Life, Minimalism

Un-digital

Menulis buku harian, membawa buku catatan di kantong celana adalah kebiasaan saya sejak kecil.

Menulis buku harian saya lakukan sejak SD (mungkin kelas 3). Membaca notes kecil dimulai sejak kuliah. Notes itu saya tulisi apa pun hal-hal yang saya gemari atau ide-ide yang terlintas. Juga gambar-gambar. Kumpulan tanda-tangan orang yang saya temui mulai musisi jazz (ada tanda tangan Chick Corea juga lho) sampai penulis seperti Emha Ainun Nadjib, kutipan-kutipan kata-kata bijak dari Bung Hatta sampai aktor film televisi Twin Peaks.

Saya pun punya buku agenda kegiatan sejak jaman kuliah yang saya tulis detail. Bahkan saya punya toko agenda langganan di Mangga Dua. Sejak membaca buku Seven Habits, saya makin “pintar” mengelola keseimbangan waktu dengan menandai setiap kegiatan dengan tanda kuadran I, II, III dan IV, sehingga saya bisa menelusuri apa saja yang saya lakukan minggu lalu, bulan lalu dan tahun lalu, apakah waktu dan kehidupan saya sudah seimbang atau tidak, apakah saya banyak menghabiskan waktu di area “urgent and important” atau “important but not urgent”.

Kebiasaan itu mulai hilang sejak saya mengenal gadget di awal tahun 2000-an saat saya membeli Pocket PC merek ViewSonic dan beralih ke HP dan sekarang dengan smartphone. Sejak itu kebiasaan menulis di buku notes, mencatat agenda di buku agenda pun hilang. Saya sudah tidak punya buku agenda lagi, buku notes kecil di kantong celana pun sudah saya buang jauh-jauh. Menulis dengan pena pun sangat jarang sekali. Paling-paling untuk menandatangai cek/giro saja.

Entah mengapa, awal tahun ini saya berpikiran untuk kembali menulis dengan pena dan membawa buku notes lagi di saku celana. Kalau ditelusuri, tentu ada kaitannya dengan seringnya saya membaca blog bertema gaya hidup minimalis dan kembali ke hal-hal yang telah lama ditinggalkan. Istilahnya simple living.

Ternyata asyik juga.

Belakangan saya malah makin asyik dengan kebiasaan “undigital” setelah mendalami mind mapping yang mensyaratkan untuk menulis, menggambar dengan spidol warna warni. Jadi di dalam tas saya sekarang selalu ada buku tulis yang besar dan spidol. Asyik juga.

Terakhir, saya malah dipaksa untuk menulis oleh Pak Heppy Trenggono saat workshop How To Be Debt Free beberapa minggu lalu. Para peserta diberikan buku tebal besar (sebesar map). Buku itu dinamai “accountability book”. Di buku itu kami diminta untuk menuliskan janji-janji, target-target, prioritas, ide-ide, rencana, dan apa saja yang terlintas dipikiran.

“Apa pun ide anda, harus dicatat. Kalau tidak, nanti lupa”, kata Pak Heppy menjelaskan. Masuk akal juga. Selama ini saya sering “mencatatnya” di otak saja. Sering hilang, karena lupa. Paling-paling mencatat di smartphone yang hampir pasti jarang dibuka lagi dan tenggelam dalam lautan notes lainnya.

Mencatat dengan tulisan di buku punya kelebihan karena di situ ada visual tulisan, gambar, yang terekam oleh otak dan pikiran bawah sadar. Apalagi kalau tulisan itu berwarna-warni atau dalam bentuk mind mapping.

“Kadang saya kaget sendiri, ketika membuka coretan-coretan lama di buku itu. Banyak yang jadi kenyataan”, lanjut Pak Heppy.

Memang ribet kalau ke mana-mana bawa buku, pena, dan harus dimasukkan ke tas. Tapi saya kok menikmatinya saat ini. Kembali ke dunia tulis menulis manual, undigital.

Standar

10 thoughts on “Un-digital

  1. menarik nih yg dilakuin pak roni, saat banyak orang (masih) menggunakan gadget sbg personal assistannya, pak roni malah “kembali ke kertas n pulpen” hehe😀

    btw, theme baru lg nih pak? kayaknya yg kmarin belum ada 2-3 bulan yah

    Suka

  2. yang pertama, saya lebih suka theme yang ini🙂
    kedua, saya juga merasakan perasaan bersalah yg serupa setelah meninggalkan buku catatan, sekarang sy punya 2 buku. 1 yg kecil untuk mencatat ide-ide tulisan dan 1 yg lebih besar untuk menggambar2. lets see, buku2 itu akan menjadi “sesuatu” 5 tahun depan

    Suka

  3. Norman BS berkata:

    Pak Roni,

    Sudah coba gadget yang ada pen-nya? Spt Sams*ng Galaxy Note atau HT* Flyer? Sptnya bisa memadukan yg tradisional dan modern…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s