Business, Money and Investing, Peluang Bisnis

Apa pun Bisnisnya, Ujung-ujungnya Main Properti Juga

Apa pun makanannya, minumnya pasti Teh Botol.

Meski ini berawal dari slogan iklan, akhirnya ini menjadi semacam pepatah, dan mayoritas kita pasti menyetujuinya.

Di dunia bisnis, saya punya perspektif yang mirip dengan pepatah di atas. Apa pun bisnisnya, ujung-ujungnya ke properti juga. Baik dengan sengaja atau pun tidak sengaja.

Saya gemar mencari tahu tingkah polah, perilaku para orang sukses di bidang tertentu atau industri tertentu. Selain ingin tahu bagaimana mereka bisa sampai ke posisi itu, saya pun ingin tahu apa yang mereka lakukan setelah mencapai posisi itu.

Sebagian besar mereka ternyata punya pilihan yang sama, masuk ke properti, apakah sebagai investasi atau bisnis.

Tidak usah jauh-jauh, Pak Haji Alay “rajanya” garment di Tanah Abang itu kalau ditanya sekarang apa aktivitas utamanya, ya main properti.

Setelah sukses membangun ribuan kios dan menyewakannya di Tanah Abang, sekarang beliau merambah wilayah lain dan bahkan sampai ke Malaysia. Terakhir saya dapat kabar bahwa beliau sedang membangun perumahan elite di Kelantan.

Kerabat dekat saya yang juga “raja” di bisnis alat safety saya perhatikan juga semakin serius di bisnis properti. Tiap tahun ia membeli tanah dari kelebihan cash flow dari bisnisnya.

Ada lagi Pak Haji lain yang juga pemain besar garment dari Cipulir. Bisnis yang mengantarkannya kepada kebebasan finansial ini sudah diserahkan kepada anaknya. Sekarang kesibukannya adalah mencari rumah murah yang kemudian diperbaiki dan disewakan kepada Indomaret atau Alfamart.

Salah seorang famili jauh saya yang core business keluarganya adalah di bidang makanan, sekarang juga sedang agresif di bisnis properti. Bahkan ia sampai punya dua buah BlackBerry, yang satu untuk keperluan bisnis dan umum, yang satu khusus untuk urusan properti.

Salah satu pemain besar busana muslim di Indonesia saya ketahui sekarang juga sedang merambah ke bisnis properti. Model bisnis franchisenya “dikawinkan” dengan properti.

Salah satu brand besar di Matahari yang penjualannya selalu top five, juga melakukan hal yang sama. Setelah bisnisnya mapan, wilayah properti pun dirambahnya dengan membangun perumahan di berbagai lokasi.

Supplier bahan baku salah satu brand saya, Actual Basic, yang juga adalah pabrikan bahan terbesar di Indonesia juga punya perusahaan lain di bidang properti. Sekarang salah satu proyeknya adalah apartemen di Ancol.

Pertanyaannya, kenapa mereka semua main properti?

Bisa dimaklumi. Bisnis mereka sudah sampai skala “mentok” alias sudah sulit dikembangkan lagi. Kalau pun dikembangkan lagi atau di-reinvest, pertumbuhannya tidak signifikan. Sementara, mereka rata-rata punya cash flow berlimpah.

Pilihannya, selain merambah bisnis lain ya main properti.

Kalau masuk bisnis lain, tentu tidak mudah. Tidak semua orang yang mudah berpindah-pindah jenis bisnis dan menang di semua bisnis yang dimasukinya.

Beda dengan properti. Properti bisa dijadikan sarana investasi untuk melindungi nilai uang dan apresiasi, juga bisa dijadikan kendaraan bisnis lainnya. Kalau pun “rugi” dari sisi bisnisnya, nilai properti yang terus meningkat dapat menjadi pengamannya.

Tentu, ada syaratnya untuk terjun ke dunia ini. Selain harus kuasai ilmunya (bisa learning by doing) juga harus kuat pondasi keuangannya. Cash flownya sudah kuat sehingga tidak mengganggu bisnis utamanya.

Peluang bisnis properti tidak pernah habis. Selagi ada yang menikah dan punya anak, pasti properti akan terus diburu. Paling-paling ada siklus “koreksi” setiap 5 atau 10 sekali.

Apalagi hampir semua pakar dan pengamat menyimpulkan bahwa ekonomi Indonesia termasuk yang paling aduhai di ASEAN, bahkan di Asia di bawah China dan India. Ada 8-9 juta kelas menengah baru lahir tahun ini. Pendapatan per kapita sudah mencapai USD 3.000 dan akan menjadi 4.500 di tahun 2014.

Peluangnya besar sekali di bisnis apa pun. Termasuk properti.

NB: Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi dari pengamatan sederhana. Bisa jadi salah. “Don’t try this at home” tanpa ilmu dan bimbingan dari ahlinya🙂

NB 2: Hari ini selama 3 hari ke depan insya Allah saya akan mengikuti workshop How To Be Debt Free oleh Heppy Trenggono. Ini ilmu langka di Indonesia di tengah arus besar yang merayu kita untuk selalu berhutang.

Standar

9 thoughts on “Apa pun Bisnisnya, Ujung-ujungnya Main Properti Juga

  1. Ahmad Juaeni berkata:

    Mohon nanti bagi ilmu dr pak Heppy ya.

    Tulisan pak Roni selalu renyah dan nikmat.
    Semoga tetap diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus berbagi.

    Ahmad Juaeni
    Twit: @ajuaeni
    Kobe

    Suka

  2. Saya juga setuju kalau cashflow yg tak terpakai ditambatkan pada property. Bagaimanapun jumlah manusia selalu bertambah sementara lahan yah segitu-segitu saja. Tanah tidak akan pernah turun nilainya, even di era resesi sekalipun. Orang miskin tetap membutuhkan tempat tinggal. Dan alhamdulillah keluarga saya sudah melakukannya beberapa tahun lalu, walau bukan terletak di lokasi strategis, nilai tanahnya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun..Dan saya juga yakin, binis property tidak akan pernah terlalu crowded untuk dimasuki.

    Salam sukses Ngku🙂

    Suka

  3. sekali waktu TDA jarkarta timur sepertinya perlu juga ngadain seminar / training mengenai “how to start property business” sehingga ketika masuk ke bisnis properti tidak lagi learning by doing tapi sudah ada basic dan persiapannya. Terima kasih bos Roni atas tulisannya

    Suka

  4. Kalau ada kelebihan uang memang paling cocok dibentukkan property pak, kalaupun nggak bisa langsung disewakan minimal harga tanah pasti naik. itu juga sudah keuntungan…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s