

    Semoga di tahun 2012 semua impian bisa terwujud…Amien

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s