Indonesiaku

Kelas Menengah dan Terbangnya Devisa

Kemarin Mas @yuswohady bikin tulisan yang menyiratkan kekhawatiran karena makin banyaknya kelas menengah negeri ini yang menerbangkan devisa ke luar negeri.

Contohnya banyak sekali, seperti konsumsi produk import, jalan-jalan ke luar negeri, konser-konser artis luar, berobat dan sebagainya. Saya pun bagian dari itu, tentu saja.

Beberapa waktu lalu Pak @sandiuno di forum Mentor TDA di Jogja juga menyiratkan kekhawatiran serupa.

Kelas menangah kita saat ini makin “genit” membelanjakan uangnya. Mereka tidak cukup lagi minum the merek Sari Wangi. Mereka lebih suka Lipton atau Dilmah.

Kalau semua ini terjadi secara massal dan menjadi arus utama belanja kelas menengah, jelas bisa gawat. Rupiah yang susah payah kita kumpulkan dengan ringan kita belanjakan ke dollar. Devisa melayang.

Beberapa bulan ini, saya sering jalan-jalan, sendiri maupun dengan keluarga. Saya menjelajah Makassar, Ternate, Lombok dan sekarang lagi di Anyer. Alhamdulillah, semuanya masih di dalam negeri.

Sempat berencana ke negeri jiran, tapi saya switch ke Lombok dan ternyata keluarga saya sangat puas dengan Lombok. Singapur, Malaysia kalah, kata mereka.

Cuma, seperti pendapat teman saya yang traveler sejati, jalan-jalan di Indonesia itu tidak lebih murah daripada ke luar negeri.

Pendapat dia tidak bisa saya sanggah. Jalan-jalan ke Lombok sebenarnya lebih mahal daripada ke Singapura atau Malaysia. Tiket pesawatnya saja sudah lebih mahal. Belum lagi hotel dan akomodasi lainnya.

Harga hotel dan makanan di Bandung bisa lebih mahal daripada di Kuala Lumpur. Makanya, seorang teman gemar sekali ke Penang karena alasan itu.

Mau ke Raja Ampat atau wisata di Indonesia timur? Silakan, asal siap merogoh kocek lebih dalam.

Nah, ini katanya masalah infrastruktur kita yang bobrok dan ketidaksiapan sistemik lainnya.

Ini juga menjelaskan kenapa jeruk Pontianak lebih mahal daripada jeruk Mandarin.

Rumit, memang.

Tapi, tetap kita harus melakukan pembelaan terhadap produk lokal dan pengusaha lokal. Kalau bukan kita, siapa lagi? Korea sebelum jaya seperti sekarang juga melakukan hal yang sama. Demikian juga Malaysia dan India.

Belilah produk Indonesia, karena akan menghidupi jutaan tenaga kerja dan wirausaha lokal. Kurangi uang kita yang melayang ke luar negeri. Kurangi saja, bukan stop sama sekali, karena kita adalah warga global ekonomi dunia.

Dalam konteks kecil di komunitas saya, TDA, sudah lama dikampanyekan program “Beli TDA”, membeli produk-produk dari member TDA.

Kalau bukan kita yang mendukung wirausaha Indonesia, siapa lagi? Pejabat atau nggota DPR yang pakai Hermes?

Kelas menengah juga harus punya nasionalisme. Yang paling konkret adalah dengan cara mengurangi terbangnya devisa dan memaksimalkan konsumsi produk lokal.

Badroni Yuzirman
http://www.manetvision.com
@roniyuzirman

Standar

5 thoughts on “Kelas Menengah dan Terbangnya Devisa

  1. LT Sen berkata:

    Ide ini akan sangat sangat sulit dijalankan. Sebab ini bukan masalah genitmya kelas menengah kita, tapi lebih merupakan masalah budaya kita yg sudah mulai terpinggirkan.

    Suka

  2. Kita harus memulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat…..
    Kalau kelas menengah sekarang jumlahnya terus meningkat, tentunya perlu dukungan oleh Pemerintah yg punya otoritas

    Sebagai gambaran saja, saat ini yg namanya Guru mulai masuk kelas menengah, sehingga sdh punya kebiasaan belanja produk luar bahkan sampai jalan2 ke LN

    Beli Produk Indonesia

    Suka

  3. Memang kita tidak bisa mengandalkan pemerintah, tapi tanpa campur tangan pemerintah yg membela produk negerinya sendiri sepertinya tidak mudah. Mungkin SBY sendiri sekarang lebih bangga dapat gelar dari Inggis darpada dapat gelar dari Kraton :p

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s