Books and Learning, Business, Life, Money and Investing

Masalah dengan Meniru

Karena beberapa pertimbangan, liburan akhir tahun anak-anak kali ini dihabiskan di rumah saja.

Pagi ini ada ide menarik dari Pak @jamilazzaini di blognya tentang liburan bertema. Kali ini tema liburan bersama keluarganya adalah fotografi. Anak-anak dibekali kamera dan mereka bebas mengeksplorasinya. Pak Jamil juga bahkan menyediakan fotografer profesional untuk membantu mereka plus ada iming-iming hadiah untuk hasil foto terbaik.

Terinspirasi dari ide itu, saya pun tidak mau kalah.

Liburan di rumah kali ini temanya adalah berkarya dengan melukis.

Saya menyediakan seperangkat alat lukis untuk Vito dan Vino. Mereka memang suka melukis di sekolahnya. Targetnya, di akhir liburan akan terkumpul banyak lukisan karya mereka. Liburan produktif. Setiap lukisan saya foto dan upload di blog mereka masing-masing, sebagai kenang-kenangan.

Mereka girang sekali dan saya selalu targetkan setiap haris harus ada karya lukis.

Pagi ini ada insight menarik dari perilaku mereka yang saya amati, terutama Vito, sang kakak.

Ia ingin menggambar Batman.

Disobeknya selembar kertas gambar dan mulailah ia menggambar Batman versi imajinasinya.

Ditariknya garis dengan pensil dengan penuh keyakinan tanpa ragu.

Hasilnya, memang mirip Batman tapi jauh berbeda dari aslinya. Batman karyanya lebih mirip tokoh kartun ketimbang super hero nan gagah. Plus ia tambahkan bibir yang tersenyum membuat tokoh gagah ini menjadi semakin lucu.

Saya biarkan saja ia dengan imajinasinya. Imajinasi itu selalu benar menurut keyakinannya.

Ide saya pun muncul untuk “membantunya” menggambar Batman yang “benar”.

Saya googling gambar Batman dan muncullah foto-foto yang keren. Vito terpukau dengan foto-foto itu. Ia seperti malu dan ragu dengan gambarnya yang sangat jauh dari Batman aslinya.

Mulailah ia menggambar Batman dengan meniru foto yang ada di layar iPad.

Baru beberapa tarikan garis, ia kecewa karena tidak mirip. Kertas dibuangnya dan disobek lagi kertas yang lain.

Kejadian berulang. Ia kembali merasa gagal menyamai objek yang ditirunya. Diganti lagi dengan kertas baru. Ia tampak tertekan.

Saya yakinkan ia bahwa gambarnya sudah benar. Tidak masalah kalau hasilnya beda. Ia menolak pendapat saya.

Mungkin ada 5 lembar kertas gambar yang terbuang sampai akhirnya ia menyerah dan meminta papanya yang menggambar.

Saya ikuti keinginannya dan hasilnya itu cukup membuatnya lega.

Apa yang saya pelajari dengan perilaku Vito ini?

Ketika ia tidak tahu bentuk asli Batman, ia menggambar dengan mengalir bebas tanpa tekanan. Ia menggunakan “mata” imajinasinya. Ia puas dengan hasilnya, karena tidak ada perbandingan dengan yang asli.

Namun ketika ia meniru dari gambar aslinya, masalah kepercayaan dirinya mulai runtuh. Ia tertekan untuk membuat gambar yang persis aslinya. Ia merasa gagal berdasarkan pedoman gambar yang dirujuknya.

Ini adalah masalah yang timbul karena meniru. Meniru artinya berusaha menyamai dengan aslinya. Meniru berarti menetapkan batasan bahwa hasil bagus atau sukses itu adalah seperti yang ditirunya.

Ketika tidak berhasil menyamainya, ia merasa gagal dan tertekan. Menggambar yang biasanya membuatnya hepi sekarang membuatnya tertekan.

Saya teringat dengan sebuah video dari Tom Peters, penulis buku legendaris In Search of Excellence itu.

Dalam salah satu bagian dari speech itu, ia membuat penyataan yang anti dengan benchmark atau studi banding.

Perusahaan yang biasa-biasa saja biasanya selalu menggunakan pendekatan ini dengan melakukan benchmarking dengan perusahaan yang hebat atau remarkable.

“Stop benchmarking!”, serunya.

“Perusahaan anda tidak akan menjadi hebat (remarkable) dengan mengikuti perusahaan yang sudah remarkable. Perusahaan yang remarkable itu hanya satu di industrinya. Lakukan hal lain yang berbeda”, ujarnya.

Dalam skala individu, pengamatan saya terhadap Vito pagi ini memperjelas pernyataan Tom Peters itu.

Lain kali Vito akan saya bebaskan menggambar apa saja sesuai imajinasinya.

Standar

3 thoughts on “Masalah dengan Meniru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s