Perjalanan

Mudik ke Palembang

“Mudik Pak?”, demikian tegur seorang teman di Twitter saat saya update status tentang keberangkatan saya “mudik” ke Palembang.

Sebenarnya istilah mudik kurang tepat dikaitkan dengan kota Palembang. Palembang adalah sebuah kota besar, bahkan metropolitan, yang jauh dari kesan “udik” atau kampung.

Minimal 2 tahun sekali saya mengunjungi Palembang dan selalu terkesan dengan kemajuan ekonominya. Bandara internasional, jalan layang, kemacetan, mal-mal baru, hotel-hotel baru, PON, Sea Games adalah penanda kemajuan itu.

Saya pernah baca artikel tentang pertumbuhan dana pihak ketiga BCA tertinggi di Sumatera adalah di Sumatera Selatan, mengalahkan Riau dan Sumatera Utara yang selama ini menjadi juaranya.

Seorang teman yang bekerja di Toyota Astra bercerita tentang pertumbuhan penjualan tertinggi di luar pulau Jawa adalah di Sumsel.

Wilayah ini kaya sumber daya alam dan perkebunan seperti sawit, kopi, karet, batubara dan sebagainya. Itulah yang menjadi pendorong geliat ekonomi daerah ini.

Pusat-pusat perdagangan selalu ramai. Merek-merek apa pun yang lagi tren di Jakarta dengan cepat mengalir ke Palembang. Keluarga kami yang kebetulan banyak berdagang di pusat-pusat perdagangan ini merasakan sekali daya beli masyarakat yang tinggi di sini.

Ruko-ruko terus bertumbuh di setiap sudut jalan sehingga Palembang cocok digelari sebagai kota ruko. Harganya pun naik demikian cepat.

Jadi, meski saya tahun ini mudik ke Palembang, saya tidak merasakan mudik yang sesungguhnya. Buanglah jauh-jauh keinginan melihat sawah, sapi, dan petani di sini. Kota ini tak ubahnya seperti Jakarta atau Bandung, di mana setiap pelosoknya bertaburan gerai Pizza Hut, KFC, Mc Donald’s, Lotte Mart, Carrefour, Giant dan hotel-hotel seperti Novotel, Aston. Kalau pun ingin mencicipi makanan lokal, jaringan toko pempek modern yang mengepung hampir seluruh pelosok kota menjadi pilihannya: Pempek Candy, Pak Raden atau Nony.

Alhamdulillah, sehari sebelum lebaran, saya sempat bersilaturahim dan berbuka puasa bersama sekitar 20-an teman baru yang menyatakan keinginannya mendirikan TDA Palembang. Tentu saya sambut gembira keinginan ini mengingat Palembang adalah salah satu ikon Sumatera dan TDA “wajib” hadir di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti ini. Semoga segera terwujud.

Badroni Yuzirman
http://www.manetvision.com
http://www.roniyuzirman.com
@roniyuzirman

Standar

2 thoughts on “Mudik ke Palembang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s