Books and Learning, Indonesiaku, Mindset

Pendidik yang Memberi Semangat

Ada seorang teman SMA saya yang cukup sukses dengan bisnis biro jasa.

Saya tanya, bagaimana dan mengapa dia menjalani bisnis ini.

Jawabannya di luar dugaan saya.

“Habis gimana gue mau ngelamar kerja, matematika gue dikasih nilai 4 sama guru xxx”, jawabnya.

Rupanya nilai jeblok dan memalukan itu memuatnya minder untuk melamar kerja.

Cerita teman ini menurut saya mewakili banyak teman saya yang lain yang kebetulan mendapat nilai buruk di sekolah maupun di kuliah. Nilai jelek ini membuat mereka malu untuk melamar ke mana-mana dan akhirnya “terdampar” menjadi wirausaha atau self employee.

Beberapa bulan lalu saya membaca artikel menarik dari Pak @Rhenald_Kasali tentang budaya di kalangan pendidik kita yang suka memberi nilai yang men-discourage muridnya.

Hal berbeda dirasakan Pak Rhenald ketika anaknya sekolah di Amerika. Beliau tahu bahwa kemampuan bahasa Inggris anaknya masih pas-pasan, tapi makalah karyanya malah diberi ganjaran nilai ekselen oleh gurunya.

Selidik punya selidik, ternyata di sana memang budayanya seperti itu. Pendidik memberi penilaian dengan pertimbangan aspek psikologis untuk membuat murid tambah bersemangat belajar, bukan sebaliknya seperti di negeri kita.

Bagi pembaca yang seusia saya, pasti ingat Pak Tino Sidin yang selalu memuji setiap gambar yang dikirim dengan komentar “bagus!”, padahal nyata-nyata gambar itu tidak bagus sebetulnya.

Saya pun membayangkan pengalaman saya sekolah dulu di mana ada masa-masa “keemasan”, artinya prestasi sekolah bagus dan ada masa-masa “kegelapan” di saat nilai jeblok.

Saya menarik benang merah dengan semua itu, bahwa saat masa keemasan itu kondisi psikologis saya positif dan bersemangat, hubungan dengan guru dekat. Figur guru di masa keemasan itu juga selalu memberi semangat saya untuk belajar.

Berbeda dengan saat masa kegelapan. Nilai jeblok, berbanding lurus dengan kedekatan dan sikap guru terhadap saya. Biasanya gurunya itu killer, tidak dekat dengan murid dan suka menakut-nakuti.

Saya dan teman-teman saya adalah produk dari pendekatan pendidik masa lalu dengan segala plus minusnya. Saya berharap hal yang lebih baik akan diperoleh oleh anak-anak saya dan generasinya. Apalagi dengan akan dimulainya kurikulum 2013 nanti.

Saya yakin banyak guru yang berkualitas seperti Bu Muslimah di sekolah miskin di Belitong itu. Dan juga guru bahasa Indonesia yang mencerahkan Ikal dan temannya untuk berani bermimpi sekolah di Perancis.

Iklan
Standar

5 thoughts on “Pendidik yang Memberi Semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s