Indonesiaku, Life, Mindset, Minimalism, Simplicity

Lho, Memangnya Kenapa?

Ada anekdot menarik disampaikan Mas Arief Budiman @mybotsides saat sharing di @pestawirausaha @tangandiatas 2013 lalu.

Ia menceritakan “sisi lain” dari saya.

Ceritanya ia berkunjung ke rumah saya. Kami bercerita ngalor ngidul tentang banyak hal menarik. Kami banyak kesamaan, salah satunya tentang gaya hidup minimalis dan simplicity.

Saya pun “memamerkan” kondisi rumah yang minimalis. Minim perabot dan segala aksesorisnya.

Saat pulang, kebetulan supir saya sedang mengantarkan anak-anak sekolah. Saya pun mengantarkannya ke jalan besar untuk mencari taksi. Karena agak sulit, saya menyarankan untuk naik angkot dulu sampai ke jalan raya yang banyak taksi lewat. Saya menemaninya di angkot dan melanjutkan perbincangan kami sampai turun di jalan raya.

Ternyata prosesi itu membuat Mas Arief begitu terkesan dan diceritakannya di forum yang dihadiri banyak orang itu.

Ia menceritakan kekagetannya ketika mendapati saya naik angkot bersamanya.

Lho, apa yang salah dengan naik angkot?

Dalam pikirannya, seorang pengusaha dan pendiri TDA seperti saya mestinya gaya hidupnya “wah”, yang mewakili citranya selama ini. Naik angkot itu sesuatu yang “tidak pantas”.

Saya jawab, “Lho, memangnya kenapa?”

Mungkin karena ingin membalas perlakuan saya di Jakarta, ketika menyambanginya di Jogja ia pun memperlakukan saya dengan memboncengi saya naik motor.

“Lho, memangnya kenapa naik motor?”

Hal-hal terkait pantas atau tidak itu sebenarnya adalah konstruksi sosial. Semacam ada “kesepakatan” sosial bahwa pengusaha sukses itu harus naik mobil mewah, artis itu harus glamor, pejabat itu harus dikawal ajudan, istri pejabat harus jadi sosialita dan sebagainya. Itu kan label atau pencitraan yang di bangun oleh masyarakat dan “ditunggangi” oleh kepentingan bisnis.

Ketika ada segelintir di antara orang yang dicitrakan itu berlaku sebaliknya, maka dianggap aneh.

Contohnya, Jokowi yang perilakunya sering menentang arus itu sering jadi perbincangan. Ia dengan enteng makan bersama orang kebanyakan di warteg, nonton konser kelas festival, dan hal-hal yang tidak wajar dilakukan oleh pejabat.

Ketika jawaban saya adalah: “Lho, memangnya kenapa?”, Mas Arief cuma nyengir dan tidak bisa menjawab.

Dan memang tidak kenapa-kenapa.

20130721-144419.jpg

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s