Indonesiaku, Minimalism, Simplicity

Kota Terbaik di Dunia, Apa Kriterianya?

Majalah Monocle edisi Juli Agustus 2013 memuat daftar 25 kota terbaik untuk ditinggali dan bekerja.

Sepuluh besar kota terbaik itu adalah:
1. Kopenhagen
2. Melbourne
3. Helsinki
4. Tokyo
5. Vienna
6. Zurich
7. Stockholm
8. Munich
9. Sydney
10. Auckland

Apa saja yang menjadi kriteria penilaiannya?

Di antaranya adalah: tingkat kriminalitas yang rendah, suhu udara dan temperatur yang bersahabat, toleransi di antara penduduknya, tingkat pengangguran yang rendah, aspek budaya (jumlah bioskop, galeri seni, gedung teater, panggung musik), jumlah toko buku, luas area hijau, lalu lintas, kemudahan untuk warga untuk makan bersama di udara terbuka, dan beberapa hal yang sebenarnya intangible, tidak berwujud fisik.

Misalnya di soal lalu lintas di Kopenhagen, yang dinilai tinggi adalah kondisi warganya yang 50% suka bersepeda ketimbang kendaraan roda empat. Ini sangat membuat iri saya sebagai warga Jakarta yang hobi bersepeda.

Ilustrasi fotonya sangat membuat iri di mana terlihat warganya berkerumun naik sepeda dengan lambat, berpakaian bagus dan sambil tertawa-tawa.

Di Jakarta, ini sangat sulit. Jangankan tertawa, berhenti sebentar saja harus khawatir diserempet. Membuka mulut itu “haram” karena akan menghirup polusi yang berat.

Saya menemukan bahwa kriteria penilaiannya bukanlah soal berapa banyak mal tersedia, berapa banyak mobil berlalu lalang, berapa banyak gedung modern berdiri. Bukan, bukan itu. Yang dinilai justru yang berdampak langsung kepada kebahagiaan warganya.

Yang dinilai adalah bagaimana warga bisa mengakses sarana-sarana publik dengan bebas, nyaman dan gratis. Selepas lelah bersepeda mereka bisa duduk di kedai kopi berharga murah sambil bercengkerama dengan sejawatnya atau sekedar membaca novel favorit.

Hal sederhana seperti ini terasa mahal di Jakarta. Untuk mendapatkan “kemewahan” dasar seperti ini orang Jakarta harus mendatangi mal dan berjuang melintasi macet dan sulitnya mencari parkir.

Kesimpulan saya, kota-kota yang berkualitas, berbudaya dan manusiawi adalah kota yang bisa membahagiakan warganya tak peduli golongan ekonominya. Mereka bisa mengakses pantai dengan gratis. Mereka bisa mengakses taman-taman kota dengan mudah karena tersedia di mana-mana. Mereka bisa terkoneksi secara fisik (bukan secara virtual) dengan mudah dengan siapa saja tanpa harus berpikir seribu kali untuk bertemu karena halangan macet.

Ini adalah kualitas kota yang manusiawi dan berbudaya. Bukan kota yang pembangunannya hanya berpihak kepada golongan berpunya.

20130719-140942.jpg

Standar

3 thoughts on “Kota Terbaik di Dunia, Apa Kriterianya?

  1. Saya sependapat bahwa penilaian terbaik adalah yang berdampak langsung kepada kebahagiaan warganya. Sehingga tidak membuat warganya stress / cemas tinggal di kota tersebut.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s