Life, Minimalism

Mencoba Ide Baru, Collaborative Consumption

Sesungguhnya ini adalah ide lama di negeri kita.

Contohnya, budaya gotong-royong adalah asli warisan budaya nenek moyang kita yang dulu sering saya baca di buku pelajaran PMP.

Di kampung saya, dulu ketika satu warga membangun rumah tidak pakai jasa tukang bangunan, karena warga sekitar yang akan mengerjakannya secara gotong- royong.

Ketika ada hajatan, mereka tidak panggil jasa katering, tapi juga dikerjakan beramai-ramai bersama sanak famili dan tetangga.

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi pulau Tidore, Maluku Utara. Di sana ada yang namanya arisan rumah. Pemenang arisan uangnya untuk dibelikan bahan bangunan dan pembangunan rumah dikerjakan secara gotong royong oleh para tetangga.

Di suku pedalaman Papua, hasil tangkapan berburu dinikmati bersama warga satu desa.

Jadi, konsep collaborative consumption ini bukanlah ide baru di sini.

Tapi, ide ini jadi menarik perhatian saya karena saya sendiri memang ada kebutuhan untuk melakukannya. Contohnya seperti yang saya lakukan kemarin. Saya melakukan semacam “open house” mengundang siapa saja yang berminat dengan buku-buku saya yang jumlahnya ratusan yang sudah tidak ada tempat lagi untuk meletakkannya di rumah.

Koleksi buku saya sudah merambah sampai lemari dapur.

Jika saya beli beberapa buku lagi, sudah tidak ada tempat lagi untuk menampungnya.

Saya tertarik dengan salah satu wawancara dengan Paulo Coelho yang mengatakan bahwa ia membatasi jumlah buku koleksinya maksimal 400 saja. Kelebihannya akan ia berikan kepada siapa saja yang berminat. Setiap ia beli 10 buku misalnya, ia harus mengeluarkan 10 buku lama di perpustakaannya. Jadi garbage in garbage out.

“Setiap buku mempunyai journey-nya sendiri-sendiri,” kata penulis best seller The Alchemist ini.

Ini menarik dan saya coba terapkan. Sebelumnya saya sudah terapkan untuk pakaian saya. Hari ini saya sedang melakukannya untuk baju anak-anak. Saya juga sedang merayu istri untuk baju-bajunya.

Contoh di atas adalah salah satu sistem dari 3 sistem yang ditawarkan, yaitu:

1. Product service sytem. Contohnya, satu mobil dipakai beramai-ramai. Membaca buku di perpustakaan atau menyewa DVD adalah contoh lain.

2. Redistribution market, seperti yang saya lakukan beberapa waktu lalu, meredistribusi buku-buku yang tak terpakai untuk diambil manfaatnya oleh orang lain. Di rumah kita pasti ada barang-barang tak terpakai yang mungkin berguna untuk orang lain.

3. Collaborative lifestyle. Collaborative sudah menjadi mindset dan gaya hidup. Tidak hanya dalam mengkonsumsi saja, tapi juga aspek lain seperti berkomunitas dan berbisnis.

Menurut majalah TIME, ide collaborative consumption ini akan mengubah dunia.

Kita lihat saja nanti.

NB: Saat ini saya mencoba beberapa proyek kolaboratif dengan beberapa teman seperti membuat komik, buku, game dan sebagainya. Collaboration is the new currency!

Standar

6 thoughts on “Mencoba Ide Baru, Collaborative Consumption

    • LT Sen berkata:

      Betul, ini yg saya katakan sangat sulit ditengah badai penghancuran budaya negeri ini. Bagaimana cara yg baik untuk mengatasi nya?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s