Books and Learning

Smart Worker, Jangan Tinggalkan Kerja Manual

Tadinya saya sama sekali tidak berniat membeli buku.

Saya hanya mengantarkan Vito untuk membeli buku sketsa kecil dan alat gambar, karena ia kelihatan mulai menyukai gambar-menggambar.

Saya sedang melakukan “diet beli buku” dan mulai mencicil hutang membacai buku-buku yang menumpuk di rak menunggu giliran.

Tapi buku berjudul Shop Class As Soulcraft ini begitu memikat rasa penasaran saya.

Buku ini mengingatkan kita, masyarakat modern, yang sudah meninggalkan kerja-kerja manual, kerja-kerja keterampilan tangan dan larut ke dalam dunia “knowledge worker”.

Saya akui, saya termasuk golongan itu. Golongan yang malas dan melupakan kerja-kerja manual.

Saya tidak tahu kapan terakhir saya membetulkan engsel pintu yang rusak.

Saya pun tidak ingat lagi kapan terakhir kali menggali tanah untuk menanam sesuatu.

Pemanas air sudah berbulan-bulan mati karena belum sempat menelpon tukang service.

Di salah satu sudut plafon rumah terbentuk noda hitam karena ada genteng yang bocor. Niat saya untuk naik mengecek ke atap selalu tertunda dan akhirnya berharap dengan kedatangan tukang langganan kami untuk sekalian membetulkan pegangan pintu yang rusak, saluran pipa yang mampet, beberapa titik lampu yang mati dan sebagainya.

Oya, rencana saya untuk mengecek pompa kolam juga belum kesampaian sampai sekarang.

Mengutak-atik mesin mobil? Pekerjaan ini sama sekali tidak pernah saya sentuh.

Sebagian besar pekerjaan-pekerjaan manual seperti ini saya andalkan kepada tukang ahlinya.

Saya memang tidak ada bakat untuk pekerjaan beginian, demikian “statement” saya sejak lama kepada diri sendiri.

Buku ini “menjewer” telinga saya untuk tidak berbangga diri dengan segala ketidakmampuan kerja manual ini.

Penulis, Mathew B. Crawford – seorang filusuf sekaligus mekanik bengkel – ingin menunjukkan betapa kerja-kerja manual berbasis pikiran dan keterampilan tangan sangatlah menyenangkan dan menghasilkan kepuasan intrinsik yang luar biasa.

Buku ini menawarkan gairah kemandirian di dunia modern di mana pendidikan diorientasikan sepenuhnya untuk mengubah individu menjadi “knowledge worker”.

“Buku yang sangat memikat tentang keunggukan manusia yang kurang dihargai dalam kehidupa masyarakat kontemporer”, demikian komentar Francis Fukuyama yang membuat saya semakin yakin untuk mengambil buku ini dari raknya.

Oke, sekarang saya tutup tulisan ini dengan beberapa rencana “kerja manual” saya yang sudah saya pikirkan sejak lama namun belum terlaksana atau belum secara konsisten dilakukan:

– Berkebun atau merawat tanaman

– Melukis

– Menulis jurnal (dengan pena dan buku tulis)

– Belajar memasak menu-menu yang saya sukai (simpel dan sehat)

– Fotografi (ini termasuk kerja manual atau digital ya?). Tapi proses hunting termasuk kerja manual

Tapi untuk kerja-kerja membetulkan genteng bocor, listrik, mesin mobil, AC, TV/komputer tetap tidaka akan saya masukkan dalam list ini🙂

Ternyata kerja-kerja seperti ini termasuk dalam “zen and the art of happiness” juga lho…

Standar

11 thoughts on “Smart Worker, Jangan Tinggalkan Kerja Manual

  1. juhanto berkata:

    This is it !, saat senggang saya suka utak-atik kayu entah membetulkan bangku yang
    rusak atau membuat baru bangku/meja sederhana, membetulkan gagang panci yang
    istri keluhkan, bahkan kadang2 membuat mainan dari kertas, kayu atau
    styrofoam walaupun hasilnya jauh dari bagus tapi ada perasaan puas dan bahagia.

    Thanks for sharing Pak Roni.

    Suka

  2. Yup betul ms roni kadang ada sesuatu yang kita lakukan dengan menggunakan cara manual dan secara tidak langsung kita akan merasakan hal yang berbeda, thanks bukunya bagus, di tunggu posting berikutnya🙂

    Suka

  3. Wah, harus baca nih! tapi emang benar, ketika kita berhasil melakukan pekerjaan2 manual/pekerjaan keterampilan tangan ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Misal benerin sendiri kancing yang lepas, memasak, menulis catatan harian, dan keterampilan2 lainnya:)

    Suka

  4. Rhanu berkata:

    Jadi teringat bapak saya. Setiap ada yg rusak2 pasti beliau coba benerin sendiri. Kalau dah mentok ya diberikan pada ahlinya..😀

    Suka

    • bunda syaimaa berkata:

      kalo teringat bapak ,,berarti anda belum seperti bapak ya,,,semoga kita bisa seperti beliau 2 yang luar biasa yaa mas rhanu…

      Suka

  5. Ping-balik: #8 Physically | Wahyu Awaludin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s