Life, Mindset, Money and Investing, Wealth

Menunda Kenikmatan

Sebuah penelitian dilakukan kepada sekelompok anak-anak di tahun 60-an.

Mereka diberikan coklat. Mereka diperbolehkan untuk memakan coklat itu kapan saja. Tapi, bila mereka mau menunggu 30 menit, mereka akan dapat tambahan coklat 3 kali lipat.

Sebagian besar anak-anak itu langsung memakannya. Sebagian kecil menunggu 30 menit untuk dapat coklat 3 kali lipat.

30 tahun kemudian anak-anak itu diteliti lagi dan hasilnya, anak-anak yang mau menunda “kenikmatan” coklat itu lebih sukses, lebih kaya dan lebih bahagia daripada mereka yang langsung menikmati coklat.

Kesimpulannya, mereka yang sukses biasanya adalah yang mau menunda kenikmatan.

Kemarin saya bertamu ke rumah Pak Tung Desem Waringin. Sebelum bertemu, saya berbincang-bincang dengan Bu Yani, istrinya.

Kami sudah berteman sejak lama, sejak 2002, waktu jaman “susah” dulu.

Bu Yani dan Pak Tung dulu masih naik mobil Panther butut yang asapnya hitam mengepul. Saya dan istri masih di Tanah Abang, belum punya mobil, belum punya rumah.

Pak Tung sering “dilecehkan”, mengajari orang sukses kok dia sendiri belum sukses?

“Padahal sebenarnya kami mampu beli Mercy saat itu. Tapi buat apa? Nanti uang kami habis untuk itu”, tutur Bu Yani.

Kenyataannya sekarang, Pak Tung sudah kaya raya. Propertinya ada di mana-mana. Tapi gaya hidupnya saya perhatikan tidak banyak berubah.

Mobil yang nongkrong di rumah masih sama ketika saya berkunjung beberapa tahun lalu, Mercy Sport dan Alphard. Padahal, menurut saya Pak Tung mampu beli Ferrari atau sekelasnya.

Soal menunda kenikmatan, saya belajar banyak dari Pak Tung. Ia mempraktekkan apa yang diajarkannya.

Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup ya. Boleh. Tapi secukupnya. Gaya hidup kita harus bisa dibiayai oleh akumulasi aset yang produktif, bukan oleh hutang.

NB: Pak Tung insya Allah akan hadir sebagai salah satu pembicara di Pesta Wirausaha TDA 2013 di JCC nanti.

Badroni Yuzirman
http://www.manetvision.com
http://www.roniyuzirman.com
@roniyuzirman

Standar

5 thoughts on “Menunda Kenikmatan

  1. saya setuju dengan menunda kenikmatan, sebagai seorang muslim ini juga sudah diajarkan, mulai dari ibadah puasa, menahan syahwat untuk yang bukan haknya, menahan diri untuk berfoya-foya …namun sekarang ini malah dianggap kurang lifestyle, dianggap ndeso . saya dulu juga ikut arus istilah lifestyle gonta-ganti gadget, nongkrong dicafe2 untuk hanya ingin terlihat sukses & kaya, padahal orang yang sangat kaya dengan orang yang terlihat kaya jelas beda sekali.

    hal yang paling sederhana, dan lebih bermanfaat serta bisa menghemat kantong,akan ditinggalkan demi sebuah kata Life Style dan ingin terlihat seperti orang sukses & kaya

    wassalam
    anto malangbagus.com

    Suka

  2. Ping-balik: Menunda Kenikmatan | Lindiapalupi's Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s