Business, Mindset

Penyesalan Terbesar

Seperti biasa, sebulan sekali saya mengadakan pertemuan dengan Kelompok Mentoring Bisnis (KMB) yang adalah salah satu program andalan Komunitas TDA.

Alhamdulillah, setelah berjalan setahunan, perkembangan anggota KMB saya cukup menggembirakan dan saya sendiri banyak mendapat insight bagus dari cerita-cerita sukses maupun gagal yang mereka sharing setiap kali pertemuan.

Kemarin, karena menjelang akhir tahun, saya meminta mereka menceritakan hal-hal apa saja yang dianggap penting yang menandai perjalanan bisnis masing-masing selama setahun.

Saya mengajukan satu pertanyaan lagi yang belum pernah saya tanyakan sebelumnya: apa hal yang disesali selama setahun ini?

Ada yang menyesali karena tidak fokus.

Ada yang menyesal tidak tegas terhadap timnya.

Pak Fajri yang berbisnis distribusi alat-alat medis punya cerita penyesalan yang cukup mengesankan saya.

Ia menyesali telah melepaskan sebuah peluang besar.

Ceritanya, perusahaannya pernah ditawari menjadi mitra sebuah produk MRI dari Singapura. Harga produk itu cukup mahal, Rp 8 miliaran per unitnya.

Ia ragu ketika itu. Perusahaannya masih kecil.

Bagaimana kalau orang Singapura itu nanti berkunjung ke kantornya yang masih sederhana?

Ia merasa minder.

Kesempatan itu dilepasnya.

Setahun kemudian ia bertemu dengan sebuah perusahaan kecil yang sekarang menjadi distritubor utama produk MRI itu. Dalam setahun perusahaan itu telah menjual 10 unit alat MRI itu. Sepuluh unit dikali Rp. 8 miliar. Delapan puluh miliar!

Perusahaan itu sendiri setahun lalu malah belum ada apa-apanya. Jauh lebih kecil daripada perusahaan miliknya. Hanya, perusahaan ini lebih percaya diri dalam mengambil peluang itu.

Saya jadi teringat dengan cerita tentang Pak Teddy Rachmat yang pada tahun 1998 punya kesempatan membeli seluruh saham Astra Internasional dengan harga sangat murah.

Kesempatan itu tidak diambilnya karena rasa takut mengalahkan keberaniannya. Hal yang sama nampaknya juga terjadi dengan teman TDA ini.

Tapi, kesempatan kedua biasanya selalu akan datang. Penyesalan itu terbayar ketika Pak Teddy melihat peluang dengan pola yang sama di Adira dan ia mengambil kesempatan itu tanpa ragu.

Mudah-mudahan teman ini belajar dari penyesalan ini dan suatu saat ia dapat mengambil peluang emas jika datang lagi di lain kesempatan.

Selalu ada kereta berikutnya yang akan lewat.

Bagaimana dengan anda?

Apa penyesalan terbesar anda tahun ini?

Standar

5 thoughts on “Penyesalan Terbesar

  1. 1. Saya tdak fkus pada dunia usaha sejak 2007,msh luntang lantung pindah kerja sana sni yg g jelas.saat ni sya mlai fokus pda usha kopi lanang.bru 6 blan ni merintis,meski gak mudah tp sya optmis buanget. 2. Tanya mas,bgman mengukur kemampuan qta dg pluang tawaran yg menjanjikan. Smentra keadaan financial belum memadai. Mkash jawbnny jazakumullah

    Suka

    • Jangan selalu mengukur dgn kemampuan saat ini. Coba gunakan imajinasi. Bagaimana kemungkinannya jika sy ambil peluang ini? Bagaimana caranya spy bisa? Ajukan pertanyaan2 yg membedayakan, bukan sebaliknya

      Suka

  2. Sepertinya saya terlalu banyak membuang waktu saya dengan percuma sehingga perkembangan bisnis dan usaha saya masih tetap seperti itu, semoga ditahun depan saya bisa lebih baik lagi
    pengalamannya bisa menjaid bahan pengajaran bagi saya dan semua, terima kasih atas sharingnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s