Business

Starbucks, Sukses adalah Guru yang Buruk

Saya lagi baca buku Onward, karangan founder Starbucks, Howard Schlutz yang sekarang balik lagi jadi CEO setelah mundur di awal tahun 2000.

Kenapa balik lagi?

Ada satu kondisi di mana sang mantan CEO ini harus balik lagi lantaran “ngeri” dengan sukses yang telah diraih oleh Starbucks di bawah CEO generasi penerusnya.

Starbucks berekspansi ke segala penjuru dengan jumlah outlet berlipat-lipat. Penjualan kopi sudah mulai ditandingi oleh penjualan non kopi, seperti sandwich, CD, kue-kue dan sebagainya.

Proses pembuatan kopi semakin efisien sehingga kualitas seduhannya menjadi berkurang. Interaksi antara barista dan pelanggan pun jadi “garing” dan tidak seakrab dulu. Mesin penyeduh kopi dibuat tinggi sehingga menyulitkan komunikasi antara barista dengan pelanggan.

Pemanggang sandwich yang mengeluarkan bau keju yang keras telah merusak aroma kopi yang seharusnya menjadi ciri khas Starbuck Experience yang dibanggakan oleh Schultz.

Howard Schultz pun meradang.

Dan feelingnya sebagai founder ternyata betul. Kekhawatirannya terbukti dengan terus merosotnya penjualan di semua cabang yang akhirnya ikut menggerus harga sahamnya.

Ia bersitegang dengan sang CEO dan timnya yang menganggap semua pencapaian mereka belum pernah dicapai sebelumnya.

Schultz setuju, tapi Starbucks sudah kehilangan “soul”nya. Itu yang ia khawatirkan dan membuatnya terpaksa harus kembali jadi nakhoda kapal besar itu.

Success is lousy teacher. Sukses adalah guru yang buruk. Kesuksesan Starbucks membuatnya menjadi “rabun dekat”, tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam dirinya karena selama ini hanya fokus mengejar pencapaian kuantitatif. Hal-hal esensi yang sebenarnya adalah kunci keberadaan Starbucks telah dilupakan.

Menjual CD dan sandwich yang sukses luar biasa telah menggerus nilai-nilai Starbucks Experience yang dibangun foundernya sejak awal. Keuntungan jangka pendek memang didapat, tapi dalam jangka panjang belum tentu. Bahkan bisa jadi bencana.

Founder memang punya “mata ketiga” yang mampu melihat yang tak terlihat oleh orang lain. Bagaimana pun juga sang founder adalah ayah kandung dari Starbucks. Soul-nya ada di dia. Ia tahu – dengan mata ketiga nya – apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukannya.

Standar

9 thoughts on “Starbucks, Sukses adalah Guru yang Buruk

  1. Apa ini ada hubungannya dengan comfort zone, dimana Starbucks telah memasuki comfort zone nya sehingga mulai kehilangan arah dan soul nya??

    Pengalaman yg bermanfaat. Semoga bisnis kita tidam kehilangan arah. Semoga…

    Suka

  2. Saya menyangka, seni berada di Starbucks adalah menikmati kopi. Tapi belakangan saya melihat bahwa minum kopi nampaknya kurang lengkap jika tidak dibarengi dengan makan roti. Saya bertanya-tanya apakah itu hanya perasaan saya atau memang kopi Starbucks sebenarnya tidak istimewa-istimewa amat sampai harus pesan makanan segala untuk menikmatinya. Sebenarnya kita datang ke Starbucks untuk minum kopi atau hanya untuk menikmati duduk saja di sana?

    Suka

  3. dulu,di gerai pertama starbucks di Indonesia,barista wajib hafal favorite menu dari pelanggan. sekarang sudah seperti kasir supermarket.

    -mantan barista angkatan ke2-

    Suka

  4. Sama persis yang sedang saya alami, uda Roni… visi bisnis saya menekankan pada kualitas pelayanan, dari 1 outlet yg saya mulai di tahun 2008 telah menjadi 8 outlet dan bisa saya tinggal, ternyata saya perhatikan di tahun 2011 kualitas pelayanannya sudah sangat di bawah standar saya ketika masih pegang langsung, akibatnya awal februari ini saya kembali pegang langsung. Berarti buku Onward wajib saya baca, terima kasih sudah merekomendasikannya, Uda

    Suka

  5. Wahyu Awaludin berkata:

    perkataan Bill Gates dijadikan judul tulisan ini. Menarik. Tapi yang lebih menarik adalah pelajaran tentang zona nyaman ini..thanks, pak Roni..🙂

    Suka

  6. Terus terang Starbucks inspired me http://wp.me/pMw1i-t
    Memang benar, yg memuat saya tertarik nongkrong di SB adalah ketika masuk ke cafe nya, bau kopinya begitu semerbak🙂
    Mgkn Schultz benar, ddi beberapa gerai di Jakarta, terutama yg ramai pengunjung, Starbucks Experience yg jadi trade mark-nya tidak terasa lagi. Barista2nya terasa belagu dan jutek. Tidak tersedia wifi, atau kalau pun ada hanya 30 menit. Jika ingin perpanjang harus beli kopi lagi.
    Moga soul-nya Starbucks kembali lagi🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s